Pdt. Weinata Sairin: “A mistake doesn’t become a mistake until you refuse to correct it” (O.A. Batista).

0
372

Dalam menjalani kehidupan yang maha luas, besar dan rumit, manusia tak pernah lepas dari kesalahan. Kesalahan itu terjadi bisa oleh karena banyak faktor, baik internal maupun eksternal. Bahkan tanpa sengaja atau tanpa disadari kesalahan itu bisa saja terjadi. “Kesalahan” adalah sesuatu yang biasa terjadi dalam bidang apapun dan dimanapun, terutama sekali pada tahap-tahap awal. Itulah sebabnya dalam dunia kerja kita mengenal “masa magang”, atau “masa percobaan”. Pada masa-masa itu para calon pegawai dilengkapi  berbagai ilmu baik teori maupun praktek dan pada masa-masa itu juga kesalahan yang sempat terjadi bisa diperbaiki. Pembimbingan secara efektif dilakukan pada masa-masa magang dan atau masa persiapan.

 

Istilah “kesalahan” adalah istilah umum, biasa, dan sekuler. Ada istilah yang lebih dalam dari “kesalahan” yaitu istilah “dosa”, yang biasanya digunakan dalam konteks agama.

 

Setiap orang dalam kapasitas apapun, memiliki kompetensi apapun tak pernah lepas dari kesalahan. Kesalahan itu bisa kecil dan ringan, misalnya salah dalam menyebut nama dan gelar seseorang pada saat  pidato di depan publik atau salah mengetik nama dan jabatan seseorang tatkala pembuatan Surat Keputusan. Namun ada juga kesalahan yang cukup besar misalnya menurunkan jabatan seseorang (demosi) berdasarkan informasi yang salah. Biasanya kesalahan yang dianggap besar dan merugikan publik berujung pada proses hukum. Hal ini membuktikan makin tingginya kesadaran hukum warga mayarakat yang patut diapresiasi.

 

Kita bersyukur bahwa masyarakat kita memiliki tradisi yang kuat yang berbasis keagamaan, yaitu tradisi untuk saling memaafkan. Setiap seseorang melakukan kesalahan baik kepada pribadi, komunitas maupun institusi ia langsung memohon maaf. Dengan tradisi seperti itu, relasi yang diwarnai dendam, atau dendam kesumat tidak pernah mewujud dan atau mendapat ruang.

Baca juga  Intip Pasar Indonesia, Protech Tawarkan Produk Ramah Difabel

 

Pada hari raya keagamaan seperti Hari Raya Idul Fitri ucapan mohon maaf lahir batin dinyatakan sebagai bagian dari kegembiraan hari raya. Di lingkup umat kristiani peringatan dan ibadah akhir tahun, perayaan Tahun Baru acap digunakan juga untuk saling memohon maaf diantara anggota keluarga dan umat. Walaupun kita tidak menafikan juga bahwa setiap kali melakukan kesalahan, seseorang bisa langsung memohon maaf.

 

Sebagai umat beragama kita telah memahami benar bagaimana agama kita telah mengajarkan agar kita hidup dengan saling memaafkan, saling mengampuni. Kita diingatkan juga bahwa kita bisa memohon pengampunan dari Tuhan Yang Maha Esa, jika kita bersedia mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita. Tidak mungkin kita memohon pengampunan kepada Tuhan, jika kita sendiri tidak bersedia mengampuni orang yang bersalah kepada kita.

 

Sama seperti Tuhan yang tidak pernah terbatas dalam mengampuni manusia, maka manusia dalam mengampuni sesamanya tidak pernah mengenal batas waktu.

 

Pepatah yang dikutip diatas menyatakan bahwa “kesalahan tidak akan melahirkan kesalahan kecuali jika kita menolak untuk mengoreksinya”. Kita harus segera memperbaiki setiap kesalahan yang kita buat agar tidak muncul kesalahan baru. Kita harus segera bertobat dari dosa-dosa yang kita perbuat!

 

Selamat Berjuang. God bless.

 

Weinata Sairin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here