Pdt. Weinata Sairin: Mengikuti Tuhan Sepenuh Hati

0
690

 

“Aku berumur empat puluh tahun ketika aku disuruh Musa hamba Tuhan itu, dari Kadesh Barnea untuk mengintai negeri ini; dan aku pulang membawa kabar kepadanya yang sejujur-jujurnya. Sedang saudara-saudaraku yang bersama-sama pergi kesana dengan aku membuat tawar hati bangsa itu, aku tetap mengikuti Tuhan, Allahku dengan sepenuh hati”. (Yosua 14 : 7,8)

 

Menjadi penganut sebuah agama, ditengah sebuah konteks historis yang selalu berubah, bukanlah hal yang mudah. Menjadi penganut agama tidak hanya dibuktikan dari aspek _luaran_ saja, misalnya ia menjalankan kewajiban agama, ia beribadah di rumah ibadah, agamanya tercantum dalam dokumen kependudukan. Namun yang paling berat dan sulit adalah bagaimana keberagamaan itu terpelihara secara _internal_ yaitu iman yang tiada bergeser sedikitpun walau hidup seseorang didera derita tiada akhir.

 

Kita akui bahwa sebagai umat Kristen kita jatuh bangun dalam menampilkan keberagamaan kita ditengah konteks NKRI yang majemuk. Ada wilayah-wilayah tertentu di Tanah Air yang secara salah diklaim sebagai hanya boleh dibangun rumah ibadah suatu agama. Pernah terjadi berpuluh tahun yang lalu di daerah Sukabumi Selatan, Jawa Barat warga Gereja tidak bisa menyanyikan lagu Gereja karena masyarakat sekitar tidak sudi mendengar lantunan lagu gerejawi. Saat itu dicoba dicari solusi sementara agar ibadah dilakukan dirumah dengan “senyap”. Hingga kini di era digital masih ada wilayah di Jawa Barat yang sulit dilakukan ibadah bersama dalam keluarga.

 

Kondisi  seperti yang disebutkan diatas tentu tidak terjadi di wilayah-wilayah Indonesia Timur yang selalu dikatakan sebagai “wilayah Kristen”. Di Manado Sulut misalnya hampir disetiap “kolom” berdiri gedung gereja yang relatif bagus untuk ibadah umat. Realitas itu terjadi hampir secara merata di wilayah Indonesia Timur dan tidak pernah ada masalah dalam soal IMB gedung Gereja atau dalam pelaksanaan kebaktian.

Baca juga  ALLAH HAKIM YANG ADIL

 

Perjumpaan kekristenan dengan dunia, dengan realitas sosiologis yang beragam itu pada akhirnya berimbas pada kualitas iman, atau pada “militansi kekristenan” yang ada pada setiap warga Gereja. Kawan-kawan dari Indonesia Timur tidak terbiasa berhadapan dengan resistensi terhadap pembangunan gedung Gereja. Kawan-kawan itu acap mempertanyakan secara kritis resistensi seperti yang sebagian besar memang tanpa argumentasi yang kukuh kecuali skema berfikir “mayoritas-minoritas” atau sentimen keagamaan.

 

Pernah ada kasus lebih kurang 40 tahun yang lalu ketika sebuah komunitas Kristen di dekat kota Purwakarta mau mendirikan gedung Gereja ada penolakan dari masyarakat setempat. Sebagian besar warga Gereja itu yang berasal dari Indonesia Timur dan pensiunan tentara hampir meledak kemarahan mereka terhadap masyarakat setempat yang menolak pembangunan itu. Untunglah kemudian dengan proses dialog dan mediasi ledakan itu bisa dihadang hingga akhirnya berdiri juga gedung Gereja di wilayah itu. Terakhir diketahui provokator dari aksi masyarakat itu adalah seorang pensiunan pegawai dari kantor sebuah kementerian yang mengurusi soal-soal keagamaan.

 

Menjadi Kristen sejati memang tidak semudah yang diperkirakan orang. Seolah dulu ada pikiran (atau tuduhan th 2003) masuk sekolah Kristen lalu orang menjadi Kristen, periksa MRI di RS Kristen lalu orang menjadi Kristen. Kristen itu bukan agama gampangan dan murahan. Komitmen dan percaya sepenuh hati kepada Allah dalam Yesus Kristus adalah faktor penting dalam kekristenan dan itu terjadi melalui prosedur dan proses yang terstandar.

 

Menarik ungkapan Kaleb kepada Yosua sebagaimana dikutip dari kitab Yosua. Ia mengingatkan Yosua bahwa ia pada usia 40 tahun sudah dijanjikan  Musa akan memperoleh lahan. Kini pada usia 85 tahun, sesudah 45 tahun berlalu ia _remind_ Yosua tentang hal itu karena ia sudah makin uzur secara fisik. Kaleb adalah anggota Tim Pengintai yang diutus untuk melihat on the spot bagaimana sebenarnya Tanah Perjanjian yang diberikan Tuhan kepada umat (vide Yosua 2)

Baca juga  ALLAH HAKIM YANG ADIL

 

Kaleb menyatakan dalam menanti 45 tahun pemenuhan janji Musa ia “tetap mengikuti Tuhan, Allahku, dengan sepenuh hati”. Kaleb setia. Ia konsisten dan teguh iman. Imannya kepada Tuhan tetap, konstan, tidak berubah. Ia lakukan itu dengan sepenuh hati, dengan seluruh kediriannya tidak setengah-setengah, tidak parsial. Kaleb adalah gambar figur orang beriman yang setia dalam percaya kepada Tuhan melewati berbagai peristiwa historis dengan berbagai dinamika didalamnya. Bahwa ia remind Yosua tentang janji Musa 40 tahun yang lalu kepadanya, untuk menjelaskan kepada Yosua bahwa ada peran historis yang ia telah lakukan sehingga umat lebih siap memasuki Tanah Kanaan yang Allah janjikan.

 

Kita harus mengikuti Tuhan sepenuh hati melewati tahun-tahun sukacita dan dukacita, kita harus menorehkan sejarah dalam kehidupan kekristenan dan dalam kehidupan masyarakat luas melalui beragam cara dan bentuk sesuai dengan talenta dan kompetensi kita. Kita harus mewujudkan kekristenan otentik, kekristenan sejati yang menampilkan cinta kasih, sukacita, pengampunan, dan kasih kepada setiap orang.

 

Selamat Merayakan Hari Minggu. God Bless.

 

Weinata Sairin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here