Pdt. Weinata Sairin: “Ut homines sunt, ita morem geras. Seperti halnya orang-orang lain demikianlah hendaknya engkau menunjukkan adat istiadat yang baik”.

0
418

Hidup manusia ditengah sebuah masyarakat terikat erat dengan tradisi kultural, norma, kaidah dan adat istiadat yang hidup di sesuatu wilayah. Indonesia sebagai negara yang terkenal amat kaya dengan berbagai kebudayaan daerah tentu mengenal dengan baik adat istiadat dari setiap daerah wilayahnya. Adat istiadat adalah ciri khas suatu daerah yang melekat sejak dulu dalam kehidupan suatu masyarakat. Banyak sekali adat istiadat yang hidup dalam masyarakat sejak zaman dahulu kala.

 

Menurut beberapa kamus termasuk KBBI, adat istiadat adalah himpunan kaidah-kaidah sosial yang telah ada sejak lama dan telah menjadi kebiasaan dalam masyarakat. Adat juga merupakan kumpulan tata kelakuan yang paling tinggi kedudukannya karena bersifat kekal dan terintegrasi sangat kuat terhadap masyarakat yang memilikinya.

 

Kita harus jujur mengakui peranan orang tua dalam mengajarkan adat istiadat yang baik kepada anak-anaknya. Misalnya bagaimana kita harus mengucap terima kasih kepada orang lain yang memberi pertolongan dan atau memberikan sesuatu kepada kita. Kita mesti mengucapkan ‘selamat pagi’, ‘selamat siang’, ‘selamat malam’ kepada siapapun yang kita temui pada saat-saat itu. Ya adat istiadat memang berkait erat dengan ‘sopan santun’ dengan etika pergaulan yang punya dampak besar dalam membina relasi antar manusia. Dengan tekun orang tua mengajarkan dan mewariskan adat istiadat yang baik kepada anak-anaknya dan berpesan agar hal serupa dilakukan juga oleh kita kepada anak-anak kita di masa datang.

 

Para orang tua takhenti-hentinya berpesan agar kita anak-anaknya selalu berbuat baik dalam hidup yang sementara ini, bahkan lebih jauh orang yang beradat-istiadat baik selalu bersedia Ikhlas berkurban demi menolong orang lain, demi kepentingan orang lain. Sebuah cerita menarik tentang *pengurbanan* dari zaman baheula baik kita cermati untuk bahan pembelajaran. Seorang bernama St.Vincen de Paul suatu saat berkunjung ke sebuah dapur di Marseilles Prancis, yang isinya adalah para budak. Dari antara budak-budak itu ia melihat seorang budak yang sedang murung, dibanding budak budak yang lain. “Coba katakan padaku sahabat apa sebenarnya yang membuat engkau murung !” kata Paul dengan ramah.

Baca juga  SUKACITA DI SORGA

 

“Mengapa engkau nampak begitu sedih?” tanya Vincent. “Istri dan anakku kini jauh dariku; aku ingin berjumpa dengan mereka!” kata sang budak. “Aku ingin sekali bertemu dengan mereka hanya saja waktunya akan sangat lama bagiku untuk bisa bertemu!” Vincent kemudian memutuskan bahwa dirinya akan menyamar sebagai budak dengan memakai pakaian budak dan menggantikan tempat budak yang murung itu. Budak itu bisa pulang menemui istri dan anaknya untuk melepas kerinduannya. Tetapi Vincent dikenal cepat sehingga akhirnya ia dibebaskan dan sang budak harus kembali ke posisi semula. Berbuat baik kepada orang lain tanpa mempertimbangkan status seseorang memang sangat perlu. Itu adalah wujud nyata dari adat istiadat yang baik.

 

Pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini mengingatkan kita agar kita menunjukkan adat istiadat yang baik. Dalam dunia yang makin modern “adat istiadat” dianggap barang kuno dan tidak lagi relevan dengan zaman yang sudah memasuki era digital. Pada hal adat istiadat yang baik yang di praktekkan dalam kehidupan bisa meniadakan ujaran kebencian, kata–kata kasar dan penuh arogansi yang tiap hari bertebaran dalam ruang publik. Mari dengan tekun kita praktekkan adat istiadat yang baik dalam dunia nyata.

 

Selamat berjuang. God bless

 

Weinata Sairin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here