Pelayanan Kerakyatan

0
710

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

Roma 1:8-15
(8) Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku oleh Yesus Kristus atas kamu sekalian, sebab telah tersiar kabar tentang imanmu di seluruh dunia. (9) Karena Allah, yang kulayani dengan segenap hatiku dalam pemberitaan Injil Anak-Nya, adalah saksiku, bahwa dalam doaku aku selalu mengingat kamu: (10) Aku berdoa, semoga dengan kehendak Allah aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu. (11) Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu, (12) yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku. (13) Saudara-saudara, aku mau, supaya kamu mengetahui, bahwa aku telah sering berniat untuk datang kepadamu — tetapi hingga kini selalu aku terhalang — agar di tengah-tengahmu aku menemukan buah, seperti juga di tengah-tengah bangsa bukan Yahudi yang lain. (14) Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar. (15) Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.

Kita sering mendengar ungkapan yang berbunyi: “Pelayanan Kerakyatan.” Ungkapan ini mengandung 2 arti. Pertama, pelayanan seorang pemimpin yang ditujukan kepada rakyatnya. Kedua, kehadiran pemimpin yang merakyat, maksudnya selalu berada di tengah-tengah rakyatnya. Yang pertama mencerminkan tingginya tanggung jawab sang pemimpin atas rakyat yang dipimpinnya, sedangkan yang kedua mencerminkan kedekatan sang pemimpin terhadap rakyatnya. Pemimpin sejati selalu memiliki pola pelayanan seperti ini. Akan tetapi, sekarang ini pola pelayanan kerakyatan jarang ditemui dalam diri pemimpin, baik di tingkat penyelenggara pemerintahan maupun kepemimpinan di bidang lainnya. Kalau pun ada seringkali itu hanya slogan belaka. Mereka berani mengaku dan berikrar bahwa dirinya ada untuk dan demi rakyat atau orang yang dpimpinnya. Tapi dalam kenyataannya mereka bertindak jauh dari apa yang diikrarkannya. Lihatlah, langkah dan upaya yang ditempuh, kebanyakan condong untuk kepentingan diri sendiri. Pemimpin yang seharusnya dekat dan dikenal oleh rakyatnya justru tidak dikenal atau menjadi asing bagi rakyatnya.

Bagaimana dengan kepemimpinan dalam gereja? Kepemimpinan dalam gereja adalah suatu panggilan pelayanan. Jika disebut begini, maka panggilan pelayanan ini tidak dapat tidak tidak harus menjalankan pola pelayanan kerakyatan. Rakyat yang dimaksud di sini pertama-tama adalah jemaat, dan selanjutnya rakyat pada umumnya. Pada aras jemaat, kepemimpinan gereja tanpa semangat pelayanan kerakyatan akan menciptakan ‘gap’ antara pemimpin (pelayan) dan jemaatnya. Lalu pada aras masyarakat, akan menjadikan gereja tertutup dari dunia di sekitarnya.
Paulus, sebagai salah seorang pemimpin gereja, dengan kuat menjalankan pola pelayanan kerakyatan kepada jemaat-jemaat yang dilayaninya. Tampak dalam bacaan tadi, bagaimana besarnya perhatiannya kepada jemaat di Roma (tentu juga sikap ini sama ditujukan kepada jemaat-jemaat lain yang dilayaninya). Ia sangat ingin menemui jemaat di Roma dan berada di tengah-tengah mereka. Ia ingin memberikan sesuatu kepada jemaat di sana. Akan tetapi ia berhalangan, sehingga ia tidak dapat datang. Tentang halangan yang dihadapinya, Paulus tidak mengada-ada. Sungguh memang dia berhalangan. Tapi dia tetap berharap bahwa suatu ketika dia dapat mengunjungi jemaat di Roma.

Apa halangan yang dihadapi oleh Paulus? Dia harus melayani jemaat yang ada di Korintus (darimana dia mengirim surat ini). Mengapa Paulus tidak dapat meninggalkan jemaat di Korintus? Oh jelas, karena dia mengemban tugas pelayanan kerakyatan. Di jemaat Korintus juga dia ingin mencurahkan perhatiannya, dia ingin ada di antara mereka. Tuhan masih menghendakinya berkarya bagi orang-orang di Korintus. Inilah halangan Paulus. Halangan yang tidak bisa dihindari karena dia ingin juga melakukan sesuatu bagi orang-orang Korintus. Dia ingin juga menerapkan pelayanan kerakyatan di sini.

Bagaimana dengan pelayanan kita? Bukankah banyak terjadi bahwa pelayanan kita tidak berjalan karena halangan-halangan yang tidak mendasar. Contohnya bapak Kumara, seorang Majelis Gereja Damai. Pada hari Jumat dia mendapat jadwal khotbah di Komisi Pemuda Gerejanya. Usai kerja dia bersiap-siap untuk pulang. Tiba-tiba seorang temannya menelponnya mengajak makan malam di suatu restauran terkenal. Karena jarang bertemu, dia mengiyakan ajakan temannya itu. Dia lalu menelepon majelis lainnya dan meminta menggantikan tugas pelayanannya sore itu, dengan alasan ada pertemuan khusus dengan mitranya. Hal seperti ini bukan hanya sekali dilakukan. Di komisi-komisi lain pun dia sering minta digantikan tugasnya. Akibatnya, dia kurang dekat dengan jemaatnya. Dia sendiri merasa seakan-akan asing bagi jemaatnya.

Kisah di atas hanyalah contoh kecil. Masih banyak alasan-alasan lain yang digunakan untuk menghindar dari pelayanan, seakan-akan kita sungguh berhalangan padahal tidak. Sikap seperti ini dapat merusakkan pelayanan. Untuk itu kita harus belajar dari Paulus, bagaimana dia mencurahkan perhatiannya bagi jemaat secara sungguh-sungguh. Jika berhalangan, maka halangannya adalah halangan yang sungguh tidak dapat dihindari. Ingat baik-baik kata paulus ini: “Karena Allah yang kulayani dengan segenap hatiku …” (ay 9a). Pelayanannya terhadap jemaat diemban dalam keyakinan: melayani Allah dengan sepenuh hati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here