Pdt. Weineta Sairin: “Manusia Beragama: Berkarya Mulia di Tengah Dunia

0
418

 

 

_”In practice all men are atheist; they deny their faith by their action”._ (Ludwig Feuerbach)

 

Istilah kaum yang “ber Tuhan” dan kaum yang “tidak ber Tuhan” cukup jelas bagi banyak orang dalam masyarakat kita. Artinya istilah itu bisa cepat difahami oleh masyarakat tanpa harus mencermati bagaimana definisinya secara ilmiah dan akademis, dan atau mesti mencarinya dalam Wikipedia. Tahun 1950-an pada kepada peserta didik pada jenjang Sekolah Rakjat (kini Sekolah Dasar) kedua istilah itu dengan cukup jelas dan mantap diuraikan oleh pak guru, atau juga guru Agama di ruang kelas. Secara sederhana menurut pak guru, seorang yang ‘atheis’ adalah seorang yang tidak percaya akan adanya Tuhan, yang telah menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi ini, termasuk menciptakan manusia.

 

Pada saat para murid mendengarkan penjelasan itu tidak terjadi “diskusi” mendalam, di ruang kelas 3 SR, hanya ada satu atau dua orang murid yang masih mengejar penjelasan lanjutan “jika tidak percaya akan adanya Tuhan lalu mereka percaya kepada siapa?”. Memang cukup sulit untuk memberi penjelasan lebih jauh tentang hal tersebut dalam konteks para peserta didik yang masih berada pada jenjang Sekolah Rakjat. Berbeda dengan menjelaskan tentang apa yang disebut “kaum yang ber Tuhan”. Hal itu relatif lebih mudah cara menjelaskannya karena para peserta didik telah mendapat penjelasan mendasar dari orangtua mereka masing-masing.

 

Secara filosofis bisa juga dikatakan bahwa mereka yang biasa digolongkan kepada kelompok.”atheis”, kelompok yang.secara sadar menolak untuk percaya kepada Tuhan, sebenarnya juga memiliki apa yang mereka sebut sebagai “tuhan” baik yang kasat mata maupun yang non kasat mata. Namun tentu saja amat kontradiktif dengan apa yang diyakini oleh agama

Baca juga  Intip Pasar Indonesia, Protech Tawarkan Produk Ramah Difabel

agama.

 

Sesudah tanggal 1 Oktober 1965 cukup ramai muncul di ruang publik diskusi dan percakapan tentang kelompok ‘atheis’ dihubungkan dengan kekejaman dan kejahatan kemanusiaan yang terjadi pada pemberontakan G.30.S/PKI. Masyarakat umum waktu dikagetkan dengan adanya pembunuhan terhadap para jenderal secara biadab dan merupakan tragedi hitam dalam lembaran sejarah bangsa ini. Wacana publik mencatat bahwa kaum komunis yang atheis itulah yang telah menjadi pelaku utama pembunuhan para jenderal pada tanggal 30 September 1965 itu.

 

Berdasarkan pengalaman empirik Peristiwa G.30.S/PKI dan berbagai literatur memang mereka kaum atheis, orang yang menolak secara sadar adanya Tuhan, dianggap.orang yang bisa melakukan dengan mudah kekejaman kemanusiaan, termasuk pembunuhan biadab. Mereka melakukan itu dengan tenang tanpa ada rasa takut sedikitpun karena mereka tidak percaya kepada Tuhan.

 

Berbeda dengan kaum atheis, maka mereka yang termasuk pada kategori orang yang percaya kepada Tuhan, orang yang beragama, orang yang beriman, adalah orang yang berkeadaban, orang yang mengasihi orang lain, taat hukum dan bertindak elegan dalam mengemban kehidupan.

 

Secara teoretis gambaran umum tentang orang yang beragama, orang yang percaya kepada Tuhan benar dan tepat seperti itu. Namun dalam praktek, dalam realitas konkret kondisi itu tidak sepenuhnya terwujud.

 

Orang yang beragama, orang yang percaya kepada Tuhan ternyata juga bisa bersikap barbar, melakukan genocide, teror, pembunuhan sadis dan hal itu bisa disaksikan dalam perjalanan sejarah kemanusiaan. Konflik antar etnik, konflik antar bangsa, perang antar bangsa terjadi dan dilakukan oleh manusia yang beragama.

 

Menarik sekali pernyataan Feuerbach yang dikutip diawal bagian ini bahwa “dalam praktek semua orang itu adalah atheis, mereka menyangkal iman mereka melalui tindakan mereka”. Feuerbach lahir di Jerman tahun 1804 dan meninggal tahun 1870. Ayahnya seorang ahli hukum dan ibunya seorang wanita yang taat beragama. Tahun 1823 ia belajar teologi di Universitas Heidelberg dan ingin menjadi teolog namun kemudian ia lebih tertarik kepada filsafat. Pemikiran utamanya adalah “Allah adalah hasil pemikiran manusia dan bukan sebaliknya”. Itu berarti bahwa ia berada pada posisi orang yang tidak percaya kepada Allah.

Baca juga  DUNIA TERANCAM RESESI

 

Pernyataan itu pada satu sisi merupakan sebuah sinisme yang amat tajam, kuat dan sarkartis terhadap umat manusia yang percaya kepada Tuhan, namun pada sisi lain pernyataan itu menggambarkan secara konkret realitas kedirian manusia yang amat lemah, _fragile_, yang tubuhnya terpecah dan terkoyak tanpa makna akibat ia hidup dalam genggaman kuasa dosa. Realitas itu amat kasat mata hadir diruang-ruang sejarah sebagai koruptor kelas tinggi yang tertatih-tatih duduk dikursi pesakitan, atau sebagai sosok yang membeli proses peradilan, figur yang menebar senyum walau terkena OTT, pribadi yang kehilangan sense of morality yang tetap menjadikan diktum hukum sebagai tempat perlindungan, pribadi yang rakus, tamak yang tak puas dengan milik yang diterima sebagai berkat Tuhan. Kita sebagai umat beragama mesti bangkit dan melawan sindiran tak elegan dari seorang Feuerbach. Kita manusia dengan harkat dan martabat tinggi, makhluk ciptaan Allah mari menampilkan hidup yang terbaik dan bermakna sesuai dengan ajaran agama !

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here