PDT. WEINATA SAIRIN: MENELADANKAN KEBAIKAN DALAM KEHIDUPAN

0
301

 

_”Ubi peccat aetas maior, male discit minor. Ketika yang lebih tua melakukan kejahatan maka yang lebih muda akan belajar dalam kejahatan itu “_

 

Hidup manusia itu berlangsung secara dinamik; bergerak dan tidak stagnan. Sebuah kehidupan yang standar, _normally_ terasa berlangsung dengan amat cepat tiada terasa. Seseorang lahir, melewati masa kanak-kanak, bersekolah, kesemua jenjang pendidikan jika tersedia dana, bekerja, mewujudkan ilmu dan profesi selama sekian tahun, memasuki masa pensiun dan kemudian mempersiapkan diri untuk menanti “panggilan pulang” dan selesai. Terjadi semacam “tension” tatkala kita menanti panggilan pulang, hal itu terjadi karena setiap orang tidak pernah tahu kapan panggilan itu terjadi, dan dimana “eksekusi”nya. Dalam Kitab Suci umat Kristiani bayangan tentang durasi seseorang dalam perjalanan ziarahnya ditengah dunia memang disebut berada pada kisaran 70-80. Mazmur 90 yang ditulis Musa secara naratif mengungkap demikian: “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat delapan puluh tahun dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan….” Artinya durasi itu 70 tahun, andaikata pun mencapai 80 tahun maka yang bisa “dibanggakan”, dijadikan fokus perhatian adalah “kesukaran dan penderitaan”.

 

Secara umum berdasarkan pengalaman empirik memang kisaran usia 70-80 itu kita temui walaupun dalam kasus-kasus tertentu baik dinegeri ini maupun di LN ada juga orang yang mencapai usia lebih dari 100 tahun dengan fisik yang masih cukup kuat.

 

Memang ada banyak tip bagaimana cara mengelola kehidupan yang dinamik ini agar seseorang tetap sehat, segar, tidak stres dan produktif. Konon orang yang selalu senyum, gembira dan membiarkan hidup ini “mengalir” saja apa adanya, akan lebih fresh dan sehat, bahkan panjang umur. “Hati yang gembira” sering dikatakan banyak orang sebagai *obat* bagi banyak penyakit psikologis, atau penyakit somatis yang acap mendera nanusia modern. Salomo misalnya dengan tegas menyatakan bahwa _hati yang gembira adalah obat yang manjur_. Ya hati yang gembira bisa kita peroleh jika kita dengan sungguh menafikan menidakkan semua kesulitan yang melilit kehidupan kita. Kita mengurai belitan kesulitan itu lalu berupaya-dengan tetap berdoa-mencari solusinya. Solusi bisa lahir dari kandungan pemikiran kita sendiri, bisa juga Tuhan menyuruh seseorang datang kepada kita dan membantu kita dalam menemukan solusi.

Baca juga  DUNIA TERANCAM RESESI

 

Salomo memberi “resep” agar kita melahirkan _hati yang gembira_. Ia tidak meminta kita menenggak obat-obat analgetik, obat-obat anti-depresan. Ia tidak merekomendasi kita untuk meminum jenis-jenis tablet/bubuk tertentu yang membuat kita “fly” dan melupakan dunia. Ia, seorang Salomo yang kaya dengan wisdom tidak dalam kapasitas seperti itu. Ia menunjuk hati : hati yang gembira adalah obat yang manjur. Hati yang gembira membuat kita tidur lelap, bukan karena *lelap*, *valium*, *xanax* dan sejenisnya.

 

Agama-agama dan Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa tentu saja memiliki referensi yang kuat, valid dan legitim seputar usia (maksimal) manusia. Realitas seperti itu tentu saja amat memperkaya dan memperdalam wawasan kita, sehingga setiap orang bisa lebih mantap dan siap dalam menyongsong “hari panggilan” dari Sang Kuasa Transrnden. Ada psikolog dan ahli memiliki pemahaman keagamaan andal memiliki pandangan yang cukup  sahih tentang ‘usia msksimal’ dari perspektif keislaman bisa kita temukan dalam literatur.

 

Seorang rekan  dari disiplin ilmu psikologi dan yang memiliki pandangan keislaman yang legitim menyatakan antara lain hal berikut.

 

Durasi umur manusia dalam Islam secara eksplisit tidak disebut dalam Quran tetapi dikaitkan dengan usia Nabi Muhammad SAW yaitu 63 tahun. Jadi durasi usia ummat pengikut Nabi Muhammad SAW berkisar pada angka tersebut. Maka jika ada yang melebihi usia 63 tahun orang sering menyebut “sudah dapat bonus”

 

Makna Hadis dalam Islam itu adalah perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi. Terkait dengan usia itu, apa yg terjadi pada diri Rasulullah itu juga adalah bagian dari Hadis.

 

Di sisi lain Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa “sebaik-baik manusia adalah yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya. seburuk-buruk manusia adalah yang panjang usianya tapi buruk amalnya”.

Baca juga  Intip Pasar Indonesia, Protech Tawarkan Produk Ramah Difabel

 

Orang yang berusia tua, yang beruban putih, yang acapkali tampil sebagai *Bolot*( kurang dengar sehingga sering miskomunikasi) ternyata tanggungjawabnya menjadi lebih berat. Ia menjadi panutan, referensi, idola, motivator, penjaga “gawang”.

 

Pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini baik sebagai *remind* maupun *warning*, dalam kapasitas _pengandaian_ atau berbasis pengalaman empirik memiliki makna yang amat penting. Orang tua, yang beruban putih, yang bolot, yang dihormati mesti steril dan terbebas dari tindakan *melakukan kejahatan*.

 

Bahkan tidak negatif thinking, tidak a priori, tidak menghakimi, tidak menghujat, tidak korupsi, tidak menjadi provokator, tidak menebar dan menabur kebencian sara, dan tidak tidak tidak yang lain. Orang tua bisa saja memberi masukan tapi dengan bahasa yang standar, elegan yang dalam batas kepatutan, tidak menghakimi, menuduh, arogan dan merasa paling benar dan suci. Orang tua, orang muda, orang beragama apapun semestinya menjadi teladan dalam hidupnya agar tatkala maut menjemput maka keteladanan itu yang dikenang semua makhluk hidup. Mari merajut kehidupan yang terbaik sambil menanti panggilan Tuhan.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here