Pdt. Weinata Sairin: Tuhan Melihat Hingga ke Kedalaman Nurani

0
526

 

“Cave, Deus videt. Berhati-hatilah! Tuhan melihatnya”.

 

Kata “hati-hati” atau “berhati-hatilah” adalah sebuah ungkapan yang acap kita dengar atau kita baca yang isinya ingin memberikan informasi, pengingatan, penegasan, penyadaran tentang sesuatu hal yang mesti diketahui oleh publik atau juga oleh seseorang. Ditepi jalan raya menuju luar kota sering kita baca tulisan berbunyi “hati-hati tikungan tajam”, atau ” hati-hati licin diwaktu hujan”.

 

Papan peringatan itu secara khusus ditujukan kepada para pengendara kendaraan roda dua atau roda empat yang seringkali melaju dengan kecepatan tinggi di daerah tersebut yang kemudian mengakibatkan terjadinya kecelakaan. Tidak saja di tepi jalan raya bisa ditemui papan peringatan sejenis itu tetapi juga di dalam kota, di kompleks pertokoan sewaktu-waktu dapat kita temui. “Awas hati-hati, lantai licin” demikian bunyi papan peringatan berwarna kuning yang ditempatkan di depan sebuah toko. Semua pengunjung berupaya menghindarkan diri dari tempat tersebut agar tidak mengalami masalah.

 

Acapkali sebuah toko yang dindingnya terdiri dari kaca transparan, ditempel tulisan “hati-hati ada kaca”. Pengumuman  itu ditempel karena banyak terjadi para pengunjung toko yang berjalan dengan  tergopoh-gopoh menuju toko itu menabrak dinding kaca srhingga kacamata yang ia pakai retak. Papan peringatan untuk berhati-hati biasanya juga dipasang di depan perlintasan kereta api : “hati-hati, ada perlintasan kereta api”. Walaupun ada papan seperti itu ternyata ada saja sepeda, motor atau mobil yang dalam kondisi pintu perlintasan kereta api tertutup tetap saja menerobos untuk melintas. Akibatnya pernah terjadi kecelakaan ketika sebuah motor terserempet kereta api.

 

Dimana-mana papan peringatan “berhati-hati” terpasang untuk memberi pengingatan kepada banyak orang agar mereka terhindar dari bahaya. Di pantai, di kebun binatang, di supermarket di berbagai tempat dan lokasi peringatan untuk berhati-hati selalu ada. Berbagai macam tujuan pemasangan peringatan “berhati-hati” itu. Misalnya di supermarket ditempel peringatan yang berbunyi “awas ada kamera CCTV”. Peringatan itu dimaksudkan agar jangan ada orang yang coba-coba untuk mencuri barang yang ada di supermarket itu.

Baca juga  TULUS BERPELUKAN DEMI NKRI

 

Ungkapan “hati-hati” sebenarnya amat akrab dalam kehidupan kita secara pribadi. Pada saat kita masih kecil, ayah dan ibu kita hampir selalu mengucapkan kata-kata “awas hati-hati”; misalnya tatkala kita akan berangkat sekolah (SR/SD); ketika kita dengan kawan-kawan SR/SD akan berangkat untuk acara liburan yang dikordinasi oleh sekolah; ketika kita mulai belajar mengendarai sepeda motor/mobil, dan sebagainya, dan sebagainya.

 

Pengingatan dengan ungkapan “hati-hati” secara umum amat baik agar setiap orang benar-benar dapat menjalankan kehidupannya terstandar baik dari aspek agama maupun aspek hukum. Dunia perbankan, kita tahu menggunakan istilah “prudent” dalam merespons berbagai dinamika yang terjadi. Sikap prudent mengharuskan adanya kalkulasi yang matang, antisipasi terhadap perubahan masa depan, asas manfaat bagi rakyat banyak.

 

Seluruh agama mengingatkan manusia agar menghidupi kehidupan ini dengan hati-hati, dengan menjadikan ajaran agama sebagai panduan dan melaksanakannya secara konsisten. Pepatah pendek yang dikutip dibagian awal tulisan ini memberi imperatif yang amat powerfull : *”Berhati-hatilah! Tuhan melihatnya!”*. Kita mesti hidup dengan berhati-hati karena Tuhan melihat, Tuhan tidak sekadar “melihat” aspek luaran saja, tapi mata Tuhan mampu menembus hingga ke dalaman nurani. Ia melihat rinci dan transparan seluruh kedirian kita. Strategi, skenario, kesungguhan, kepura-puraan, hipokrisi, split of personality, kebohongan, persekongkolan, nafsu-nafsu negatif kita yang mengaliri darah kita, Ia lihat dengan terang benderang. Ia melihat dimanapun kita berada, dan apapun yang kita lakukan. Kita manusia fana, lemah berlumur dosa. Kita harus bertobat sungguh-sungguh. Tak ada pilihan lain.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here