Edukasi Dosen dan Mahasiswa, HSBC Indonesia dan Sampoerna University Dorong Literasi Keuangan di Yogyakarta

0
211

 

 

 

Perlu sinergi perguruan tinggi, dunia industri, serta pemerintah penting untuk bangun industri keuanganEdukasi keuangan mampu ciptakan efek multiplier untuk kesejahteraan ekonomiTurut bantu pengusaha lokal agar mampu kelola finansial usaha lebih baik

 

YOGYAKARTA, 4 Mei 2018 – Bank HSBC Indonesia dan Putera Sampoerna Foundation (PSF) melalui Sampoerna University (SU) kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat edukasi dan literasi keuangan, khususnya di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Seminar dan lokakarya (semiloka) yang bertajuk “Memperkuat Sinergi Tripartit Pendidikan Tinggi untuk Pembangunan” diselenggarakan selama tiga hari mulai tanggal 2-4 Mei 2018.

 

Inisiatif edukasi ini menyasar dosen dan mahasiswa, yang merupakan agen perubahan penting dalam misi edukasi keuangan HSBC Indonesia bersama PSF dan SU. Nuni Sutyoko selaku Head of Corporate Sustainability HSBC Indonesia menjelaskan, “Lewat edukasi ini, kami berharap sivitas akademika mampu mengakselerasi wawasan dan pengetahuannya, sehingga mampu berkontribusi lebih signifikan dalam menjawab tantangan-tantangan edukasi dan literasi keuangan di daerahnya masing-masing. Apalagi di Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dikenal sebagai kota pelajar dan salah satu pusat pendidikan Indonesia.”

 

Ia juga menambahkan bahwa hal ini merupakan cerminan komitmen HSBC untuk senantiasa mendorong bisnis yang berkesinambungan dengan membangun masyarakat dari segi sosial, lingkungan, dan ekonomi di manapun HSBC berada. “Semoga inisiatif ini dapat menciptakan efek domino terhadap orang banyak, yang pada akhirnya dapat membantu pemberdayaan masyarakat selain juga berkontribusi pada percepatan ekonomi,” jelas Nuni.

 

Wahyoe Soedarmono selaku Project Manager Program Kerjasama HSBC-PSF sekaligus ekonom dari Sampoerna University memaparkan bahwa kerjasama strategis antara HSBC, Putera Sampoerna Foundation dan Sampoerna University mengusung nilai tri dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, sehingga dapat mendukung penguatan edukasi dan literasi keuangan secara menyeluruh.

Baca juga  Kemudahan Pendaftaran Umroh Melalui 16,000 Agen TrueMoney di Seluruh Indonesia

 

“Ada tiga fokus utama yang ingin dicapai dari program edukasi ini. Pertama, meningkatkan pengetahuan dan kemampuan keuangan mahasiswa dalam membangun karir di masa depan, agar menjadi profesional yang tangguh dalam menghadapi tantangan global. Kedua, memaksimalkan transfer dan update pengetahuan di bidang keuangan dan perbankan melalui riset dan publikasi oleh akademisi. Terakhir, mendukung pengusaha lokal agar mampu kelola finansial usaha lebih baik. Kami harap dengan pendekatan yang holistis, dapat membantu target pemerintah terkait peningkatan literasi dan inklusi keuangan.”

 

Dalam semiloka ini, CEO Sampoerna University American College Lauren E. Clarke hadir sebagai dosen tamu untuk memberikan paparan kepada mahasiswa mengenai pengetahuan terkait isu di bidang keuangan nasional dan global. “Semoga ini dapat menginspirasi para anak muda Yogyakarta agar lebih giat lagi untuk meningkatkan  kompetensi dan wawasan internasionalnya, sehingga siap menghadapi dan menyesuaikan diri dengan tantangan dunia global,” tambah Wahyoe.

 

Semiloka ini merupakan bagian dari rangkaian program edukasi perbankan dan keuangan yang merupakan hasil kerja sama antara HSBC dan PSF yang telah digelar sejak 2015. Pihak yang ikut terlibat dalam semiloka kali ini antara lain Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, STIEBBANK Yogyakarta, Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten Sleman dan juga Pemerintah Kabupaten Yogyakarta. Semiloka ini diadakan selama tiga hari di Universitas Muhammadyah Yogyakarta dan STIEBBANK Yogyakarta, dengan tiga materi utama yang dibahas, antara lain kuliah tamu (guest lecture) bagi mahasiswa, lokakarya penelitian bagi para dosen, serta ceramah dan praktik pengelolaan keuangan dan usaha.

 

Berdasarkan survei OJK di 2016, indeks literasi dan inklusi keuangan Daerah Istimewa Yogyakarta masing-masing adalah 38.55% dan 76.73%, lebih tinggi daripada indeks nasional yang berada di angka 29.66% dan 67.82%. Namun, Kepala Sub Bagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Daerah IstimewaYogyakarta, Asteria Diantika menjelaskan bahwa masih diperlukan dukungan dari pelaku industri dan pihak-pihak lainnya, agar masyarakat Yogyakarta mampu terus menyesuaikan diri dengan  perkembangan industri keuangan saat ini. “Sektor jasa keuangan di Indonesia tumbuh dengan pesat. Beragam produk dan layanan keuangan berbeda ditawarkan kepada masyarakat. Saya berharap melalui semiloka ini, masyarakat, khususnya anak-anak muda Yogyakarta dapat memahami lebih jauh relevansi pemahaman dan inklusi keuangan terhadap perencanaan masa depan mereka.”

Baca juga  Kronologi dan Pernyataan Sikap PP GMKI terhadap Tindakan Persekusi Terhadap Jemaat Gereja GBI Philadelfia Griya Martubung, Kota Medan, Sumatera Utara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here