Kesaksian Iman Regina Megumi Tandiari

0
5059

Nama saya adalah Regina Megumi Tandiari. Saat ini usia saya 22 tahun. Saya seorang gadis yang bertumbuh secara khusus dibanding dengan teman-teman sebaya lainnya. Hal ini disebabkan saya terlahir dengan kondisi penderita hidrosefalus (kepala membesar karena ada penumpukan cairan). Di usia dini saya harus dioperasi untuk pemasangan pompa dan selang untuk mengeluarkan cairan tersebut. Pompa otomatis dipasang di bagian dalam kepala saya, dan selang terulur mulai dari kepala menuju bagian perut.

Operasi berjalan dengan baik. Namun ada bagian yang ada di sekitar otak saya yang menurut dokter harus dipotong, ternyata menimbulkan dampak yang tidak dikira. Infeksi mulai muncul. Fungsi pertumbuhan tubuh tidak sempurna. Operasi harus diulang. Bahkan beberapa tahun kemudian pompa otomatis harus diganti karena tidak berfungsi dengan baik. Orangtua saya berjuang dengan gigih untuk mempertahankan kehidupan saya. Tidak hanya tenaga, tetapi dana pun tercurah ratusan juta.

Hingga akhirnya mulai SD kelas tiga saya harus duduk di kursi roda. Karena pertumbuhan saya yang tidak normal. Kaki saya tidak bisa menopang tubuh dengan baik. Karena terlalu lama duduk, tubuh saya mulai membungkuk. Tangan pun mulai tidak berfungsi. Orang tua saya mulai masuk pada titik jenuh dan sedih tak berkehabisan. Sekalipun demikian papa masih mencoba terus berjuang. Puji Tuhan, saya tetap dikelilingi oleh orang-orang yang mau menerima saya apa adanya. Bahkan memikirkan dan berusaha mencari jalan keluar. Suatu saat saya diundang ke India dalam sebuah konferensi sekolah, untuk memberikan kesaksian hidup. Lalu ada dokter India yang baik hati memikirkan saya. Papa dipanggil dokter itu dan diajak bicara. Katanya kondisi saya sudah terlambat. Tapi masih bisa diatasi dengan diberikan terapi pijat secara teratur. Tidak urung hati papa hancur mendengar hal tersebut. Tetapi papa mau terus berusaha memulihkan saya. Hati yang hancur, sedih, kecewa, letih, semuanya bercampur aduk. Secara khusus papa dan mama. Bertahun-tahun mengurus kondisi saya bukanlah hal yang mudah.

Dalam bagian lain, sejak dulu, saya sekeluarga adalah keluarga yang tidak dekat dengan Tuhan. Kami sekeluarga tidak pergi ke gereja setiap minggunya, tidak berdoa, tidak pula membaca FirmanNya.

Sejak saya dan adik-adik saya masih kecil, kami mengenal Tuhan hanya lewat teori-teori pendidikan agama yang diajarkan di sekolah kami masing-masing. Kami sempat mengikuti Bina Iman dan Sekolah Minggu yang berjalan hanya dalam waktu yang singkat. Setelah itu, tidak ada lagi asupan rohani lagi yang menuntun jalan hidup kami.

Akan tetapi, Tuhan tidak pernah kehilangan cara untuk memanggil kami. Saat saya masih duduk di bangku sekolah, karena sekolah saya merupakan sekolah Katolik yang selalu mengadakan misa Jumat Pertama setiap bulannya, maka kami pun diajak untuk mengikuti misa sesuai dengan agama kami masing-masing. Sewaktu itu saya bingung untuk mengikuti misa yang mana, dan yang akhirnya karena mengikut teman dan karena mengikut papa yang tercatat beragama Kristen, maka saya pun memilih untuk mengikuti dalam kebaktian Kristen. Namun, disitulah saya menyadari bahwa Tuhan bekerja didalam diri saya, sehingga lama-kelamaan Tuhan membuat saya dapat mengikuti misa Jumat Pertama bukan hanya sekedar ikut-ikutan teman, tapi karena aku mau mengenal Tuhan.

Setelah saat itu, saya seringkali mengajak keluarga saya untuk pergi ke gereja, tetapi ajakan tersebut selalu ditolak dengan berbagai alasan. Hingga akhirnya sekitar bulan Maret tahun lalu (2016), saya mengalami sakit infeksi yang menyerang otak dan lambung, sehingga menjadikan kondisi saya benar-benar lemah dan dirawat dua kali rawat inap. Saat itu kondisi saya membuat keluarga menjadi sangat sedih, karena saya menjadi pucat dan bibir saya membiru, sehingga saya tidak sadarkan diri. Kondisi ini ditambah lagi karena ketika saya sudah sadar, saya tidak dapat mengenali kedua orangtua saya. Awalnya kondisi itu juga sempat membuat saya down, namun disaat itu papa mulai ingat akan permintaanku untuk pergi ke gereja, dan setelah saat itu hati papa mulai tergerak untuk mau pergi ke gereja setiap minggunya sekeluarga.

Puji Tuhan, kini kondisi saya telah sehat kembali dan sesaat setelah saya sembuh pun, kami akhirnya dapat meluangkan waktu kami atas waktu yang telah Tuhan berikan untuk dapat pergi beribadah, memuji dan memuliakan namaNya.

Semenjak kami pergi ke gereja setiap minggunya, saya dapat melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada diri saya dan keluarga. Kasih Tuhan itu begitu besar dan nyata. Saya pun bersyukur dan berterimakasih sekali kepada Tuhan, karena dengan jalanNya, kami dapat kembali datang kepada Dia dan lebih mengenalNya.

O-ya, saat ini saya sedang menyelesaikan perkuliahan di Universitas Terbuka, semester 6, jurusan Manajemen Umum. Untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah, saya butuh tenaga ekstra. Mouse harus diikatkan ke tangan saya. Dengan cara menyentakkan mouse, saya akan “klik” mouse dan mulai mengetik. Saya mempergunakan virtual keyboard. Namun seluruh kesulitan itu tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan suka cita kami sekeluarga sudah dapat ke gereja dan hidup di dalam Tuhan. Puji Tuhan! Haleluya! Amin!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here