PDT. WEINATA SAIRIN: *HIDUP MELAYANI, HIDUP SUKACITA TANPA JEDA*

0
371

 

 

“I slept and dreamt that life was joy. I awoke and saw that life was service. I acted and behold service was joy”. (R. Tagore)

 

Sebenarnya jika kita renungkan lebih mendalam, melalui sebuah refleksi yang kontemplatif, hidup itu amat indah, amazing dan memiliki spektrum yang amat luas. Hidup, makna dan hakikatnya tak akan cukup ditangkap dari satu perspektif, sebuah angle tapi mesti “dishoot” dari banyak angle. Kita fahami bersama bahwa manusia, makhluk mulia yang  diberi mandat oleh Tuhan untuk hidup dan memanage bumi ciptaan Allah, adalah manusia yang memiliki “dimensi ganda” atau ” hakikat rangkap”. Manusia terdiri atas aspek fisik dan non-fisik, yaitu aspek rohani dan akali. Manusia pada satu sisi adalah benda, material. Ia memiliki tubuh, fisikal, yang menempati ruang dan waktu, sama seperti benda-benda lainnya. Namun pada sisi lain, manusia memiliki kehidupan spiritual-intelektual, dalam konteks itulah manusia adalah makhluk “tertinggi” dibanding makhluk lainnya. Hakikat kedirian manusia yang _dualitas_ dan rangkap itu amat jelas diungkapkan eksplisit oleh pemimpin agama pada saat dilakukan upacara pemakaman, yang fisik akan kembali kepada tanah, yang rohani akan kembali kepada Sang Maha Pencipta.

 

Banyak orang, para tokoh, ahli, filsuf yang mencoba memberi definisi tentang apa itu *hidup* dan atau *kehidupan*. Semua definisi itu tidak ada yang salah, oleh karena setiap orang memberi definisi berdasarkan perspektifnya. Namun hal yang amat penting dicatat adalah bahwa hidup yang maha luas itu tidak akan pernah bisa ditangkap secara utuh penuh dan sempurna. Ada yang memahami hidup hanya dalam perspektif sekuler saja, tak ada urusannya dengan hal-hal agama yang bersifat sakral dan transendental. Itulah sebabnya slogannya adalah bagaimana menikmati hidup sepuas-puasnya “hari ini” karena esok kita akan mati”. Kehadiran agama-agama/kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa mengubah secara signifikan pandangan dan pemaknaan manusia terhadap “hidup”.

Baca juga  Jangan Takut Dan Bimbang

 

Hidup bukan sekadar hadir kini dan disini, hidup adalah masa “berinvestasi kebajikan” demi hidup yang lebih baik di keakanan. Oleh karena itu hidup mesti ditata dengan lebih baik, harus punya *niat baik*, harus meninggalkan semua *hasrat* yang aneh-aneh yang melawan hukum, yang bertentangan dengan agama; sehingga kita bisa hidup lebih tenang, enjoy, jauh dari OTT,  jauh dari semerbak sabu dan incaran densus. Agama dan ajaran agama tak boleh dibiarkan hanya menjadi status pribadi dan yang kadang memisahkan kita dengan yang lain yang berbeda status. Ajaran agama harus menjadi nafas, roh, _ruach_, spirit dan habitus dari tiap-tiap kita, sehingga kita selalu dicerahkan dan dicerdaskan dalam menjalani kehidupan.

 

Rabindrabath Tagore mengungkap 3 kata kunci yang penting dalam konteks kehidupan yaitu “hidup adalah kegembiraan”, “hidup adalah pelayanan” dan “pelayanan adalah kegembiraan”. Tagore yang lahir di Calcutta India 7 Mei 1861 dan meninggal di kota yang sama 7 Agustus 1941 adalah pujangga dan filsuf India terkenal yang telah menghasilkan banyak buku bahkan pernah mendapat Nobel Prize in Literature. Ia telah menjelajahi hampir seluruh dunia termasuk Indonesia. Ia mengunjungi juga candi Borobudur dan dari kunjungan ke Indonesia is mengubah puisi “Kepada Tanah Djawa” (terjemahan Sanusi Pane dalam majalah Pujangga Baru, Mei 1941).

 

Menarik sekali jika orang sekaliber Tagore menyatakan bahwa hidup adalah kegembiraan, life is joy. Hidup bukanlah beban, sesuatu yang mesti diratapi dan ditangisi. Hidup bukan saat-saat kita complain, iri hati, dendam, berfikiran negatif dan sibuk menghakimi orang lain yang “berbeda” dengan kita, atau bahkan menyiapkan program persekusi bagi semua mereka yang tidak segaris dengan kita. Pikiran Tagore bahwa hidup adalah kegembiraan, bahwa hidup adalah pelayanan dan bahwa pelayanan adalah kegembiraan memberikan sebuah narasi baru sekaligus horison dan visi baru tentang apa itu hidup dan kehidupan. Kata-kata Tagore ini bisa berada dalam kategori *bertuah*, *powerfull* dan *dunamos* tatkala banyak makhluk manusia memahami hidup sebagai “penjara”, “kuk” (kayu yang diikatkan di leher sapi sehingga sapi bisa menarik gerobak) atau “ghetto” yang memisahkan manusia dari interaksi publik. Hidup difahami sebagai kondisi manusia yang berjalan terseok-seok memikul beban takdir yang menghujam dalam.

Baca juga  Jangan Melupakan Tuhan

 

Tagore juga menegaskan bahwa hidup adalah pelayanan. Terminologi “pelayanan” menjadi istilah yang sangat menyatu dan menjadi ikon kekristenan justru oleh karena istilah itu  berasal dari kata Yunani yaitu *diakonia* yang dipopulerkan oleh Yesus sejak kekristenan diperkenalkan di awal sejarah. Adalah Yesus sebagaimana disaksikan dalam Alkitab yang menyatakan dengan tegas “Aku datang untuk melayani bukan untuk dilayani”. Sepanjang kurun waktu 33 tahun Yesus secara konsisten mewujudnyatakan gagasan *diakonia* atau pelayanan secara praksis bahkan hingga kematianNya.

 

Hal yang penting digarisbawahi dalam terminologi “pelayanan” adalah bahwa istilah itu memposisikan pemimpin untuk bergerak mendatangi client, menolong dan memberi solusi bagi dia, berkorban bagi dia hingga dia mengalami pemanusiaan kembali sebagai makhluk ciptaan Allah. Kita bersyukur bahwa  filosofi *melayani* dalam beberspa tahun terakhir telah digunakan dibanyak lembaga pemerintah dan swasta antara lain Kantor Pelayanan Pajak sehingga terwujud suasana kehidupan yang penuh kegembiraan dan sukacita dialami oleh masyarakat luas.

 

Prmikiran R. Tagore cukup bagus untuk menjadi inspirasi dan referensi dalam kita menjalani kehidupan di zaman ini. Hidupilah hidup ini dengan penuh sukacita dan gembira dan bersyukur karena rahmat Tuhan kita masih diberikan nafas hidup. Mari isi hidup ini dengan kerja dan melayani.

 

Jangan complain, berfikirlah positif dan taati perintah agama serta setia kepada UU. Kita memang berbeda satu sama lain tetapi kita dipersatukan sebagai bangsa, dipersatukan sebagai sesama ciptaan Allah. Ungkapkan terus narasi-narasi kesamaan dan persatuan, bukan ujaran kebencian dan narasi perbedaan.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here