Peduli Terhadap Sesama Manusia

0
9420

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

Keluaran 23:10-13

(10) Enam tahunlah lamanya engkau menabur di tanahmu dan mengumpulkan hasilnya, (11) tetapi pada tahun ketujuh haruslah engkau membiarkannya dan meninggalkannya begitu saja, supaya orang miskin di antara bangsamu dapat makan, dan apa yang ditinggalkan mereka haruslah dibiarkan dimakan binatang hutan. Demikian juga kaulakukan dengan kebun anggurmu dan kebun zaitunmu. (12) Enam harilah lamanya engkau melakukan pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh haruslah engkau berhenti, supaya lembu dan keledaimu tidak bekerja dan supaya anak budakmu perempuan dan orang asing melepaskan lelah. (13) Dalam segala hal yang Kufirmankan kepadamu haruslah kamu berawas-awas; nama allah lain janganlah kamu panggil, janganlah nama itu kedengaran dari mulutmu.”

 

Bacaan ini adalah bagian dari rentetan peraturan Allah untuk umat-Nya. Pada ayat-ayat sebelumnya, ayat 1-9, Allah menyampaikan kehendak-Nya agar manusia melakukan yang terbaik bagi sesamanya. Diantaranya adalah agar manusia bertindak adil dan tidak memihak kepada kejahatan, kepunyaan musuh harus dilindungi dan dikembalikan, bertindak adil menurut keadilan Allah, berbelas kasih kepada orang asing dst.

Dalam ayat 10-13 ini Allah pertama-tama menghendaki agar manusia peduli terhadap sesamanya yang miskin. Kepedulian itu diwujudkan dalam cara yang telah diatur oleh Allah sendiri. Nyata sekali di sini kedalaman kasih Allah kepada mereka yang miskin. Ia peduli terhadap mereka. Allah peduli, tetapi manusia sering tidak peduli. Untuk soal materi manusia memang sering melupakan sesamanya. Keinginan umum manusia adalah menambah dan terus menumpuk apa pun untuk dimiliki sendiri. Mereka lupa bahwa apa yang mereka terima itu bersumber dari Allah. dan segala sesuatu yang berasal dari Allah datang kepada manusia sebagai berkat. Salah satu sifat berkat adalah jangan ‘dimakan’ sendiri. Kita harus membaginya kepada sesama yang memerlukan. Bagaimana membaginya kepada sesama? Bagi umat Allah (yang hidup dalam dunia pertanian) dalam konteks bacaan ini, Allah menyuruh mereka agar setiap tujuh tahun sekali hasil panennya (gandum atau anggur) diberikan seluruhnya kepada orang-orang miskin untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mungkin kita berpikir bahwa tujuh tahun adalah jangka waktu yang cukup panjang, lalu selama itu orang miskin harus bagaimana. Perlu diketahui bahwa peraturan ini khusus menyangkut hasil panen. Di luar itu Allah juga telah mengatur bagaimana umat-Nya harus membantu kaum miskin dengan cara tertentu.

Baca juga  GEREJA 57 SEN

Memberikan hasil panen seluruhnya? Ya, seluruhnya, dalam kurun waktu tujuh tahun sekali. Israel sebagai umat Allah harus mematuhinya. Dengan cara ini mereka dididik oleh Allah untuk peduli dengan sesamanya yang menderita karena kemiskinan.

Selain itu, Allah menyuruh mereka juga untuk mentaati hari Sabat. Kita tahu bahwa hari Sabat adalah hari “istrahat” Tuhan dalam masa penciptaan-Nya. Selain untuk datang menyembah Tuhan, pada hari itu juga umat-Nya harus berhenti dari segala pekerjaannya dan beristrahat. Allah telah memberi contoh agar manusia dapat hidup secara manusiawi. Bahwa manusia harus bekerja, betul, tetapi dia juga perlu beristrahat. Tanpa istrahat tubuhnya akan menjadi lemah karena kelelahan. Lebih dari pada itu, tanpa beristrahat manusia telah ‘mempertuan’ pekerjaan, dimana dia adalah budaknya. Allah tidak menyukai hal ini karena Dia adalah ‘Tuan’ satu-satunya dari manusia. Tentu yang beristrahat di sini bukan hanya majikan, tetapi juga para pelayan dan bahkan hewannya. Di sini kita melihat bagaimana Allah menyayangi semua makhluk ciptaan-Nya. Di sini juga kita melihat bagaimana Allah mengerti betul cara memulihkan potensi kerja manusia dan hewan. Jika kelelahannya telah sirna setelah cukup beristrahat, maka ia dapat bekerja kembali dengan daya dan semangat yang prima.

Makna inti dari aturan Tuhan di atas adalah menuntun manusia agar peduli terhadap sesamanya yang menderita. Yesus pun mengajarkan kita hal yang sama lewat Hukum Kasih yang selalu dikumandangkan-Nya. Oleh karena itu kita harus mengasihi siapapun yang menderita dan membutuhkan pertolongan. Bagaimana caranya dan apa pedomannya? Yesus! Dia telah memberikan pedoman yang baru melalui teladan diri-Nya. Lihatlah apa yang dilakukan-Nya dalam setiap pelayanan-Nya. Ia menemui, bergaul dan membantu orang-orang susah. Dan secara mengejutkan Dia telah berkata: “…sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk-Ku.” Yesus solider dan mengidentikkan dirinya dengan mereka yang menderita dan terhina. Jika kita ingin berbuat untuk Yesus, datanglah, temuilah dan kasihilah mereka yang menderita, miskin dan terhina. Jangan biarkan mereka sengsara pada hal kita dapat menolongnya. Yesus akan tersenyum bahagia atas setiap perbuatan baik umat-Nya kepada kaum menderita.

Baca juga  GEREJA 57 SEN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here