PDT. WEINATA SAIRIN: ORANG BERIMAN ITU DIPERCAYA

0
493

 

 

 

 

_”*Incredibile dictu. Yang dikatakannya tidak dapat dipercaya”._

 

Dalam bahasa Indonesia kata *percaya* memiliki makna yang amat beragam. Kata itu bisa digunakan dalam konteks relasi horisontal, hubungan antar manusia. Contohnya : “Kami percaya bahwa pak Badu itu jujur. Ia tak akan menggelapkan uang milik koperasi. Tak ada sejarahnya pak Badu berbuat se-aib itu!”. Namun kata _percaya_ bisa juga digunakan dalam konteks relasi yang vertikal. Contohnya : “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama, bangsa yang *percaya* kepada Tuhan Yang Maha Esa. Itulah sebabnya hari raya keagamaan dan hari libur nasional yang berkaitan dengan agama sering dilaksanakan”. Melalui kedua contoh itu menjadi jelas bahwa makna konotatif pada kata ‘percaya’ terletak pada penggunaannya dalam kalimat.

 

Hal itu berbeda misalnya dengan bahasa Inggris. Kita akan segera tahu jika orang berkata “I trust you Mr Badu” ; atau “I believe to the Lord…” Penggunaan ‘trust’ dan ‘ believe’ sudah amat jelas dan tak bisa ditukar-tukar. Itulah kekayaan bahasa Indonesia yang mesti kita banggakan.

 

Dalam konteks membangun relasi antar manusia maka kata “percaya” dalam arti ‘trust” amat penting. Dulu pada saat masih di sekolah kita belajar peribahasa “Sekali lancung ke ujian seumur hidup orang tak percaya”.

 

Menurut KBBI kata “lancung” yang diserap dari bahasa Melayu memiliki makna “tidak tulen, palsu, tidak jujur….” Sekali saja orang berlaku jahat dengan menipu, berbuat tidak jujur, berbohong maka seumur hidup orang tidak.lagi percaya kepada orang itu.

 

Sejak kita kecil orangtua kita menanamkan pengertian, mendidik, mengajar dengan contoh bagaimana kita harus bersikap jujur dan tidak berbohong dalam kehidupan kita. Jujur kepada kawan sepermainan, jujur kepada kawan di sekolah, jujur terhadap orang tua, jujur terhadap siapapun tanpa membeda-bedakan dari segi suku, agama, ras dan antar golongan (sara)

Baca juga  PENGURAPAN MENUJU PENOBATAN: KASUS DAUD

 

Dalam era OTT, era maraknya korupsi, era *distrust* maka kejujuran dan dipercaya orang itu menjadi sesuatu yang amat penting. Kita tak mungkin bisa bekerja dengan baik jika orang tidak mempercayai kita. Kita tak mungkin hidup dengan tenang, produktif dan kontributif jika kita sudah dicap “pembohong”, “penipu” atau ” “koruptor”.

 

Sebagai negeri yang penduduknya 99.9% beragama maka kita amat malu jika ternyata korupsi itu makin sukses dan berkemajuan di republik ini. Para pemimpin agama harus menjadi teladan utama dalam hal tidak korupsi, bebas narkoba dan anti intoleransi. Mereka juga harus duduk bersama merumuskan program konkret baik internal maupun eksternal : program perlawanan terhadap korupsi, narkoba dan sikap intoleran.

 

Kejujuran harus dipraktikkan dalam hidup kita sebagai orang yang beragama dan berkepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kejujuran mesti jadi tema kotbah, tausyiah, ceramah, seminar; kejujuran tidak boleh berhenti pada teori akademis ataupun naskah akademis. Kejujuran harus menjadi habitus, life style, praksis kehidupan. Kejujuran tidak boleh berhenti pada *kata* tapi mesti membuah pada _action_ pada tindak nyata. Tatkala Andrew Jackson berusia 14 tahun ibunya pergi naik kapal perang ke Charleston untuk bekerja sebagai perawat. Oleh karena ia kuatir bahwa dirinya tak akan kembali lagi maka ia meninggalkan catatan untuk anak laki-lakinya itu. “Andrew, bila aku tidak bisa lagi melihatmu, kuharap kau mengingat dan menghargai beberapa hal : Di dunia ini kau harus menemukan jalanmu sendiri. Untuk melakukannya kau harus memiliki sahabat. Kau bisa menjalin persahabatan dengan menjadi orang *jujur* dan menjaga persahabatan dengan sahabat-sahabatmu melalui kesetiaan”

 

Pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini mengingatkan hal penting :”perkataannya tidak dapat dipercaya”. Kita harus menjadi orang yang dipercaya baik perkataan maupun perbuatan. Bahkan kita harus menjadi “orang kepercayaan”. Dunia yang berlumur darah, penuh distrust, berlimpah kebohongan dan ketidakjujuran memerlukan orang-orang yang jujur dan dapat dipercaya. Ya andalah orang itu!

Baca juga  PENGURAPAN MENUJU PENOBATAN: KASUS DAUD

 

Selamat berjuang. God bless

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here