Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putra Sandjojo BSEE, MBA., Memberikan Kuliah Umum “Membangun Pemimpin Indonesia” di STT REM

0
867

 

 

 

Jakarta, Suarakristen.com

 

 

Hidup yang paling penting bagaimana menyemangati diri sendiri. Demikian ditandaskan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi; Eko Putra Sandjojo BSEE, MBA saat menyampaikan ‘Kuliah Umum Kepemimpinan’ (KUK) bertema “Membangun Pemimpin Indonesia” di Kampus Sekolah Tinggi Teologia (STT) Rahmat Emmanuel (RE) Jalan Pelepah Kuning III Blok WE 2 Nomor 4 G-K (Kelapa Gading, Jakarta Utara) pada Jumat malam, 6 April 2018.

 

Baginya, hambatan dan halangan bukan sebagai penghambat meraih kesuksesan di hari depan yang berpengharapan. Ditolak di sejumlah universitas, akhirnya menjadi mahasiswa berprestasi di sebuah perguruan tinggi. Hingga kemudian diangkat memimpin kementerian yang merangkum permasalahan di desa seluruh Indonesia dan Daerah Tertinggal hingga mengurusi soal Transmigrasi.

 

Kedatangan Anggota Kabinet Kerja pimpinan Presiden Ir H Joko Widodo dan Wakil Presiden Dr (HC) H Muhammad Jusuf Kalla pada sekitar pukul 19.22 WIB didampingi Ps Abraham Conrad Supit (Gembala Sidang Jemaat Gereja Bethel Indonesia/GBI  Rahmat Emmanuel Ministries/REM sekaligus Pendiri Yayasan Conrad Supit Center), William Wiguna MPd CPHR CBA CPI (Direktur Program Pasca Sarjana STT REM dan Ketua Umum Aspirasi, Pdt Dr Antonius Natan MTh (  Wakil Ketua 1), dan sejumlah dosen sekolah tinggi teologia tersebut.

 

Dengan menggunakan layar screen, menteri kelahiran Jakarta (21 Mei 1965) menjelaskan tentang ‘Percepatan Pembangunan Desa’. Materi pembahasan sebanyak 58 halaman disampaikan secara ringkas selama hingga pukul 21.15 WIB. Penjelasan diawali dengan kebanggaannya sebagai warga bangsa Indonesia yang memiliki kekayaan negara, termasuk memiliki 17.100 pulau sehingga menjadikan Indonesia negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia juga memiliki lebih dari  1.128 etnis, 746 bahasa beragam, 1.000 macam makanan tradisional dan keanekaragaman hayati. Indonesia juga memiliki Garis Pantai Terpanjang kedua di dunia setelah Kanada dengan total panjang 99.093 kilometer. Indonesia juga memiliki 8 situs budaya warisan dunia. Kebanggaan tersebut masih ditambah dengan Bonus Demografi, yaitu penduduk usia produktif mencapai 170 juta jiwa dari 66 persen (15-64 tahun) dan 34 persen (<15&>64 tahun) berdasarkan usia pada tahun 2016. Jumlah 170 juta jiwa tersebut lebih besar dibandingkan gabungan penduduk usia produktif di Malaysia, Singapura, Australia, dan Thailand.

 

Menurut World Bank & Statistictime.com 2017, pertumbuhan ekonomi selama periode 1961-2016 menempatkan Indonesia berada pada peringkat ke-15, setelah Amerika Serikat, China, Jepang, Jerman, Inggris, India, Perancis, Brasil, Italia, Kanada, Rusia, Korea Selatan, Australia, dan Spanyol. Tiga negara hingga peringkat ke-18 ditempati Meksiko, Turki, dan Belanda. GDP (Gross Domestic Product) Growth selama 1961-2016 mengalami kestabilan pada angka 4,5. Dimulai pada tahun 1961 dengan angka 5,74 dan mencapai angka tertinggi pada tahun 1980 (9,88) dan pada tahun 2016 mencapai 5,02. Sementara, GDP Per Capita (US$) selama periode 1970 hingga 2016 terus mengalami kenaikan. Diawali pada tahun 1971 dengan 79,86 hingga menembus 3,605.10 pada tahun 2016. Untuk prediksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2050, Indonesia diprediksi masuk dalam empat besar kekuatan ekonomi dunia, termasuk China, India, dan Amerika Serikat. Peringkat kelima hingga kedelapan, masing-masing; Brasil, Belanda, Meksiko, dan Jepang. Dengan pertumbuhan riil rata-rata 5-6% per tahun, didukung oleh peningkatan teknologi dan tingginya jumlah penduduk yang mencapai 310 juta jiwa pada tahun 2045, PDB Indonesia diperkirakan mencapai US$ 9,1 Triliun pada tahun 2045 (terbesar ke-4 dunia) PDB per kapita diperkirakan mencapai US 29.300 (setara dengan Korea Selatan, Italia, dan Spanyol saat ini). Untuk mencapai Indonesia emas 2045, pembangunan difokuskan pada 3 tahap, termasuk Pembangunan Infrastruktur (Tahap I), Pembenahan dan Pengembangan Industri Pengolahan (Tahap II), dan Pengembangan Industri Jasa seperti Pariwisata (Tahap III).

Baca juga  Rais Aam PBNU : Ibarat Desainer, MUI Harus Merajut Benang Perbedaan Menjadi Pakaian Indah

 

Menurut Data World Bank, perkembangan rata-rata harga komoditas pangan di pasar Internasional selama kurun waktu 2007 hingga 2015 mencapai kestabilan untuk jenis Jagung, Beras, Sawit (Palm Oil), dan Kedelai. Pun demikian dengan perkembangan rata-rata komuditas non pangan. Dan, demi menjaga kestabilan tersebut, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi menjalankan Visi dan Misi Pembangunan Tahun 2015-2019. Visi Pembangunan Nasional satu periode (5 tahun ini) mengangkat judul ‘Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong-royong’. Visi ini diwujudkan melalui tujuh misi pembangunan, yaitu (1) Mewujudkan keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumber daya maritim, dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan, (2) Mewujudkan masyarakat maju, berkeseimbangan, dan demokratis berlandaskan negara hukum, (3) Mewujudkan politik luar negeri bebas-aktif dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim, (4) Mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju, dan sejahtera, (5) Mewujudkan bangsa yang berdaya saing, (6) Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional, dan (7) Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan.

 

Visi dan Misi tersebut merupakan penjabaran 9 Program Prioritas Nawacita, yaitu (1) Menghadirkan kembali Negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberi rasa aman pada seluruh warga negara, (2) Membangun tata kelola Pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya, (3) Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa-desa dalam kerangka Negara Kesatuan, (4) Memperkuat kehadiran Negara dalam melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya, (5) Meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia, (6) Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar, (7) Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan ekstor-sektor strategis ekonomi domestik, (8) Melakukan revolusi karakter bangsa, dan (9) Memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial.

Baca juga  Ketum PP Muhammadiyah: Membangun Kebersamaan Harmoni Islam Wasathiyyah bersama MUI

Karena itu, sejumlah isu pembangunan desa terkait persentasi kemiskinan perdesaan dan perkotaan, indeks kedalaman kemiskinan (P1) dan keparahan kemiskinan (P2) perdesaan dan perkotaan, rendahnya kualitas angkatan kerja perdesaan, serta banyaknya jumlah desa tertinggal di Indonesia. Dana desa diprioritaskan untuk membiayai pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Sebanyak 74.910 desa di Indonesia mendapatkan dana desa. Dana sebanyak sekitar Rp 20,67 triliun pada tahun 2015 dialokasikan sebesar Rp 280,3 juta per desa, Rp 46,98 triliun pada tahun 2016 dialokasikan sebesar Rp 643,6 juta per desa, dan Rp 60 triliun pada tahun 2017 dialokasikan sebesar Rp 800,4 juta per desa. Sejumlah dana tersebut diserap sebesar 82,72% untuk desa sebanyak 74.093 desa, 97,65% untuk 74.754 desa (2016), dan sebanyak 89,20% untuk 74.910 desa pada tahun 2017.

 

Hasil pembangunan desa pada tahun 2016 meliputi jalan desa (66,884 km), pasar desa (1.819 unit), jembatan (511,9 km), embung atau empang (686 unit), tambatan perahu (1.373 unit), dan irigasi (12.596 unit). Sehingga meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa dengan bukti pembangunan penahan tanah (38.184 unit), air bersih (16.295 unit), MCK (37.368 unit), sumur (14.034 unit), polindes (1.112 unit), Posyandu (4.032 unit), Drainase (499.782 unit), dan PAUD (6,426 unit).

 

Empat kegiatan prioritas pembangunan desa meliputi Pengembangan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades), Pembangunan Embung (Empang) Desa, Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), dan Sarana Olahraga Desa (Raga Desa). Sebanyak 82,77% penduduk desa hidup di sektor pertanian. Problematika meliputi; skala ekonomi kecil, akses pasar yang sangat terbatas, tidak terintegrasi vertikal, tidak tersedianya industri pasca panen, minim permodalan, dan keterlibatan swasta yang minim. Solusi; klusterisasi produk unggulan desa, menciptakan integrasi vertikal, dan pelibatan swasta untuk industri pasca panen. Dampak; produktivitas ekonomi perdesaan bisa ditingkatkan, pengelolaan lebih efisien, dan biaya produksi bisa ditekan dan profit bisa maksimal untuk masyarakat desa.

Baca juga  Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2020

 

Ini merupakan kuliah umum ke-4 setelah Muhammad Hanif Dhakiri SAg MSi (Menteri Ketenagakerjaan) pada Jumat, 9 Maret 2018; Laksamana TNI Ade Supandi SE MAP (Kepala Staf Angkatan Laut/KSAL) pada Jumat, 2 Februari 2018; danProf Rhenald Kasali PhD (Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, penulis, pendiri Rumah Perubahan) yang bertema “Disruption—Menghadapi Lawan-Lawan Yang Tak Kelihatan” pada tanggal 8 Januari 2018. Setiap mateti kuliah umum disampaikan selalu dihadiri civitas akademika STT RE, baik para dosen maupun mahasiswa-mahasiswi. Bahkan, para mahasiswi sempat menampilkan beberapa sajian paduan suara termasuk lagu “Mars STT REM’.

 

Kuliah umum ini merupakan bagian dari 7 Program Unggulan STT RE, termasuk Program Pusat Studi Bahasa Ibrani, Pusat Studi Bahasa Yunani, Program Indonesia Berteologi, Kolom Pendidikan di Tabloid Victorious (E-Paper/Online), Program Revolusi Rajin, dan Program Beasiswa. “Seperti dikatakan Presiden Jokowi, dunia pendidikan saat ini tidak bisa lagi seperti dulu yang belajar mengetahui apa itu ilmu Akuntansi, Teknik, Hukum dan lainnya.Dunia berubah semakin cepat,” tutut Ketua STT REM, Dr Ariasa Supit MSi kepada awak media.

 

Dijelaskan, STT REM berencana menggelar kuliah umum sebulan sekali. Hal itu guna menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa, tidak hanya belajar mengenai Teologi. Bagaimana menyiapkan mahasiswa yang siap di era perubahan cepat dengan kreatif dan inovatif dalam mengaplikasikan keilmuannya. “Mulai Januari 2018, STT REM membuat program, bahwa kuliah umum ini dilaksanakan sebulan sekali (setiap bulan),” jelas Ariasa. Pada sesi diskusi, Johan Tumanduk SH MM MMin MPdK (Direktur Eksekutif Conrad Supit Center) tampil sebagai moderator. Tak seperti biasanya, pada kuliah umum keempat ini, Ariasa Supit tidak tampak hadir dikarenakan suatu tugas pelayanan yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Tetapi, sejumlah dosen termasuk Pdt Dr Rahtomojati, Pdt Dr Lenny Chendralisan, dan lainnya tampak mendampingi pembicara dan mahasiswa. (EPA)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here