PDT. WEINATA SAIRIN: *MENANTIKAN WAKTU TUHAN MENGUKIR PELAYANAN*.

0
392

 

 

_”Fugit irreparabile tempus. Waktu berlari terus dan tidak akan kembali”_

 

Manusia hidup dalam sebuah rentangan waktu. Selama 24 jam ia mencoba menorehkan karya, membuat sejarah baru, jatuh bangun di dalamnya. Manusia modern mengukur seluruh aktivitas hidupnya dalam satuan waktu. Ia punya sejenis _rundown_ yang baku dan standar, apa yang mesti dilakukannya sejak pagi buta hingga mentari terbenam. Manusia yang profesional akan selalu melakukan kalkulasi waktu. Apakah waktu yang tersedia itu efektif dan optimal digunakan untuk mengekspresikan diri. Sejak lama manusia yang hidup dalam budaya modern telah memiliki pepatah _Time is money_. Artinya _waktu_ bukanlah hanya soal mengitung detik-menit, di dalam waktu ada banyak hal terakomodasi : ideologi, politik, budaya, ekonomi, *fulus* dan lain sebagainya.

 

Dalam perspektif umat beragama, waktu di fahami sebagai anugerah Tuhan. Di dalam waktu itulah manusia mewujudkan dan mengekspresikan dirinya sebagai makhluk yang Tuhan cipta, manusia menyembah Tuhan yang ketentuan detilnya diatur dan ditetapkan oleh setiap agama dan umat Berkepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa. Manusia beragama memilah waktu dalam arti _chronos_ dan waktu dalam arti _kairos_. Chronos, adalah waktu manusia, artinya waktu yang diagendakan manusia untuk melakukan aktivitasnya secara rutin.Kairos, adalah ‘waktu Tuhan’, yaitu waktu yang Tuhan tetapkan berdasarkan ‘hak prerogatif’Nya untuk bertindak. Kairos tidak bisa dipantau dan atau di deteksi dengan sistem IT tercanggih buatan manusia. Manusia hanya menunggu, berharap dalam iman dan doa, kapan kairos Tuhan yang berlimpah kasih setia itu terjadi.

 

Manusia yang hidup didalam waktu mesti sensitif dan faham terhadap kecenderungan dan perkembangan peradaban yang sedang terjadi. Tanpa daya sensitifitas dan daya _inkuiri_ yang tinggi manusia tidak mampu hidup dan berkontribusi bagi zamannya. Kita acap mendengar bahwa zaman kita ini yang ditandai dengan marak dan canggihnya dunia digital, disebut  *Zaman Now*. Zaman Now seringkali juga digunakan untuk menjustifikasi berbagai hal yang  menyimpang dari yang standar, termasuk perilaku negatif. Hal seperti ini yag harus kita cermati secara kritis. Menurut beberapa literatur, pada era 2020-2030 dalam prediksi BKKBN RI ada sekitar 70% warga kita berada pada usia produktif yaitu antara 15-64; dan 30 % berada pada usia non produktif yaitu 14 tahun ke bawah dan 65 tahun keatas. Itulah sebabnya era 2020-2030 negeri ini akan mengalami bonus demografi yang mesti dikelola dengan baik.

Baca juga  YESUS TETAP SETIA 

 

Kita yang sudah makin uzur sekarang ini hidup bersama dan atau menghadapi sebuah generasi yang disebut *Generasi Milenial*. Menurut peneliti kita mengenal 4 generasi yaitu Generasi Baby Boom (1943-1960); Generasi X ( 1961-1981); Generasi Y atau Milenial (1982-2004); Generasi Z (sejak 2005). Itu berarti Generasi Milenial (Y) memasuki usia sangat produktif yaitu 16-38 tahun.

 

Generasi Milenial amat akrab dengan media sosial, bahkan mereka berbisnis, berinteraksi dengan banyak kalangan lewat media sosial. Hidup mereka nyaris menyatu dan tergantung pada gadget mereka. Bahasa, gaya hidup mereka amat spesifik dibanding generasi sebelumnya. Lembaga keagamaan mesti menggunakan pendekatan yang tepat sehingga mereka tidak melarikan diri dari agama dan kemudian “menahbiskan” agama baru yang menurut mereka lebih simpel.

 

Inilah “waktu” mereka, generasi milenial yang hidup ditengah zaman digital dengan berbagai dampak yang ditimbulkannya. Waktu akan berlari terus dan tak akan kembali. Kita harus mengisi dan memanfaatkan waktu yang ada secara optimal untuk melakukan hal-hal positif bagi bangsa dan negara. Agama-agama harus makin menampilkan peran sebagai nabi di zamannya yang kritis dan tidak terbelenggu establishment. Ia harus memberi visi bagi bangsa ini.

 

Agama-agama tidak boleh membisu dan membutakan diri atau _ignore_ terhadap berbagai peristiwa yang mencederai kemanusiaan. Agama-agama tidak boleh terkooptasi oleh kekuasaan dan hsrus tetap menjaga jarak dengan politik praktis. Kita hidup didalam waktu, kita mesti memberi roh positif bagi sang waktu. Tak ada pilihan lain.

 

Selamat berjuang. God bless

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here