PDT. WEINATA SAIRIN: *HIDUP MENABUR CINTA KASIH, MERAWAT LUKA MENGANGA*

0
557

 

 

“Tacitum vivit sub pectore vulnus.” (Luka yang terpendam di dada tetap masih hidup”.)

 

Hidup ditengah dunia, hidup di degup sejarah, pastilah hidup yang pernah mengalami luka. Luka dalam artian real dan konkret, lengkap dengan darah yang menetes, atau luka dalam arti kiasan, luka, pedih perih namun tanpa ada darah menetes ke bumi. Pada waktu kita kecil acap kita mengalami luka baik pada tangan maupun pada kaki kita. Pada saat kita jalan dengan terburu-buru kaki kita tersandung batu dan jempol kaki kita terluka, karena batu yang nembuat kita tersandung itu adalah batu yang tajam. Batu itu membuat kita tersandung; batu itu membuat kita terhalang dan atau terkendala untuk melakukan sesuatu. Batu itu dapat disebut “batu sandungan” batu yang membuat kita atau orang lain tersandung, jatuh dan luka. Kata kiasan “batu sandungan” diperoleh dari sini. Ada kata-kata “hidupmu jangan menjadi batu sandungan bagi keluarga besar”. Artinya hidup kita, sikap dan perbuatan kita jangan sampai menjadi kendala bagi keluarga besar.

 

Sikap dan perbuatan kita bisa dikatakan menjadi ‘batu sandungan’ bagi komunitas kita jika sikap dan perbuatan kita negatif. Orang memandang negatif komunitas kita karena perbuatan kita yang negatif. Orang terkendala, tersandung untuk melihat sisi positif komunitas kita oleh karena perbuatan kita. Luka pada tangan sering kita alami waktu kita kecil. Misalnya kita mengupas buah mangga dengan pisau yang cukup tajam. Jika kita tidak hati-hati pisau yang tajam itu bisa melukai jari kita, bahkan hingga mengeluarkan darah. Kulit bambu juga tajam sekali, jika kita membelahnya tanpa hati-hati dan perhitungan maka kulit bambu yang sudah terbelah dan tajam itu bisa melukai tangan kita.

 

Pada umumnya luka-luka kecil pada tangan dan kaki, tidak menguatirkan kita dan orangtua kita biasanya cekatan untuk mengobatinya dengan ‘jodium’ atau kemudian dikenal sebagai ‘obat merah’ atau di zaman sekarang diobati dengan ‘betadine’. Ada luka non fisik yang dampaknya lebih kuat dan bertahan lama, yaitu “luka batin” yang juga dialami oleh hampir setiap orang dalam episode kehidupannya. Luka seperti ini memakan waktu cukup lama untuk bisa disembuhkan, bahkan dalam kasus-kasus tertentu ada luka jenis ini yang dibawa mati. Tatkala psikolog, psikiater, teolog tidak lagi mampu untuk melakukan ‘konseling pastoral’ terhadap seseorang yang mengidap luka jenis ini, ya luka itu mau tak mau mesti dibawa ke menteng pulo atau sandiego hill atau krematorium.

 

Luka batin seperti itu terpendam di dada, tersimpan dalam memori dan bagi mereka yang punya talenta menulis (puisi, novel,skenario) luka yang tersimpan dalam memori itu bisa menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering. Luka batin itu bisa terjadi dan mewujud pada berbagai kasus dengan aneka varian. Misalnya ada seorang anak muda yang cintanya diputus secara tiba-tiba karena orangtua kekasihnya lebih ingin anaknya menikah dengan pejabat BUMN dari pada dengan seorang yang menjadi staf di perusahaan ritel, dan perusahaan itu mau bangkrut. Realitas seperti ini tentu membuat luka batin sang kekasih menganga, ada pedih dan perih yang ia rasakan yang tak mungkin bisa diselesaikan dengan betadine (atau bahkan juga dengan omeprazol atau alprazolam!).

 

Ada juga luka batin yang terjadi karena soal warisan. Seorang anak yg usianya jauh lebih tua di suatu keluarga ternyata mendapat warisan yang nilainya jauh dibawah nilai yang diterima oleh sang adik. Sang adik mendapat pembagian warisan dengan nilai equivalen XY, sedangkan sang kakak mendapat warisan setara dengan nilai X. Kondisi ini tidak diterima oleh sang kakak walaupun ia faham bahwa orang tua memiliki hak prerogatif dalam hal pembagian warisan.

 

Luka batin sudah sejak zaman baheula dialami manusia, mungkin saja di era digital luka seperti itu makin sering dan menguat. Luka batin adalah bagian integral dari proses kehidupan yang sulit dielakkan. Kecewa, rasa kehilangan, trauma dapat menjadi penyebab dari luka batin. Dalam mengatasi luka batin ini peran teolog, psikolog, psikiater, konselor menjadi amat penting. Mengembangkan hobi yang baru, ikut ambil bagian dalam berbagai kegiatan sosial yg bertujuan mulia bisa menjadi faktor penyembuh dari luka batin.

 

Dalam era modern seperti sekarang ini, tatkala radikalisme, intoleransi, terorisme telah menjadi semacam “trend” dalam masyarakat internasional, luka batin bisa juga trjadi bukan hanya karena perceraian, perselingkuhan dan sejenisnya tetapi juga karena masalah ideologis, relasi buruk antar umat beragama, persekusi dan lain sebagainya.

 

Luka yang disebabkan karena faktor kecewa, kehilangan orang tercinta, trauma sebenarnya bisa dicegah untuk tidak menjadi luka batin yang dalam menghunjam andai proses-proses konseling dan pastoral lebih gencar dilakukan bagi umat/clien. Andai luka batin itu terjadi karena konflik, proses-proses pendamaian juga juga ditempuh sehingga dinding dendam yang menebal bisa luluh dan luruh sesudah melalui proses-proses pendekatan yang dibimbing teolog/konselor/psikolog.

 

Sebagai umat yang beragama kita selalu berupaya mewujudkan kehidupan yang penuh harmoni, tidak menyimpan dendam, tidak menimbulkan luka bagi orang lain. Bahkan kita terpanggil untuk merawat lula-luka yang dialami oleh siapapun, mengobati luka-luka batin yang terkadang hadir menghampiri kehidupan.

 

Pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini menyatakan “luka yang terpendam di dada tetap masih hidup”. Sebagai orang yang taat dalam menjalankan ajaran agama kita selalu menginginkan dan mengupayakan agar relasi antar manusia pada level apapun tidak menimbulkan luka, apalagi mengakibatkan luka terpendam yang menghunjam dalam direlung-relung hati.

 

Mari kita upayakan menebar cinta kasih, menghapuskan dendam, melupakan akar pahit yang sempat tumbuh di ruang kehidupan. Jangan ada dendam tersimpan dalam kenangan, jangan pernah ada luka menganga yang mengaliri sungai kehidupan. Kecup hidup yang damai dan penuh gairah dalam ruang waktu menyongsong hari ceria. Hidup di tahun politik makin rumit  mencemaskan, berdarah-darah. Ada bom yang meledak tiap saat, ada begal dan jambret, ada kapal tenggelam.

Narasi-narasi cinta kasih dan tindakan

kasih sayang mesti

terus digemakan dan diwujudkan dalam kehidupan.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here