Dekat Allah Ada Pertolongan

0
687

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

Mazmur 73:21-28

(21) Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, (22) aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. (23) Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. (24) Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. (25) Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. (26) Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. (27) Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa; Kaubinasakan semua orang, yang berzinah dengan meninggalkan Engkau. (28) Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.

 

Bila orang sakit maka apa yang pertama-tama dilakukannya? Yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah menyadari bahwa ia sakit. Baru kemudian ia pergi ke dokter. Jika ia sadar bahwa ia sakit, maka tentu ia juga sadar bahwa ia perlu sembuh. Kebutuhan akan kesembuhan itulah yang mendorong dirinya melangkah menuju ke dokter. Kemauan atau tekadnyalah yang mendorong dirinya untuk pergi ke dokter. Soal sembuh atau tidak, itu soal nanti. Secara teoritis itu bergantung pada kerja sama yang baik di antara dokter dan ketekunan pasien berobat serta menjalankan nasihat dokter.

Demikianlah juga dengan bacaan kita dalam Mazmur 73:21-28. Dalam bacaan ini, pemazmur menyadari bahwa ia sakit. Sakitnya agak cukup parah/berat. Mungkin ia sakit hati dan sakit pinggang, semacam rematiklah (ay. 21). Sebab itu, dalam keadaan demikian, pemazmur tetap mencari Tuhan dan berusaha dekat dengan-Nya. Dialah Tabib dan Penolongnya. Pemazmur memiliki sikap yang tepat sekali. Ketika ia sakit dan mau mencari pertolongan, ia tahu dengan jelas, kepada siapa ia harus mendekat. Ia datang kepada Allah. Allahlah yang tahu pergumulan dan penyakit kita, dan Dialah pengharapan kita (judul Mazmur ini: Pergumulan dan Pengharapan).

Di sini, pesan yang dapat disampaikan kepada orang-orang Kristen adalah, bilamana kita jatuh sakit atau punya pergumulan, maka kita harus tahu ke mana kita harus mencari pertolongan. Tidak lain, selain kepada Allah Bapa yang tahu pergumulan kita dengan baik. Kita datang kepada-Nya melalui Putra-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita. Setelah kita mendekat pada Tuhan, barulah kemudian kita pergi ke dokter. Di samping itu juga kita harus punya kemauan dan usaha yang sungguh-sungguh untuk mencapai kesembuhan dan atau keluar dari pergumulan kita.

Perhatikan ayat 24. Di sana dikatakan: “Dengan nasihat-Mu, Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku dalam kemuliaan.” Dari ayat ini kita dapat memahami bahwa penyakit atau pergumulan yang mendera hidup kita dapat disembuhkan. Namun, seperti telah dikatakan di atas, kita harus dapat bekerja sama dengan pihak lain seperti dokter. Kita bekerja sama dalam arti tekun berobat (makan obat), istrahat yang cukup, pikiran selalu positif. Jadi nasihat dokter perlu didengarkan dan dituruti. Sebuah penelitian di Amerika mengatakan bahwa seorang pasien di rumah sakit umum dapat sembuh karena faktor kemauan dalam dirinya , 60 persen. Sedangkan faktor lain berupa bantuan dari dokter, obat dan peralatan serta perawatan dari rumah sakit hanya 40 persen. Tampak bahwa faktor dari diri kita mempunyai peranan yang besar. Faktor menentukan dari diri kita adalah iman. Tuhan Yesus bersabda: “Imanmu telah menyembuhkan / menyelamatkan engkau (Markus 5:34).

Pemazmur, dalam percayanya datang mendekat kepada (baca: mencari dan mengandalkan) Allah serta mau menaati segala nasihat-Nya. Lalu pertolongan dan mukjizat Allah pun datang padanya. Pertolongan Allah bagi setiap orang beriman adalah cukup (bandingkan kata-kata Paulus dalam 2 Korintus 11:9: Dan ketika aku dalam kekurangan di tengah-tengah kamu, aku tidak menyusahkan seorang pun, sebab apa yang kurang padaku, dicukupkan oleh saudara-saudara yang datang dari Makedonia …). Tidak hanya cukup, tapi juga dapat dirasakan sepanjang hidup, seperti dialami dan diyakini oleh pemazmur sendiri.

Dalam sakit dan kelemahannya pemazmur telah melihat bahwa Tuhan tetap bersamanya. Tuhan memegang tangan kanannya (ay. 23b), Tuhan membimbing dan mengangkatnya dalam kemuliaan (ay. 24). Semua itu dilakukan Tuhan bukan sebagai hasil usahanya, melainkan sebagai anugerah Tuhan yang dialaminya ketika dia mendekatkan diri kepada-Nya.

Dari apa yang dirasakan dan dilihatnya itu, pemazmur menyatakan hasratnya. Ia hanya menginginkan Allah saja (ay. 25) dan berlindung pada-Nya sebagai gunung batu kehidupannya (ay. 26). Hasrat pemazmur ini mengendap mengkristal dalam hatinya dan menjadi pengakuan imannya setiap saat. Itulah pengakuan iman yang lahir dari pengalaman hidupnya bersama Tuhan. Bagi pemazmur, siapa yang menjauh dan menyimpang dari Tuhan akan dibinasakan. .

Dekat pada Allah bukan saja mendatangkan pertolongan, tapi juga dapat meresapi dengan dalam karya-karya-Nya. Dari pengenalan mendalam ini pemasmur dapat bersaksi tentang pekerjaan Allah (bnd. Yeremia 17:7-8: “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here