Reformasi Negara Dan Reformasi Gereja (Berbagi Pikir)

0
507

Oleh: Pdt. Jacobus Manuputty

Hampir dua dasa warsa Reformasi di Indonesia yang sudah memasuki usia 72 Tahun merdeka ini, (17-8-1945), seharusnya menyentak Gereja Tuhan yang sebenarnya adalah “pelopor utama” dari gerakan Reformasi yang dilakukan oleh Martin Luther. Maksudnya, apakah Gereja masih sadar bahwa kalau bicara tentang Reformasi itu, maka Gereja seharusnya adalah tempat bertanya.. karena Gerejalah yang merintis gerakan Reformasi jauh sebelumnya. Namun kenyataan yang ada, Gereja terus alami pergumulan yang tidak ada habis-habisnya dalam soal-soal perubahan. Bicara tentang Reformasi artinya bicara tentang “Kemauan dan kemampuan memperbaiki diri”, keinginan untuk berubah kearah yang lebih baik, lebih terhormat dan lebih bermartabat. Ada kesediaan untuk mengintrospeksi diri, merobah pola-pola lama, baik pola pikir, cara pandang, peri kehehidupan, budaya, tata kerja dan tata kelola masalah-masalah hidup kini dan sampai Maranatha. Ini semua memerlukan wawasan berpikir yang luas, kesediaan diri untuk menerima kritik dan ada kemauan yang kuat untuk mau berubah, bertumbuh dan berkembang. Bukan sikap kaku, menutup diri dan merasa benar sendiri. Reformasi tidak akan terjadi apabila kita bersikap skeptis, menutup diri dan kaku terhadap perubahan, ditambah dengan sikap kesombongan yang merasa paling tau, paling benar sendiri dan paling hebat sendiri, sehingga tidak siap menerima kritik, saran dan gagasan yang baik dari manapun dan dari siapapun datangnya.

Ada 3 bentuk Reformasi yang selalu ada didalam sebuah organisasi, juga didalam Gereja Tuhan:
1. REFORMASI STRUKTURAL
2, REFORMASI KULTURAL
3. REFORMASI SUBSTANSIAL.

– Reformasi STRUKTURAL : adalah sebuah keniscayaan yang terus terjadi didalam sebuah organisasi, baik Negara maupun Gereja sekalipun, karena organisasi terus berkembang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman. Disinilah manejemen dan tata kelola organisasi serta sistem perlu terus ditata dan direlevansikan sehingga mampu menjawab tuntutan dan kebutuhan anggota organisasi. Diperlukan manejer-manejer yang handal dan kredibel serta takut akan Tuhan.

– Reformasi KULTURAL : adalah hal yang sangat elementer dan penting karena menyangkut perubahan sikap dan mentalitas anggota-anggotanya didalam organisasi tersebut, guna menata kelola dan mencapai tujuan-tujuan bersama organisasi. Disini manusia adalah faktor penting yang kadang sangat menentukan berhasil tidaknya tujuan-tujuan organisasi, baik atau buruknya organisasi tergantung kultur atau budaya manusianya..”The Man Behind The Gun”. Diperlukan manusia-manusia yg selain terampil juga jujur, mumpuni dan takut akan Tuhan serta punya kredibilitas, sehingga antara kata dan laku sama.

– Reformasi SUBSTANSIAL : adalah prioritas-prioritas utama yg sangat-sangat mendasar serta selektif bagi kepentingan dan tujuan-tujuan besar jangka panjang organisasi, program dan rencana-rencana kerja, karena menjadi kebutuhan yang sangat-sangat substansial. Jadi hal-hal “remeh temeh” tidak lagi dibahas disini, hal-hal taktis dan tehnis organisatoris tidak lagi mendapat tempat disini, tetapi yg Substansial dan punya Nilai Tambah bagi kemaslahatan orang banyak dan Kemuliaan Tuhan. Karena itu Gereja jangan lagi terlalu sibuk dengan masalah-masalah tehnis administratif sehingga tidak mampu melihat dengan jeli hal-hal strategis substansial. Jangan sampai Tuhan datang kedua kalinya, Gereja belum mampu mereformasi dirinya dan masih terus sibuk mengurus hal-hal “remeh-temeh” yang tidak penting. Apalagi kalau tiba-tiba Tuhan datang mendapati Gereja-Nya sedang bertikai, hukumannya dua kali lipat.

Mari kita songsong Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia yang ke-72! Gb.
With my sist in Christ, Getruida Ferdinandus. Gb!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here