PDT. WEINATA SAIRIN: SIKAP BERINTEGRITAS MENGUKUHKAN NKRI

0
273

 

 

“One man cannot do right in one departement of life whilst he is ocupied in doing wrong in any department. Life is one indivisible whole”  (Mohandas K Gandhi)

 

Dalam beberapa tahun terakhir ini istilah _track record_ atau _rekam jejak_ menjadi cukup terkenal dalam kehidupan masyarakat kita. Seorang guru, pegawai bahkan pejabat yang akan memulai bertugas ditempat yang baru selalu ditanyakan tentang rekam jejaknya di tempat yang lama atau ditempat-tempat lain yang pernah ia bertugas. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “rekam jejak”? Dari percakapan dengan beberapa sumber, dijelaskan bahwa “rekam jejak” adalah kinerja masa lalu dari seseorang, organisasi atau _produk_ yang dilihat secara menyeluruh, untuk tujuan pengambilan keputusan. Rekam jejak pada tahap awal bisa dilihat dari CV seseorang, memberi tafsir dan analisis terhadap informasi yang terdapat pada dokumen CV tersebut. Dalam rekrutmen SDM untuk sebuah kantor, rekam jejak dari SDM yang direkrut itu menjadi amat penting agar kebutuhan utama kantor tersebut bisa terpenuhi.

 

Dari pengalaman pelaksanaan pemilihan pimpinan daerah, agaknya aspek “rekam jejak” kurang mendapat perhatian dan prioritas. Seseorang bakal calon yang dianggap sudah populer, memiliki dukungan solid dari “koalisi”, diback up oleh tokoh masyarakat dan tokoh agama, maka posisi calon sudah dianggap kukuh dan definitif. Pola seperti ini memang terkadang cukup ampuh, namun tak jarang juga tidak berhasil optimal. Sejatinya memang harus ada kombinasi antara referensi rekam jejak dengan dukungan pengusung/koalisi sehingga akan diperoleh calon yang benar-benar kapabel.

 

Dengan mengkaji dan menganalisis rekam jejak seorang figur maka kita bisa melihat secara holistik dan komprehensif rangkaian kegiatan dan kiprah seseorang dalam suatu kurun waktu tertentu. Apakah ada konsistensi dan atau inkonsistensi berkaitan dengan sikap dan pemikiran seseorang yang tercermin dalam rekam jejak itu. Adakah masa-masa yang tidak tercatat (tahun-tahun yang hilang) dalam rekam jejak itu dan apa sebabnya?

Baca juga  Intip Pasar Indonesia, Protech Tawarkan Produk Ramah Difabel

 

Sebagai umat yang menganut agama dan berkepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita sejak awal sudah ditanamkan untuk mengembangkan sikap yang penuh integritas. Nilai luhur agama nengajarkan kita untuk menyatakan ya, jika memang ya, mengatakan tidak jika memang tidak; kita dituntun oleh agama untuk menyatakan kebenaran apa adanya. Kita tidak bisa plin plan, kita tidak diajar untuk bersikap abu-abu, bersikap abstain dan atau inkonsisten. Dalam semua sektor kehidupan sikap integritas itu mesti diwujudkan, tentu dengan cara yang elegan, cantik dan simpatik.

 

Para penganut agama dan Berkepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, ditengah dunia yang makin garang, sangar dan mengalami _defisit moral dan keadaban_ dipanggil bahkan ditantang untuk mengembangkan sikap keberagamaan yang _kaffah_, simultan, menyeluruh sehingga bisa menampilkn sisi kehidupan religius yang otentik, genuine, sebagai jati diri bangsa Indonesia. Sebagaimana bunyi dokumen GBHN zaman baheula, peran agama-agama di Indonesia amat penting dan strategis. Agama-agama harus menjadi landasan moral, etik dan spiritual bagi Pembangunan Nasional Sebagai Pengamalan Pancasila(PNSPP) itu amanat GBHN zaman baheula yang selalu diulang-ulang dalam setiap pidato para pejabat. Di zaman digital sekarang ini, di masanya generasi milenial, ajaran agama harus menjadi roh dan habitus yang menguasai kedirian kita manusia Indonesia sehingga mampu membarui eksistensi dan entitas NKRI yang majemuk.

 

Pepatah yang dikutip diawal bagian tulisan ini mengingatkan agar kehidupan kita ini solid dan utuh, artinya melakukan yang baik di satu sektor, tapi serentak itu juga tidak melakukan kesalahan pada sektor yang lain. Kita diingatkan untuk mengembangkan kepribadian yang utuh, bukan yang ‘split’ yang terpecah; sikap yang konsisten bukan yang inkonsisten, sikap yang berintegritas. Dalam sebuah dunia yang fragile, primordialistis, dan ghettoistis, pengembangan sikap yang inklusif dan berintegritas amat penting dikedepankan. Mari lakukan itu dalam kehidupan nyata.

Baca juga  DUNIA TERANCAM RESESI

 

Selamat berjuang God bless

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here