Perlombaan Iman

0
1131

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

Ibrani 12:1-4, 12-13

(1) Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. (2) Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. (3) Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. (4) Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah.

—–

(12) Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; (13) dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.

 

Kehidupan kita sebagai orang Kristen mempunyai tujuan, yaitu hidup dalam kesatuan dengan Tuhan Yesus. Dengan demikian, kita adalah peziarah yang terus berjalan menuju tujuan itu. Dalam peziarahan tersebut patutlah kita bertanya terus, “Apakah hari ini saya lebih maju dari kemarin?”

Kita mempunyai banyak contoh bagaimana orang-orang beriman sebelum kita telah berjuang dengan teguh demi iman mereka. Penulis surat Ibrani menyebut mereka sebagai saksi yang tidak kelihatan, seperti awan yang mengelilingi kita. Saksi-saksi itu adalah mereka yang telah menang dalam pertandingan imannya. Perjuangan mereka dapat memberi inspirasi bagi kita dalam memperjuangkan iman kita ke arah yang lebih baik.

Untuk meningkatkan “mutu” iman kita dari hari ke hari, maka kita harus berani melawan rintangan dalam diri kita. Rintangan itu adalah dosa yang dapat menjadi beban hidup orang beriman. Kita harus membuang beban dosa itu agar kita dapat bertanding lebih baik. Seperti seorang atlit yang bertanding, dia tidak akan membebani dirinya dengan hal-hal berat supaya dia dapat berlari dengan kencang.

Melawan dosa bukanlah hal mudah. Kita harus melakukannya dengan tekun dan sabar, sambil terus memandang kepada Yesus. Sebab, bagaimana pun kukuhnya kita melawan dosa, tapi jika kita kehilangan orientasi pada Yesus, maka semuanya akan sia-sia. Dengan kata lain, hal menanggalkan dosa hanya dapat berlangsung dalam iman yang sungguh kepada Yesus. Kita betul-betul merindukan kelepasan hidup kita dari dosa dengan menyerahkan diri kepada-Nya. Jika kita bersandar pada-Nya, Ia akan melepaskan kita dari dosa (bnd. Roma 6:14). Jadi, kita harus tetap teguh dan sabar di dalam iman.

Kesabaran di sini bukan berarti duduk menunggu dan bertopang dagu saja. Sebaliknya, kita harus mengambil sebuah keputusan secara matang dan terus bertindak. Ini berarti, perjuangan iman kita membutuhkan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kedua hal itu adalah pertolongan Tuhan dan upaya kita untuk memperbaiki diri.

Dalam semuanya ini, kita mempunyai teladan utama yaitu Yesus Kristus. Kita tahu bahwa dalam mencapai tujuan-Nya, Yesus sabar menanggung penderitaan-Nya. Ia siap menanggung setiap resiko yang muncul dalam setiap perjuangan-Nya. Yesus meninggalkan kemuliaan yang dimiliki-Nya. Ia masuk dalam dunia dan menderita demi manusia yang dikasihi-Nya. Ia mengabaikan kehinaan-Nya dan tekun memikul salib penderitaan dunia. Bahkan Ia merelakan nyawa-Nya agar manusia selamat dari dosanya. Ia rela menderita agar manusia hidup dalam sukacita keselamatan-Nya. Yesus telah ‘berlari’ dalam suatu perlombaan dan Ia mengalami banyak rintangan dan kesusahan, tetapi Dia telah menang. Karena Dia telang menang, maka kita juga dapat dimenangkan-Nya, selama mata kita terus tertuju kepada-Nya.

Berdasarkan teladan Yesus itu, kini kita dipanggil untuk hidup dalam iman kepada-Nya. Hal ini sering mendatangkan penderitaan bagi kita. Penderitaan adalah salib yang harus kita pikul dalam ketekunan. Penderitaan yang ada bukan diberikan untuk mencelakakan kita, melainkan untuk kebaikan kita yang sebesar-besarnya. Kita menjalaninya dengan keyakinan bahwa di akhir penderitaan itu ada kebahagiaan.

Bersyukurlah bahwa kita boleh menghadapi penderitaan. Bersama Yesus kita akan dapat menghadapi segala pendeitaan iman. Ia tidak pernah membiarkan kita berjalan sendiri. Ia selalu hadir di antara kita dan malah ikut menanggung panderitaan kita sekarang ini.

Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh. Maksud ayat ini adalah supaya kita jangan bimbang dan ragu lagi melangkah dalam iman kepada Yesus. Bahkan kita harus saling menguatkan dan saling menopang agar jangan ada yang jatuh. Dan kalau ada yang mulai bimbang, agar hatinya dikuatkan dan kembali percaya. Dengan kembali percaya, mata kita akan tetap teruju kepada-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here