Peluncuran Buku “Selagi Masih Siang: Catatan Perjalanan Pdt. Dr. Soritua Albert Ernst Nababan, LlD”

0
103

Peluncuran Buku
“Selagi Masih Siang: Catatan Perjalanan Pdt. Dr. Soritua Albert Ernst Nababan, LlD”

 

Jakarta, Suarakristen.com

 

Sabtu 15 Agustus 2018 pukul 10.00 WIB, diselenggarakan peluncuran buku Selagi Masih Siang: Catatan Perjalanan Pdt. Dr. Soritua Albert Ernst Nababan, LlD. Launching ini dilakukan secara virtual dengan platform zoom meeting dan disiarkan secara live lewat akun facebook dan youtube: SAE Nababan.

Peluncuran ini diisi diskusi dan refleksi terkait hal-hal yang diunggah dalam buku. Selain penulis, Pdt SAE Nababan, buku ini juga akan ditanggapi beberapa panelis yaitu: Pdt. Dr. Henriette Lebang (Ketua Umum PGI 2014-2019), Muhammad A.S Hikam, Ph.D. (Aktivis, peneliti, Menristek RI 1999-2001) dan Prof. Dr. Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo (Uskup Agung Jakarta).

Acara ini dipandu oleh Aviva Nababan dan diisi pula testimoni dari sejumlah tokoh nasional dan internasional.

SAE Nababan merupakan pendeta di Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Ia lahir di Tarutung 24 Mei 1933 dan menempuh studi teologia di Sekolah Tinggi Teologia Jakarta (sekarang STFT Jakarta) lalu Universitas Heidelberg Jerman. Selain terlibat karya penggembalaannya sebagai seorang pendeta, Pdt. Nababan juga aktif dalam berbagai gerakan ekumenis di tingkat nasional dan dunia.

SAE dikenal kritis dan vokal menyuarakan isu kemanusiaan dan keadilan saat mengemban peran sebagai pimpinan gereja, baik di Dewan Gereja-gereja Indonesia maupun HKBP. Dalam banyak sisi, hal ini kerap membuatnya harus berhadap-hadapan dengan kepentingan rezim Orde Baru.

Itu terjadi misalnya saat pembahasan mengenai sasaran dakwah keagamaan, persoalan asas tunggal Pancasila, hingga yang paling terlihat, saat intervensi rezim Orba pada krisis HKBP 1992-1998, ketika ia menjadi pimpinan sinode gereja tersebut.

Baca juga  ERAJAYA GROUP GELAR ERAFONE FAIR 2020

Hal-hal demikian yang membuat suami dari Alida Lientje Lumbantobing M.Sc ini dekat dengan tokoh progresif masa itu seperti K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri dan Prof. Amien Rais. Ini pula yang membuatnya terlibat dalam memfasilitas pertemuan demi mengkonsolidasikan kekuatan sosial-politik jelang reformasi, hal yang belakangan berbuah Deklarasi Ciganjur.

Cerita-cerita tersebut terekam dengan gaya refleksi pada buku Selagi Masih Siang. Buku yang mengambil judul dari pesan Yesus di Injil Yohanes tersebut menyiratkan dua semangat pesan bagi gereja dan masyarakat di Indonesia. Yaitu sebagai harapan dan kesempatan untuk terus giat berkarya, sekaligus lecutan untuk segera berbenah.

Buku terbitan BPK Gunung Mulia setebal 456 halaman ini terdiri dari 10 bab. Dimulai dengan mengulas secara kronologis perjalanan SAE dari masa kecilnya di Tarutung dan Siborongborong, studi yang ditempuhnya di Jakarta hingga di Jerman, serta kiprahnya di gerakan ekumenis Indonesia dan dunia.

Kisah itu kemudian berkelindan dengan cerita SAE menjadi pendeta lalu menjadi pemimpin gereja di masa Orde Baru hingga jelang reformasi.

Tak hanya bercerita pengalaman, ide dan pemikiran soal peran gereja bagi kehidupan sosial masyarakat, terutama suara keadilan dan perdamaian juga tersebar di banyak bagian buku ini. Hal yang masih relevan untuk didiskusikan oleh gereja maupun masyarakat demokratis Indonesia.

SAE Nababan percaya setiap generasi menghadapi masalah dan tantangan zamannya tersendiri. Itu pula yang mendorong dirinya menuliskan catatan perjalanan ini, meski cukup lama ia ragu, karena khawatir tidak bisa mencegah kesan menonjolkan diri sendiri.

“Lewat buku ini saya ingin berbagi soal bagaimana generasi kami menghadapi permasalahan dan tantangan di zaman kami terkait gereja, masyarakat, negara serta dunia yang tentu berbeda dengan tantangan sekarang. Mudah-mudahan saat generasi masa kini membandingkan pengalaman ini, dapat menjadi hal yang berguna,” ungkap Pdt. SAE.

Baca juga  Karantina Pertanian Merauke Sasar Kampung Kelapa di Makaling Jadi Desa Gratieks

Kesaksian atas apa yang dialami saat terlibat dalam sejumlah permasalahan, juga diharapkan memberi informasi dan pemahaman yang lebih luas soal hal-hal kontroversial selama ini seperti krisis HKBP, keterlibatan gereja dalam masa jelang reformasi serta sikap gereja saat berhadapan dengan rezim Orde Baru.

Tim Sosialisasi Buku Selagi Masih Siang
Koordinator: Basar Daniel (0812-2247-0324)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here