PDT. WEINATA SAIRIN : MEMBERITAKAN KABAR KESUKAAN DITENGAH PERUBAHAN

0
885

 

 

“Tidak jauh dari tempat itu ada tanah milik Gubernur pulau itu. Gubernur itu namanya Publius. Ia menyambut kami dan menjamu kami dengan ramahnya selama tiga hari. Ketika itu ayah Publius terbaring karena sakit demam dan disentri. Paulus masuk ke kamarnya ia berdoa serta menumpangkan tangan keatasnya dan menyembuhkan dia”_ (KPR 28:7, 8)

 

Narasi-narasi seputar aktivitas pemberitaan Injil yang terjadi pada abad-abad pertama, di era Gereja mula-mula sangat interesan untuk dikaji ulang dari berbagai aspek : baik dari segi pembawa berita maupun penerima berita, juga konteks sosiologis-politis yang tengah dihidupi. Agaknya kajian komprehensif seprti itu lebih memberi makna untuk di analisis bersama dalam sebuah forum nasional yang bicara tentang strategi pekabaran Injil dalam konteks Indonesia yang majemuk. Kesamaan pemahaman tentang apa itu Injil, bentuk-bentuk pekabaran Injil dalam era digital, cara pekabaran Injil dan hal-hal fundamental lainnya yang sudah menjadi bagian dari visi misi Gereja akan semakin mendapat visi teologisnya yang aplikabel dengan merefer pada kesaksian KPR seputar pekabaran Injil di zamannya.

 

Umat kita dari seluruh denominasi yang ada mesti membaca hasil Konferensi Pekabaran Injil di Brastagi belum lama ini, sehingga pergumulan umat pada aras grass root (akar padi) dalam mengartikulasikan nilai-nilai Injil melalui sikap dan perbuatan mereka mendapat penguatan teologis dan informasi yang elaboratif dan komprehensif.

 

Gerak dan dinamika Pekabaran Injil yang ditampilkan figur Paulus sebagaimana kita simak dari KPR benar-benar menakjubkan. Allah memegang dan mengendalikan Paulus secara real, baik dalam membakar semangatnya dari dalam, maupun dalam dialog langsung dengan dirinya (KPR 23:11). Dalam perjalanan PInya Paulus memberikan kesaksian bagaimana proses ia berjumpa dan ditangkap oleh Allah (vide : KPR 26 : 12-23)

 

Cara Allah “menangkap” seseorang itu amat beragam dan tentu itu sesuai dengan _kairos_ dan _skenario keselamatan_ yang Allah miliki. Ada yang model Paulus, yang semula niat dan gerakannya berkobar-kobar untuk melibas penganut agama Kristen. Kemudian kita tahu sesudah ia “ditangkap” Allah bahkan hingga ia *buta* beberapa saat lamanya, Allah berdialog dengan dia dan akhirnya ia beriman kepada Yesus Kristus bahkan  ia menjadi penginjil, menobatkan banyak orang menjadi Kristen.

 

Ada orang yang percaya kepada Kristus melalui KKR KPI, melalui buku-buku, melalui seni, melalui berbagai aktivitas pelayanan, penginjilan pribadi, dan sebagainya. Ada yang percaya dan menerima Kristus oleh karena perkawinan. Semua jalan, proses yang dialami oleh seseorang hingga ia berlutut dan percaya kepada Kristus, tidak selalu mudah dan ringan. Dari pengalaman empirik kita mendapat begitu banyak info tentang penolakan terhadap anggota keluarga yang kemudian mnjadi pengikut Kristus; yang berdampak pada pemutusan sebagai anggota keluarga, kehilangan warisan, dan sebagainya.

 

Perjuangan Paulus dalam memberitakan  Injil sesudah ia “ditangkap” Allah, amat signifikan. Semua perjalanan dan aktivitas PInya diberitakan nyaris lengkap dalam KPR. Sesudah pertobatannya (KPR 9:1-19a) ia memang benar benar berubah dari seorang yang mengejar dan melakukan persekusi terhadap umat Kristen ia menjadi penginjil yang berani, ia berani bicara kepada penguasa, ia tak takut ancaman dan penjara. Banyak orang yang mengikut Kristus, mereka meninggalkan agama mereka yang lama yaitu menyembah patung dewi Artemis di kuil-kuil. Akibatnya produsen patung Artemis bernama Demetrius memprovokasi masa

melawan Paulus ( KPR 19:21-40)

 

Paulus berani menginjili Raja Agripa ketika mereka bertemu, walau Paulus disebut *gila* oleh Raja Festus sang Penguasa. Dalam dialog itu Agripa mengaku “hampir saja kau yakinkan aku menjadi orang Kristen” (KPR 26:24 Dst). Kemampuan dan kepiawaian Paulus dalam berdebat memang sukar ditandingi oleh banyak orang di zaman termasuk oleh para penguasa.

 

Ia beriman tangguh, ia berdedikasi, ia pandai berapologetika, ia clever dalam melihat sutuasi, ia juga mampu membina relasi dan networking dengan banyak pihak.

 

Dalam kunjungannya ke pulau Malta ( KPR 28 : 1-10) ia dan rombongan menerima sambutan hangat dan hospitality yang membanggakan. Di pulau itu mereka disambut khusus oleh Gubernur Publius dengan jamuan dan bisa tinggal 3 hari disitu atas fasilitasi Gubernur. Mungkin sudah terdengar kabar bahwa tim Paulus akan datang ke pulau itu. Bisa saja intelijen Gubernur sudah amat piawai dalam mendeteksi tamu-tamu yang akan datang dengan profil mereka masing-masing. Itulah sebabnya ayah Publius yang sedang terkena disentri dan demam langsung dilawat Paulus di kamarnya, dan di doakan serta ditumpangi tangan.

 

Doa dan penumpangan tangan Paulus sangat manjur (melebihi _diatab_ dan _paracetamol_) sehingga ayah Publius langsung sembuh, dan kemudian banyak orang sakit di pulau itu disembuhkan.

 

Didalam PL kita bertemu cerita tentang berkat dengan penumpangan tangan (mis Bil 8:1-10). Berkat dengan penumpangan tangan berarti permohonan berkat kepada Allah agar seseorang yang menerima berkat itu hidup damai sejahtera. Dalam Lukas 4 : 40 Yesus meletakkan tanganNya atas orang sakit sehingga orang itu disembuhkan. Dalam rangka seseorang akan maju untuk menjadi pejabat,kita pernah melihat ia didoakan oleh pendeta dengan berkat dan penumpangan tangan. Hal itu mungkin saja  terjadi berdasarkan policy sesuatu Gereja.

 

Bacaan dari KPR, khususnya Fasal 28 : 7 -8 banyak memberi inspirasi bagi kita Gereja yang hidup di era digital. Pribadi Paulus yang teguh, kukuh, tangguh, strateginya dalam menginjili berbagai kelompok orang, karunia penyembuhan yang ia terima dari Allah semuanya integral menjadi powerfull dalam tugas penginjilannya, dengan visi jelas dan dukungan yang diperoleh dari Tim.

 

Selamat Merayakan Hari Minggu. God bless.

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here