Pdt. Weinata Sairin: Karunia Allah Tak Bisa Dibeli oleh Manusia

0
709

 

 

“Tetapi Petrus berkata kepadanya :”Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang”(Kisah Para Rasul 8 : 20)

 

Dalam kehidupannya ditengah dunia, manusia berhadapan setiap saat dengan benda yang disebut *uang*. Manusia modern tidak saja berhadapan, ‘bergaul’ dengan uang tetapi manusia juga mengendalikan uang. Dalam kasus tertentu bisa terjadi yang sebaliknya : manusia tidak mampu mengendalikan uang tetapi manusia, ciptaan Allah termulia itu justru _dikendalikan_ oleh uang. Manusia diperintah, dijajah, diperhamba oleh uang dan uang bisa membawa manusia kemana saja, ketempat-ketempat DTW Daerah Tujuan Wisata, nasional atau internasional; bahkan uang bisa mengantar manusia ke lapas, rutan di Cipinang, Sukamiskin atau Nusakambangan.

 

Dalam banyak pepatah yang kita kenal kosakata _uang_ cukup populer. Misalnya “Waktu adalah uang”. Pepatah ini sejak kita memasuki Sekolah Rakjat (Sekolah Dasar) sudah diungkapkan kepada kita berbasis pepatah bahasa Inggris “Time is money”. Memang aspek edukatif dari pepatah ini adalah bagaimana kita menggunakan waktu dengan tepat, efektif dan efisien, jangan membuang waktu dengan sia-sia. Di usia SR/SD masih cukup sulit kita menghubungkan waktu itu dengan uang. Baru di era modern, di era IT kita amat jelas bagaimana keterhubungan antara waktu dengan uang.

 

Pekerjaan-pekerjaan tertentu di zaman ini dihargai dalam ukuran waktu; para pebisnis, para konsultan, para motivator, dan beberapa penugasan eksklusif di hitung dalam ukuran “durasi waktu”. Mungkin para pengkotbah dari Gereja-gereja “konvensional” yang tidak pernah diukur pelayanannya dari segi “durasi waktu”. Bisa terjadi kepiawaian sang  pengkotbah dalam mencari perikop atau “nas Alkitab” atau juga “ayat emas” untuk suatu ibadah khusus yang menjadi konsiderans komunitas gerejawi memberi tanda kasih (viaticum?) kepada sang pengkotbah.

Baca juga  ALLAH MENYONGSONG ORANG YANG BENAR

 

Dalam ilmu ekonomi tradisional uang adalah setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu dapat berupa benda atau apapun yang dapat diterima oleh setiap orang dalam masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa. Dalam Ekonomi modern uang adalah sesuatu yang tersedia secara umum dan diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya dan hutang.

 

Dalam banyak literatur dijelaskan bahwa uang berfungsi sebagai perantara untuk pertukaran barang dengan barang untuk menghindarkan perdagangan secara barter. Itulah fungsi uang yang sangat penting. Uang dalam fungsi seperti itu menjadi akrab dan dibutuhkan dalam hidup manusia.

 

Kisah tragis yang berhubungan dengan uang diuraikan dalam Alkitab, a.l Matius 26:14-16. Dijelaskan dalam perikop itu bahwa Yudas memberi harga 30 keping perak, equivalen dengan 19,20 USD, untuk menyerahkan Yesus di zaman itu kepada Imam Kepala. Uang dengan nilai yang tidak fantastis dalam ukuran masa kini telah dijadikan instrumen yang kuat dan legitim bagi Yudas untuk menghabisi “karier” Yesus. Ada terendus politik uang dalam kasus ini; politik uang dalam arti bahwa uang, walau dalam jumlah minim digunakan secara sadar oleh Yudas untuk mengakhiri pelayanan Yesus yang acap difahami dalam angel politik.

 

Walaupun kemudian disebutkan Yudas menyesal atas kasus yang ia perbuat bagi Yesus dan ia mengembalikan uang itu kepada imam-imam kepala (Mat. 27 :3) tetapi peristiwa menjual Yesus kepada para imam dizaman itu telah memberi bukti kuat betapa uang juga bisa masuk ke wilayah teologi dan agama, walau dalam wajah yang tidak begitu nampak.

 

Dalam ayat Alkitab yang dikutip diawal bagian ini, kisahnya lebih tragis dan makro dari cerita 30 keping perak itu. Dalam perikop berjudul “Filipus di Samaria” (KPR 8 : 4-25) diceritakan Petrus dan Yohanes menumpangkan tangan keatas orang-orang Samaria sehingga mereka menerima Roh Kudus. Simon yang dulunya tukang sihir tersohor diwilayah itu bahkan disebut sebagai Kuasa Besar, telah percaya dan dibaptis oleh Filipus. Naluri ekonominya dan pikiran sekulernya bangkit lagi ketika kedua Rasul itu “sukses” menumpangi tangan sehingga umat beroleh Roh Kudus. Melihat realitas itu ia menawarkan uang kepada kedua Rasul agar ia beroleh kuasa sehingga jika ia menumpangkan tangan kepada setiap orang, orang itu beroleh Roh Kudus.

Baca juga  TUHAN, ALLAH YANG MAHA KUASA

 

Simon terlalu naif, sekuler, dan tak faham sedikitpun hakikat penumpangan tangan. Baptisan yang ia terima tak membekas pada kedalaman spiritualitas. Ia pikir dengan uang segalanya beres; dengan uang ia bisa lakukan apapun. Ia tak mau tahu bahwa penumpangan tangan adalah sebuah *akta teologis* yang tak bisa digunakan semaunya apalagi untuk menghasilkan uang. Penumpangan tangan bukan soal individual, tetapi disana ada dukungan istitusi Gereja dan kuasa transenden.

 

Orang model Simon ini easy going saja, ia pikir jika ia nanti bisa “membeli” kuasa penumpangan tangan itu, wow. Ia bisa menumpangkan tangan para *paslon* dan bisa mencharge harga yang tinggi agar ia cepat kaya dan keuntungannya melebihi tukang sihir! Ia _imagine_ melimpahnya uang ke koceknya dan bisa membeli kuasa-kuasa yang lain!!! Disitulah api kemarahan Petrus tiada lagi terbendung sehingga ia berkata dengan keras : “binasalah uangmu bersama dengan engkau karena engkau menyangka engkau dapat _membeli karunia Allah_ dengan uangmu.”

 

Bacaan Alkitab ini masih cukup relevan dengan konteks kita dimasa kini.Kita bisa banyak belajar dari kasus Yudas dan Simon dalam memaknai uang. Alkitab sejak awal mengingatkan kita bahwa cinta akan uang adalah akar segala kejahatan (1 Tim 6:10). Kita dan Gereja tidak boleh *cinta uang*; gunakan uang dengan profesional sebagai alat pembayaran yang sah; sebagai instrumen ekonomi.

 

Gereja harus transparan dalam mengelola keuangan; optimalkan peran Pengawas Perbendaharaan; gunakan Akuntan Publik sejauh diperlukan, taatilah UMR/UMP bagi karyawan Gereja, berilah apresiasi yang layak dan profesional bagi para pemberita firman Tuhan, kuduskanlah persembahan Gereja dengan pengelolaan profesional karena dana itu bukan milik pribadi Bendahara atau Ketua Bidang Dana; hindarkan kemungkinan adanya kleptomani.

Baca juga  TUHAN, ALLAH YANG MAHA KUASA

 

Gereja dan orang Kristen harus mampu mengelola dan mengendalikan uang secara profesional, jangan jadi hamba uang dan dikendalikan olehvuang. Kasus Yudas dan Simon dalam PB memberi inspirasi kepada kita untuk mewujudkan kehidupan yang lebih berkualitas dengan memposisikan uang sesuai dengan fungsi yang di embannya.

 

Selamat Merayakn Hari Minggu God bless.

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here