PDT. WEINATA SAIRIN: MEWUJUDKAN AJARAN AGAMA DALAM HIDUP NYATA

0
372

_”Corruptio optimi pessima. Pembusukan (moral) dari orang yang tertinggi kedudukannya adalah yang paling jelek”._

Berada di tempat yang tinggi memiliki berbagai dampak, baik positif maupun negatif. Dalam posisi ketinggian tertentu seseorang dengan bebas dan jelas bisa melihat semua benda yang berada dibawah, gedung-gedung tinggi, hamparan sawah dan berbagai benda lainnya. Dalam posisi yang tinggi itu maka kita harus sangat berhati-hati agar seseorang tidak sampai terpeleset yang bisa menyebabkan ia jatuh kebawah dan akhirnya semuanya bisa _selesai_. Berada pada posisi dan tempat yang tinggi membuat seseorang menjadi pusat perhatian dari banyak orang dari berbagai level. Dalam konteks itu posisi seseorang yang berada di tempat yang tinggi bisa dijadikan ukuran, model, standar bagi orang lain dalam rangka mereka melakukan sesuatu. Seseorang yang dalam posisi “tinggi” diteladani, ditiru oleh berbagai komunitas karena seseorang dianggap telah berhasil dalam proses pencapaian.

Berkedudukan tinggi sebenarnya lebih berat tingkat tantangan dan bahayanya dibanding  dengan orang yang berada di gedung yang tinggi. Bahaya dan tantangan tatkala kita berada di gedung tinggi lebih banyak pada aspek yang berkaitan dengan fisik. Seorang kawan yang berkantor di gedung tinggi, lantai 11, pernah berkisah tentang lift yang macet sehingga pintu lift tidak bisa terbuka selama hampir 7 menit. Dengan tenang ia menelpon temannya di gedung itu dari hp nya. Ternyata lift itu memang sedang dalam proses perbaikan pada minggu itu. Akhirnya sesudah 7 menit ada teknisi yang datang membuka lift itu dengan paksa dan kawan itu baru bisa tenang. Berada pada posisi di gedung tinggi,sesekali mengalami problem dengan lift, yang amat mengganggu kenyamanan.

Baca juga  FIRMAN YANG MENJADI MANUSIA

Para pekerja yang mengerjakan gedung bertingkat, tower BTS, berbagai tower lain, resiko kerjanya cukup besar. Ada beberapa kasus yang terjadi ketika pekerja jatuh dari tempat kerjanya karena tali pengaman yang digunakan ternyata sudah rapuh sehingga tak kuat lagi mengangkat beban dengan berat lebih dari 60.kg.

Artinya tantangan dan bahaya yang mengancam mereka yang bekerja ditempat-tempat tinggi itu lebih mengarah kepada hal-hal yang bersifat fisik. Hal-hal yang non-fisik amat jarang dan mungkin juga tidak ada. Mereka yang berada pada posisi/kedudukan tinggi mengalami dua jenis tantangan : fisik dan non-fisik. Fisik misalnya ancaman dalam berbagai bentuk, bisa penculikan dan atau pembunuhan.

Ancaman non fisik lebih bahaya karena bisa menggerus nilai nilai moral etik spiritual. Misalnya seorang berkedudukan tinggi sebagai manajer SDM, disogok oleh seorang bawahannya agar adik iparnya yang melamar dikantor itu diterima walau IPnya rendah. Ada juga kasus ketika seorang bos di bagian pengadaan barang diminta menyetujui  contoh barang yang diajukan oleh seseorang walau dibawah standar.

Tantangan dan bahaya model ini yang mungkin terjadi berulang-ulang, adalah bahaya besar yang pada gilirannya bisa “meruntuhkan” benteng moral dari seseorang yang sudah sejak lama berusaha di pelihara dan dipertahankan dengan baik.

Godaan yang datang bertubi-tubi, kontinyu dan atraktif pada akhirnya bisa meluluhkan hati sang petinggi dan ia bisa lakukan segala sesuatu tanpa pertimbangan moral yang kuat. Pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini menyatakan bahwa pembusukan moral dari orang yang tertinggi kedudukannya adalah yang paling  jelek. Kita masyarakat biasa yang berada “dibawah”, di grass root, di tingkat akar padi, selalu mengharapkan agar para petinggi, mereka yang berkedudukan tinggi semuanya beretik dan moral yang baik, sehingga mereka para petinggi itu bisa diteladani.

Baca juga  CARILAH TUHAN MAKA KAMU AKAN HIDUP

Jika para petinggi itu yang justru lakukan perbuatan aib, amoral dan melawan hukum serta melawan ajaran agama maka ada sesuatu yang tak beres dalam kehidupan para petinggi kita. Para petinggi mencederai kepercayaan yang diberikan oleh negara/komunitas, mereka kehilangan hahikat “ketinggiannya”, mereka tak layak mnjadi petinggi. Dalam hal korupsi mereka para petinggi itu telah merampas dana yang bukan miliknya, mereka *ketagihan* untuk berkorupsi dan cinta mati kepada korupsi. Sebagai bangsa yang beragama kita sangat malu menghadapi realitas ini; agama impoten, pemeluk agama loyo dan uzur tak mampu memberdayakan agama sebagai penuntun jalan kehidupan. Para pemuka agama harus membangkitakan agama dari tidur lelap yang panjang. Kita hanya sibuk mengurus dimana tempat kolom agama dalam KTP tapi kita *ignore* untuk mendinamisasi agama dalam realitas kehidupan. Para petinggi dan semua umat pada level apapun, mari tekun beragama dan mewujudkan agama dalam kehidupan praktis.

Selamat berjuang. God bless.

*Weinata Sairin.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here