Pdt. Weinata Sairin: Menuju Manusia yang Berkeadaban

0
501

“Se ipsum excusare et alium vituperare humanum est”. Membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain adalah sifat-sifat manusia”.

 

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang sangat istimewa, dibandingkan makhluk lainnya. Ia adalah figur sentral dalam rangkaian karya penciptaan Allah, Kuasa Transenden. Oleh karena itu ia diberi tugas dan tanggungjawab oleh Allah untuk mengelola bumi dan seluruh ciptaan Allah. Keistimewaan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah antara lain terwujud melalui predikat yang diberikan kepadanya. Ia adalah _khalifah Allah_, wakil Allah di bumi. Ia harus menjaga seluruh ciptaan Allah dengan baik dan bertanggungjawab demi kemaslahatan umat manusia. Alam tidak boleh dieksploitasi dengan seenaknya tanpa memikirkan dampaknya bagi masa kini dan masa depan.

 

Manusia juga disebut *imago dei*, the image of God, citra Allah. Dengan sebutan itu juga manusia harus memposisikan dirinya sebagai sosok yang memelihara alam semesta, yang bertanggungjawab atas lingkungan, ekologi sehingga bumi menjadi tempat hunian yang ramah bagi umat manusia, baik di masa kini maupun di masa depan.

 

Walaupun manusia adalah makhluk Allah yang istimewa, spesifik, proses penciptaannya amat khas, tidak sama dengan penciptaan benda-benda lain; namun manusia tetap adalah manusia. Manusia yang lemah, tak sempurna, berlumur lumpur dosa, dan bukan *superman*. Manusia sempurna, manusia super, superman, mungkin ada dalam film, sinetron, ftv tapi tidak ada dalam dunia nyata. Manusia sempurna, _insan kamil_ adalah idealisme sosok manusia yang terus menerus diperjuangkan dengan basis ajaran agama.

 

Dalam sebuah pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki 6 April 1977, seorang budayawan Indonesia, penulis “Senja di Djakarta” bernama Mochtar Lubis memberikan gambaran yang amat jelas tentang kesiapaan manusia Indonesia. Peta anatomis yang lugas tentang manusia Indonesia dari angle budaya disajikan Mochtar Lubis yang tentu saja direspons pro dan kontra oleh publik di zaman itu. Ada 6 sifat manusia Indonesia yang disebut Mochtar Lubis dalam pidato itu.

1. Hipokrisi dan Munafik.

2. Enggan bertanggunghawab atas perbuatannya.

3.Berjiwa Feodal.

4. Percaya kepada takhayul.

5. Artistik.

6.Watak yang lemah.

 

Mohctar Lubis dengan gamblang merinci enam sifat manusia Indonesia dalam realitas empirik. Sikap hipokrit dan munafik terjadi sangat riil juga dalam hidup keberagamaan. Manusia yang saleh dan taat beragama namun sikap agamais itu tidak muncul dalam kehidupan manusia. Ada paradoks yang terjadi, ada saat orang amat agamais disuatu kegiatan atau ibadah agama, namun diluar situasi itu umat _ignore_ terhadap posisi dan hakikat kediriannya sebagai umat beragama.

 

Manusia selalu tidak mau bertanggungjawab atas perbuatan yang ia lakukan. Istilah “bukan saya” ; “saya hanya menjalankan perintah atasan” , “kambing hitam” amat populer dalam konteks manusia tak mau bertangnggungjawab. Seseorang selalu menyalahkan orang lain jika terjadi sesuatu masalah, atau menciptakan “kambing hitam”. Manusia lemah, manusia selalu mencari execuse (pemaaf) sebagai alasan ketidakmampuannya menjalankan tugas. Dalam hal percaya kepada takhayul Mochtar Lubis menyatakan bahwa dizaman baheula manusia percaya kepada batu, gunung, pedang dsb yang dianggap punya kekuatan gaib, lalu manusia menciptakan mantera, semboyan. Realitas itu masih terjadi dalam kehidupan masa kini. Sifat -sifat tersebut tidak positif dalam konteks pembangunan bangsa.

 

Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah harusnya memiliki kepribadian yang kuat dan membanggakan. Apalagi manusia Indonesia yang adalah seorang yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kita berharap 6 sifat manusia Indonesia yang diurai Mochtar Lubus bulan April 1977 mengalami perubahan yang maju di era digital sekarang.

 

Kepribadian yang kuat yang mencerminkan karakter positif amat penting dikembangkan oleh setiap orang, siapapun dia dan dalam kapasitas serta level apapun. Kisah dari Spanyol berikut ini bisa menjadi sumber inspirasi. Raja Spanyol bernama Alfonso pernah melakukan sebuah perjalanan dengan menyamar. Perjalanan “incognito” seperti ini pada zaman baheula sering dilakukan oleh para raja untuk mengecek realitas pasar. Alfonso suatu hari secara incognito menginap di sebuah kecil. Di front office ia tentu saja menggunakan nama samaran untuk mendaftar. Esok paginya Alfonso meminta petugas hotel membawa cermin ke kamarnya.sebab ia akan bercukur. Pelayan bertanya kepada Alfonso saat ia mengantar cermin. “Anda bukan seorang pelancong biasa, bukan ? “Alfonso menjawab: ” Mengapa kau bertanya seperti itu ?” “Tingkah laku Anda berbeda. Aku berani pastikan bahwa Anda adalah salah satu anggota kerajaan di Madrid”. ” Ya benar!” kata Alfonso. “Apakah yang Anda kerjakan untuknya,” tanya pelayan itu. “Oh aku mengerjakan banyak hal” kata Alfonso sambil tersenyum. “Dan sekarang ini aku akan mencukurnya..”

 

Kepribadian Alfonso menyuguhkan sebuah komitmen kuat untuk melakukan tindakan incognito secara penuh. Ia tetap teguh untuk tidak membuka siapa dirinya sebenarnya. Ia tidak tergiur dan terpukau pada kata-kata sang petugas hotel. Alfonso tak suka “makan puji”; Alfonso konsisten, teguh dalam sikap. Sekali ia terbuai dengan pujian sang pelayan hotel maka “program incognitonya” bisa amburadul. Kita membutuhkan orang  yang teguh, kukuh dan konsisten dalam menjalankan agama dan ketentuan lainnya; orang yang berani menjadi dirinya; sosok yang sedia bertanggungjawab dan tidak membuat execuse atau melahirkan ‘kambing hitam’; figur yang kepribadiannya tidak terbelah.

 

Kita tidak bisa menjadi superman, yang selalu benar dan atau membenarkan diri sendiri lalu menyalahkan orang lain. Jika kita salah, khilaf, berkata dan bertindak tidak benar kita harus mengakuinya dengan tulus, kita perlu memohon maaf atas kesalahan itu. Jangan kita menimpakan kesalahan itu kepada orang lain dan kita merasa selalu benar. Seorang manusia beragama adalah seorang yang bersedia mengakui kesalahan dan bersedia memohon maaf atas kesalahan itu; dan tidak boleh menimpakan kesalahan kita itu kepada orang lain siapapun dia, baik ia masih hidup maupun sudah meninggal. Mari kita berjuang menjadi sosok manusia terbaik, berkarya bagi banyak orang, membangun dunia yang berkeadaban.

 

Selamat Berjuang. God Bless.

 

Weinata Sairin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here