Ingin Menjadi Wirausaha Sosial yang Sukses? Ini Kuncinya!

0
6

Ingin Menjadi Wirausaha Sosial yang Sukses? Ini Kuncinya!

 

Jakarta, Suarakristen.com

 

Perkembangan wirausaha sosial atau yang lebih populer dengan istilah social enterprise, merupakan sebuah peluang baru yang mulai disadari oleh berbagai kalangan. Meski belum ada data pasti mengenai total jumlah wirausaha sosial di seluruh dunia, beberapa negara merilis jumlah wirausaha sosial di negaranya. Berdasarkan data terakhir dari hasil estimasi studi British Council (2018), Indonesia memiliki sekitar 342.000 wirausaha sosial yang terdaftar. Menyadari perkembangan wirausaha sosial yang dapat membantu menjawab permasalahan sosial, Bank DBS Indonesia sebagai perusahaan yang mengedepankan bisnis berkelanjutan percaya wirausaha sosial merupakan masa depan bisnis dan untuk itu secara konsisten memberikan dukungannya untuk bergerak bersama.

DBS Foundation sebagai yayasan yang menjadi bagian dari Bank DBS Indonesia hadir untuk senantiasa memperjuangkan tumbuh kembang wirausaha sosial di Indonesia melalui berbagai inisiatif. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah penerbitan buku lanjutan dari “Berani jadi Wirausaha Sosial” yang berjudul “Profit untuk Misi Sosial”.

“Kami menyadari bahwa memastikan keberlangsungan dan tumbuh kembang wirausaha sosial merupakan bagian dari tanggung jawab Bank DBS Indonesia, mengingat wirausaha sosial merupakan tipe usaha masa depan; menganut konsep dual bottom line – profit dan dampak sosial, program-program kami tidak hanya mampu untuk meningkatkan pertumbuhan suatu usaha sekaligus menguatkan perekonomian namun juga mampu menjawab berbagai isu-isu sosial di saat yang bersamaan. Oleh karena itu, pada Agustus 2020 lalu, Bank DBS Indonesia melalui DBS Foundation kembali menggandeng UKM Center FEB UI untuk menyusun seri buku kedua yaitu “Profit untuk Misi Sosial”. Kali ini para pembaca diajak untuk memahami lebih jauh tentang bagaimana berkembangnya informasi, tren dan jenis kewirausahaan sosial yang mampu menghasilkan profit sambil mengusung misi sosial mereka,” ujar Head of Group Strategic Marketing and Communications, PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika.

“Sejauh ini, dari sekian banyak korporasi yang mendukung tumbuh kembang wirausaha sosial di Indonesia, saya melihat bahwa Bank DBS Indonesia adalah korporasi yang paling serius dalam memberikan kontribusinya. Bagaimana Bank DBS Indonesia sangat thoughtful dalam menunjukkan kepedulian terhadap wirausaha sosial secara menyeluruh; memiliki perencanaan (master plan), peta kerja (work plan), hingga tahapan (staging) yang jelas dan end-to-end untuk mendukung sektor ini,” ungkap Co-founder @ukmindonesiaid dan salah satu penulis “Profit untuk Misi Sosial”, Dewi Meisari.

Baca juga  DETENTION, Pemenang Golden Horse Awards

Kendati masih seumur jagung dibanding negara-negara lain yang telah melakukan pencatatan dan pembuatan aturan klasifikasi wirausaha sosial secara mumpuni, jumlah wirausaha sosial di Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar yang dapat dimanfaatkan dan digali lebih lanjut. Oleh karena itu, aspek penting apa yang perlu dipahami para wirausaha sosial agar dapat menjalankan bisnis sosial yang dapat memberikan dampak maksimal? Berikut adalah rangkuman informasi yang tersaji dalam buku “Profit untuk Misi Sosial”:

1. Kenali inisiatif bisnis untuk dunia yang lebih baik

Untuk memberikan dampak sosial, terdapat beragam praktik bisnis yang perlu diketahui, terutama bagi para calon wirausaha sosial sebagai bekal untuk memulai bisnis. Saat ini, terdapat berbagai pilihan bentuk praktik bisnis yang bisa dipilih dan dijalankan di Indonesia. Diantaranya adalah Kooperasi, SE (Social Enterprise), CSR (corporate social responsibility); program kepedulian sosial untuk mendukung kegiatan sosial tertentu yang berlangsung secara berkelanjutan, serta CSV (Corporate Shared Value), yaitu perusahaan yang mengedukasi segmen masyarakat tertentu untuk bisa mengerjakan suatu aktivitas sesuai standar perusahaan agar dapat memperkuat rantai nilai perusahaan dan akhirnya memberikan hasil positif bagi profitabilitas perusahaan. Selain itu, ada Social Business yaitu perusahaan zero-deviden yang memberikan pelayanan atau menjual produk untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat kalangan Bottom of Pyramid atau segmen masyarakat dengan tingkat kesejahteraan 40% terbawah di suatu wilayah perekonomian tertentu, dan Inclusive Business atau jenis perusahaan yang aktivitas bisnisnya membuka kesempatan partisipasi bagi masyarakat dari kalangan Bottom of Pyramid dalam rantai nilainya, baik sebagai pemasok maupun konsumen.

2. Pilih model wirausaha sosial yang tepat

Setelah mengetahui bentuk bisnis apa yang bisa dijalankan, maka selanjutnya wirausaha sosial perlu memahami dan memilih jenis, kriteria dasar, tipe, dan model bisnis yang dipilih, agar dapat lebih tepat sasaran. Misalnya, jenis Social Enterprise berdasarkan struktur kepemilikannya adalah SE-nirlaba yang dimiliki oleh masyarakat, bukan individu atau investor; atau Community Based SE yang struktur kepemilikannya kolektif atau Usaha Bersama seperti Kooperasi; dan ada juga Profit for Benefit Social Enterprise yang struktur kepemilikannya bersifat privat, namun memiliki komitmen untuk menginvestasikan kembali laba untuk mendukung misi sosial dengan proporsi yang lebih besar daripada dividen yang akan diambil untuk para pemiliknya. Hal yang perlu diingat adalah menentukan pilihan yang sesuai dengan perencanaan matang.

Baca juga  Unsur KRI Guspurla Koarmada I Gelar Latihan Yudha Kridha 20 di Perairan Laut Natuna

3. Pahami ekosistem wirausaha sosial

Tidak ada salahnya memiliki impian yang tinggi, namun untuk mencapainya, konsistensi baik internal maupun eksternal amat diperlukan. Misalnya, dengan memperhatikan berbagai aspek seperti finansial, dukungan pemerintah, ketersediaan tenaga kerja, hingga penerimaan dari masyarakat perlu diperhatikan. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman atas ekosistem pendukung kewirausahaan sosial, termasuk pola tantangan yang umumnya dihadapi social enterprise, strategi cerdik untuk scaling-up, serta strategi bijak untuk transformasi menjadi social enterprise.

4. Temukan sumber daya yang tepat

Dalam memulai sebuah bisnis, sumber daya yang diperlukan bukan hanya manusia sebagai tenaga kerja, tetapi juga ada sumber daya lain seperti keuangan, bahan, keahlian, dan lainnya. Sumber daya menjadi hal yang penting untuk diperhatikan karena hal tersebut yang akan menentukan kelangsungan suatu bisnis.

5. Sebesar apa dampak yang ingin diciptakan

Tatkala memulai usaha sosial, tentu selain profit, wirausaha sosial juga memikirkan dampak yang berhasil diciptakan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, wirausaha sosial dapat mengukur dampak sosial menggunakan indikator dampak yang dimonitor secara berkelanjutan untuk melihat tingkat keselarasan dengan premise of change. Hal ini akan membantu wirausaha sosial dalam mengukur besar usaha dan jangkauan bahkan jumlah sumber daya yang dibutuhkan dengan analisis yang jelas.

“Seiring dengan perkembangan wirausaha sosial di Indonesia serta masyarakat yang mulai memberikan perhatian lebih, buku kedua ini lahir untuk melengkapi seri pertamanya yang dikemas secara sederhana sehingga dapat dipahami dengan mudah. Pada akhirnya, kami berharap buku elektronik ini dapat membantu pembaca termasuk wirausaha sosial agar lebih berkembang, serta menginspirasi dan menstimulasi masyarakat untuk melahirkan wirausaha sosial baru di Indonesia,” tutup Mona.

Baca juga  Menko Luhut Ditemui Presiden Donald Trump di White House

Untuk mengetahui lebih dalam tentang kelima aspek di atas, Anda dapat mengunduh Buku “Profit Untuk Misi Sosial” secara gratis di go.dbs.com/id-sehb.

***

Tentang DBS

DBS adalah grup jasa keuangan terkemuka di Asia, dengan kehadiran di 18 pasar, berkantor pusat dan terdaftar di Singapura, DBS berada dalam tiga sumbu pertumbuhan utama Asia: Cina, Asia Tenggara, dan Asia Selatan. Peringkat kredit “AA-” dan “Aa1” DBS termasuk yang tertinggi di dunia.

Dikenal dengan kepemimpinan globalnya, DBS dinobatkan sebagai “World’s Best Bank” oleh Euromoney, “Global Bank of the Year” oleh The Banker dan “Best Bank in the World” oleh Global Finance. DBS berada di garis terdepan dalam memanfaatkan teknologi digital untuk membentuk masa depan perbankan, yang terpilih sebagai “World’s Best Digital Bank” oleh Euromoney. Selain itu, DBS telah mendapatkan penghargaan “Safest Bank in Asia” dari Global Finance selama 12 tahun berturut-turut sejak 2009 hingga 2020.

DBS menyediakan berbagai layanan lengkap untuk nasabah, SME dan juga perbankan perusahaan. Sebagai bank yang lahir dan dibesarkan di Asia, DBS memahami seluk-beluk berbisnis di pasar paling dinamis di kawasan. DBS bertekad membangun hubungan langgeng dengan nasabah, dan berdampak positif terhadap masyarakat melalui dukungan perusahaan sosial dengan cara bank-bank Asia. DBS juga telah mendirikan yayasan dengan total dana senilai SGD50 juta untuk memperkuat upaya tanggung jawab sosial perusahaan di Singapura dan di seluruh Asia.

Dengan jaringan operasional ekstensif di Asia dan menitikberatkan pada keterlibatan dan pemberdayaan stafnya, DBS menyajikan peluang karir yang menarik. DBS mengakui gairah, tekad, dan semangat 29.000 karyawannya, yang mewakili lebih dari 40 kebangsaan. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi www.dbs.com.

“””

(Ben)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here