PDT. WEINATA SAIRIN: DENGAN SABAR DAN MENAHAN DIRI MENGUKIR KARYA TIADA HENTI

0
635

 

 

“Sustine et abstine._

Bersabarlah dan menahan dirilah.”

 

Dalam buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia tahun 1950-an, dibagian-bagian halaman yang kosong selalu diisi dengan teks kutipan peribahasa atau pepatah. Misalnya “Time is money” atau “Orang sabar di kasihani Tuhan”. Menempatkan kalimat yang berisi  pepatah dalam lembaran buku teks pelajaran seperti itu bukan saja dimaksudkan agar para murid (serta orang tua mereka) lebih diperkaya pemikirannya lewat ungkapan peribahasa/pepatah tetapi juga ingin membahani para guru agar isi peribahasa itu dijadikan sumber pembelajaran dalam melaksanakan tugas mereka sebagai guru. Biasanya Bpk atau Ibu Guru dalam pidato rutin didepan kelas sebelum mengawali pelajaran, menyampaikan nasihat berdasarkan peribahasa/pepatah itu dan semua murid di kelas itu mendengarkannya dengan penuh perhatian.

 

Manusia yang hidup ditengah zaman yang sedang berubah memang acap mengalami turbulensi, guncangan hebat yang berdampak besar terhadap perjalanan hidup. Pada zaman baheula orang tua kita secara sporadis bercerita kepada kita betapa sulitnya menjalani kehidupan disaat-saat perang kemerdekaan. Bahan makanan pokok sulit diperoleh, sehingga sering terjadi di zaman itu para orang tua kita tidak bisa menikmati makanan yang standar, mereka makan apa adanya, tanpa nasi dan tanpa lauk pauk yang memadai.

 

Hal yang membuat kita bahagia mendengar kisah kesulitan hidup yang dialami orangtua kita di zaman perang kemerdekaan adalah bahwa wajah/raut muka mereka pada waktu bercerita itu, tak tergores suasana sedih atau rasa penyesalan. Mereka bercerita dengan bangga dan memahami kesulitan hidup yang mereka alami itu sebagai “bagian dan kontribusi” bagi kemerdekaan bangsa. Walaupun pemahaman itu terasa agak “lebay” dan bombas namun jika difikirkan lebih jauh memang ada benarnya.

 

Semua warga bangsa dari berbagai latarbelakang suku, agama, ras dan golongan telah ikut serta mengambil bagian dalam mengusir penjajah, dan mewujudkan kemerdekaan. Itulah sebabnya pernyataan seorang menteri Orba seolah ada warga bangsa yang naik gerbong NKRI tanpa tiket, adalah sebuah pernyataan *a historis* dan bahkan cenderung sebuah pelecehan.

 

Orangtua kita berkisah bahwa dalam menghadapi kehidupan yang sulit diperlukan sikap yang *sabar* dan  *menahan diri*. Sabar artinya tahan uji, tekun, konsisten, tidak terpancing emosi, tidak terpengaruh, tidak complain dan menerima apa adanya. Jika pada saat itu beras sulit didapat, dan ketela/ubi kayu bisa di konsumsi ya lakukan saja hal itu. Ketela, ubi kayu/singkong atau gadung konon saat sulit ekonomi di zaman itu acap dikonsumsi sebagai pengganti nasi. Sikap menahan diri di zaman itu menurut ayah ibu tidak saja dalam konteks menahan keinginan untuk mengkonsumsi makanan yang standar tetapi juga menahan diri dalam hal mengucapkan kata-kata yang bisa melukai hati orang lain.

 

Bagaimana “orang-orang besar” zaman dulu mengelola sikap sabar dalam hidup mereka ? Epictetus pernah memberi saran kepada murid-muridnya sebagai berikut. Jika kau ingin mengobati amarahmu jangan memberinya _makan_. Kau harus katakan pada dirimu sendiri : “Aku pernah marah sepanjang hari; lalu setiap hari; sekarang hanya hari ketiga atau keempat”. Jika kau sudah mencapai hari yang ketiga puluh, berikanlah persembahan sebagai rasa syukur kepada Tuhan !

 

Memang ada banyak cara agar kita bisa bersabar dan menahan amarah dan hal itu memerlukan latihan dan pembiasaan. Mahatma Gandhi pernah menempel tulisan di dinding kamarnya, “Bila kau benar kau mampu menjaga amarahmu. Namun bila kau salah kau tidak mampu menghilangkan amarahmu”.

 

Pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini mengingatkan kita agar kita bersabar dan menahan diri dalan menjalani kehidupan. Agama-agama dan Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa memiliki banyak sekali ayat yang mengingatkan perlunya kita bersabar dan menahan diri.

 

Memang persoalan pokok bukan ada atau tidak, sedikit atau banyak ayat kitab suci yang bicara soal kesabaran dan menahan diri. Persoalan fundamental adalah apakah kita umat beragama telah mempraktikkkan hal itu dalam kehidupan kita masing-masing?

 

Sabar dan menahan diri tidak hanya penting bagi orang-orang di zaman baheula tetapi tetap urgen bagi manusia zaman sekarang. Semua pihak terpanggil untuk sabar dan menahan diri. Sabar terhadap istri, suami, anak, menantu, guru, dosen  pembimbing, anggota parlemen, birokrat, tukang ojek, grab, sopir bus way. Bahkan kita sabar kepada cucu yang sehari penuh gunakan HP kita untuk main game dan  browsing beberapa aplikasi yang kontennya bukan lagi untuk anak.

 

Kita juga harus sabar karena melalui Pilkada serentak ternyata kehidupan demokrasi kita belum mencerminkan kedewasaan yang makin mantap, kehidupan berpolitik juga belum mengalami kemajuan yang berarti. Kita harus makin sabar dan menahan diri karena medsos mengumbar hal-hal vulgar bahkan cenderung meghujat banyak pihak. Kita bersabar dan menahan diri teradap maraknya OTT, adanya konflk, terorisme, pembunuhan, perdagangan orang, intoleransi, kejahatan seksual trhadap perempuan dan anak dsb dsb.

 

Kita harus bersabar dan menahan diri sampai akhir hayat bahkan hingga akhir sejarah. Namun pada waktu yang tepat kita harus bertindak agar dunia tidak makin tenggelam dalam kegiiaan!

 

Selamat berjuang. God bless

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here