Pdt. Weinata Sairin: Tuhan itu Sumber Keselamatan

0
463

“Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepadaMu; apa yang ku nazarkan akan kubayar Keselamatan adalah dari Tuhan!” (Yunus 2: 9)

 

Pada saat kita masih kecil dan ikut dalam pelayanan di Sekolah Minggu/Kebaktian Anak, cerita tentang Yunus yang dimakan ikan, termasuk cerita yang amat menarik. Walaupun ditahun 50an teknologi multimedia belum secanggih sekarang, namun melalui media gambar dan model penceritaan yang atraktif anak-anak Sekolah Minggu di zaman itu cukup memahami dan menghayati kisah Yunus yang spesifik itu. Terus terang cerita tentang Yunus yang masuk ke perut ikan untuk anak-anak usia 5 tahunan memang sangat menarik dan menyisakan banyak pertanyaan yang tak bisa dijawab dengan jelas dalam perspektif berfikir seorang anak.

 

Dalam frame of reference  anak-anak Sekolah Minggu, cerita Yunus memberikan sebuah edukasi yang amat jelas. Dalam Pasal 1 Kitab Yunus, diuraikan tentang perintah Allah agar Yunus  pergi ke Niniwe karena kejahatan penduduk kota telah sedemikian parah hingga sampai kepada Allah. Tetapi Yunus menolak perintah itu, ia malah pergi ke kota lain yaitu Tarsis. Ia naik kapal dan tidur nyenyak di ruang kapal paling bawah, sementara kapal dipukul ombak besar. Nakhoda datang kepada Yunus ditengah kepanikannya meminta Yunus berseru kepada Allahnya sehingga mereka terhindar dari kebinasaan. Ombak makin besar, penumpang panik; Yunus meminta mereka mencampakkan dirinya ke dalam laut agar laut reda. Yunus kemudian dilempar ke laut, laut kembali tenang dan Yunus ditelan ikan bahkan tinggal 3 hari di dalam perut ikan. Kisah Yunus ini secara runtut memberi edukasi yang amat jelas bagi anak Sekolah Minggu. Yunus menolak perintah Allah, ia diperingatkan Allah melalui ombak besar yang menyerang kapal, Yunus secara fair mengakui bahwa ia yang menjadi penyebab ombak besar itu, ia minta dilemparkan ke laut, dan laut tenang, sementara ia mesti hidup didalam perut ikan. Cerita Yunus bisa dicerna dengan baik oleh anak-anak dan sangat menarik. Walau memang harus dicatat bahwa dalam _angle_ yang lain, kisah Yunus mengandung banyak metafora.

 

Metafora yang biasanya diberi elaborasi oleh para penulis tafsiran, misalnya tentang sosok Yunus yang secara jujur mengakui bahwa ia “biang kerok” datangnya ombak besar itu sehingga ia rela untuk ditenggelamkan kedalam laut agar banyak orang mengalami ‘keselamatan’. Tindakan Yunus yang bersedia mengurbankan diri sendiri demi keselamatan orang lain, dan ia hidup 3 hari di dalam perut ikan, memberikan makna yang cukup signifikan dalam konteks relevansinya dengan Perjanjian Baru.

 

Sebagaimana yang kita ingat dalam memori kita, sesudah Yunus dimuntahkan ikan itu ke darat, Yunus diperintahkan Allah lagi untuk pergi ke Niniwe sehingga akhirnya penduduk Niniwe bertobat (3:1-10). Yunus kembali tak memahami dengan baik sikap Tuhan yang mengampuni penduduk kota Ninive. Ia marah, ia minta Tuhan cabut nyawanya karena tak ada maknanya lagi untuk hidup (4:3). Yunus pergi meninggalkan kota itu karena  “pemikirannya paradoks dengan pemikiran Allah”. Allah kemudian medekati Yunus yang sering _baper_ itu dengan cara yang spesifik.

 

Yunus mendirikan sebuah pondok untuk tempat berteduh dan ia duduk dinaungi pondok itu (zaman itu belum dikenal rusunawa atau rumah dengan DP zero!). Lalu tumbuh pohon jarak yang menaungi Yunus hingga ia sangat bersukacita dengan adanya pohon jarak itu. Esok hari datanglah ulat yang menggerogoti pohon jarak itu hingga layu dan tidak lagi bisa berfungsi menaungi dirinya. Yunus marah lagi dan minta agar Allah mencabut nyawanya. Disitulah Allah dengan amat kukuh memberikan jawaban “pastoral” kepada Yunus. “Engkau sayang kepada pohon jarak yang tidak engkau tanam yang tumbuh dan binasa dalam waktu satu malam. Bagaimana Aku tidak akan sayang kepada Ninive yang berpenduduk 120 ribu orang lebih…..!”

 

Doa Yunus yang dikutip di awal bagian ini adalah doa yang ia ucapkan _dari dalam perut ikan_ . Ia nyatakan dalam doa itu tindakan dan karya besar Allah dalam hidupnya khususnya dalam pergumulannya dengan realitas hidupnya ditengah lautan. Dalam doa ini ia nyatakan syukur kepada Tuhan, ia akan persembahkan *kurban** (bukan korban!), membayar nazar. Ia _men declare_ *Keselamatan adalah dari Tuhan!”*

 

Doa yang diucapkan Yunus secara spesifik _dari dalam perut ikan_ ini amat bagus, namun tidak nampak narasi eksplisit bahwa ia berada di dalam perut ikan!

 

Kisah Yunus yang _amazing_ bagi anak dan orang tua, bagi kita yg hidup di zaman _Now_ punya lesson learn yang amat berarti.

 

_Pertama_, imperatif Allah, Titah dan Perintah Allah bersifat definif dan aksiomatis. Tak bisa ada tawar menawar, apalagi deviasi. Kita harus menyesuaikan pikiran dan agenda kita dengan perintah Allah sehingga tidak terjadi paradoks dan diskontinuitas.

 

_Kedua_ , tindakan penyelamatan Allah terhadap setiap (suku) bangsa adalah _hak prerogatif Allah_ dan tidak bisa diintervensi oleh manusia.

 

_Ketiga_, sebagai umat Tuhan kita harus menjadi berkat bagi orang lain dan kita harus berani “mengurbankan diri sendiri” demi kepentingan orang lain.

 

_Keempat_ kita terpanggil untuk berdoa, bersyukur kepada Tuhan dalam kondisi apapun juga; duka atau suka, dalam perut ikan atau dalam perut bumi.

 

_Kelima_, cinta kasih kita kepada semua ciptaan Allah harus terus menerus ditumbuhkan tanpa harus berhitung besar kecil atau kesiapaan ciptaan Allah itu.

 

Selamat Merayakan Hari Minggu. God bless

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here