Karakter Pelayan

0
1464

Oleh: Pdt. Anna Vera Pangaribuan

 

Selamat pagi untuk kita semua, kiranya kasih karunia dari Yesus Kristus menyertai kehidupan kita sekalian.

 

1 Tesalonika 2:6-8, juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus. Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi.

 

 

Dalam pelayanan kita mungkin kita tidak semua sadar bahwa kita adalah seorang yang yang sangat diperhatikan oleh jemaat. Namun ada juga yang tahu bahwa ia adalah publik figur di tempat pelayanannya, melalui pemahaman publik figur ini pelayanan dapat jatuh kedalam kesombongan diri apabila dia mampu melayani dengan maksimal dengan beberapa talenta yang diberikan oleh Allah. Seorang pelayan yang dapat berkhotbah dengan baik, dapat memainkan musik, dapat mengajari koor dan admistrasi yang transparan. Masih banyak pelayan yang memiliki kriteria seperti ini, namun secara tidak langsung beberapa motivasi pelayanan ini ada yang mencoba menggeser posisi Yesus di tengah-tengah gereja. Para pelayan ada yang mencari pujian dari manusia. Hal itu merupakan penyelewengan panggilannya menjadi pelayan Tuhan di gerejaNya.

 

Seorang hamba/pelayan Tuhan digambarkan oleh Paulus di jemaat Tesalonika ini seperti seorang ibu yang mengasuh anaknya. Kita tahu bahwa ibu yang mengasuh anaknya tentu benar-benar memperhatikan kebutuhan anaknya, melindungi anaknya agar jangan jatuh kedalam bahaya.  Memberikan apa yang pantas bagi kebutuhannya, sebab banyak sekali kebutuhannya yang tidak dapat mendukung pertumbuhan si anak.  Hal Ini juga merupakan gambaran seorang gembala yang menggembalakan dombanya dan rela memberikan nyawanya kepada dombanya agar memperoleh keselamatan.

 

Saudaraku, kita sebagai pelayan dan juga yang dilayani, haruslah kita memiliki rasa kasih sayang kepada yang melayani kita dan yang kita layani serta tidak mempunyai tujuan mencari pujian dari Manusia/jemaat yang kita layani. Biarlah Yesus yang dipuji dan disembah. Kita sebagai pelayan hanya menyampaikan pesan dan tanggung jawab kepada jemaat yang kita layani.

 

Sebagai seorang pelayan kita juga harus mempunyai jiwa seperti seorang ibu yang mempunyai anak yang sedang dalam proses pertumbuhan dari bayi. Kebutuhan jemaat yang baik haruslah kita ketahui dan kita sampaikan. Jangan sampai kebutuhan yang tidak pas yang akan mereka terima. Oleh karena itu, marilah berhati-berhati dalam memahami perkembangan pelayanan dijemaat kita yang kita layani. Amin

 

Selamat beraktifitas untuk kita semua

Salam Marturia

Pdt. Anna Vera Pangaribuan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here