PDT. WEINATA SAIRIN: KESULITAN MEMPERKUKUH KEHIDUPAN

0
344

 

 

_Difficilia quae pulchra._

“Apa yang sulit dicapai itu selalu indah”.

 

Dalam hidup ini manusia harus berjuang untuk memperoleh sesuatu, tak ada yang tiba-tiba saja bisa kita peroleh tanpa keringat, tanpa usaha, tanpa kerja dan ikhtiar. Dalam bahasa populer sekarang, orang bilang “tak ada makan siang gratis”. Artinya untuk mendapatkan makan siang pun dalam takaran yang minimal mesti ada yang harus dibayar. Makan siang di warteg mbok Sabar, di Shangrilla, di sebuah resto di Kelapa Gading, di Senayan City, dimanapun tak ada yang gratis. Semua perlu cost, dan semua perlu perjuangan.

 

Sebenarnya bahwa kehidupan itu tidak hanya mengalir saja, instant, dan memerlukan kerja keras sudah diingatkan dan dicontohkan dengan sempurna dan detil oleh orang tua kita. Tahun 1950-an misalnya orang tua kita sudah bangun pukul 5 pagi hari, menanak nasi, belum ada alat penanak nasi elektrik seperti sekarang; harus disiapkan kayu bakar  yang kering sehingga api menyala dengan baik dan lebih kurang 30-40 menit nasi yang *harum* (karena beras tumbuk, dan bukan beras hasil mesin penggilingan) amat menyengat dan menghadirkan rasa lapar dan kita terdorong untuk sarapan pagi seadanya.

 

Melalui aktivitas seorang Ibu menyiapkan sarapan di zaman baheula, kita memahami benar bahwa hidup itu harus berjuang, bahwa sesuatu itu memerlukan proses, bahwa tidak ada yang terjadi dengan tiba-tiba (ujug-ujug), tak ada yang instant. Dan itulah kehidupan.

 

Dari perspektif kristiani, bahwa hidup itu harus berjuang sebenarnya senafas dengan narasi Alkitab, Kitab Kejadian Pasal 3 : 17-19 yang antara lain berbunyi : “dengan bersusah payah engkau akan  mencari rezekimu dari tanah sumber hidupmu. Semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah karena dari situlah engkau diambil, sebab engkau debu dan engkau kembali menjadi debu”.

 

Larangan makan buah Khuldi tertulis dalam Kitab Suci Al-Quran, Surat Albaqarah, ayat 35. Tuhan “menguji” kesetiaan manusia kepada perintahNya.

 

Allah menurunkan Adam dan Hawa dari surga.”Turunlah kamu. Sebagian kamu menjadi musuh yang lain” (Ayat 37)

 

Baik Alkitab maupun Al-Quran mendeskripsikan dengan jelas tindakan Allah terhadap Adam dan Hawa yang melawan, tidak setia, membangkang terhadap perintah Allah. Mereka diusir dari taman Eden dan harus turun ke bumi memamah derita hingga mereka menjadi debu dan mengalami kematian.

 

Umat beragama dan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa memahami benar bahwa menghidupi kehidupan adalah menghidupi sebuah perjuangan yang tiada pernah usai. Ajaran agama memberikan panduan jelas tentang hal itu. Sikap jujur, kerja keras, profesional, kompetensi andal harus terus dikedepankan agar umat berhasil dalam menjalankan tugasnya.

 

Ada banyak kesulitan yang kita hadapi yang berujung pada “keindahan” sesudah kita bisa mencapainya. Masalah yang sulit acap kita hadapi dengan “high tension” setiap saat, menimbulkan cemas, panik dan takut yang jika bisa selesai dengan baik akan menjadi indah pada waktunya.

 

Kesulitan yang kita hadapi itu sebenarnya akan “mengasah” otak kita, menajamkan pemikiran kita sehingga kita sanggup mencari solusi dari setiap permasalahan yang kita temui.

 

Sebagai umat beragama kita sudah terlatih untuk menghadapi kesulitan dalam jenis dan bobot apapun. Dalam kuasaNya dan cengkeramNya kita sebagai umat beragama akan optimis lulus dalam menghadapi setiap kesulitan dan memenangkan kesulitan itu. Mari masuki kehidupan sebagai sarana untuk memperkukuh jati diri kita sehingga kita mampu mengatasi berbagai kesulitan yang mendera kehidupan.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here