Saling Menasihatilah Kita

0
488

Oleh: Reinhard Samah Kansil

I Korintus 4:14-21

Tinggalkan pikiran yang membuat lemah.

Peganglah pikiran yang memberi kekuatan.

Bukan kata tapi kuasa

Dalam bacaan kita hari ini, Paulus mengajak jemaat di Korintus untuk menghormati dia sebagai bapa mereka. Ia memberi tahu mereka, bahwa apa yang sudah ditulisnya bukanlah untuk mencela mereka, melainkan untuk memperingatkan mereka (ay. 14). Bukan dengan empedu kepahitan seorang musuh, melainkan kehangatan hati seorang bapa.

 

Paulus menunjukkan, boleh saja mereka mempunyai pendidik atau pengajar-pengajar lain, tetapi dialah bapa mereka. Karena dia dalam Kristus Yesus telah menjadi bapa mereka oleh Injil (ay. 15). Di sini ada nasihat khusus yang ditekankan Paulus kepada mereka, sebab itu aku menasihatkan kamu, turutilah teladanku (ay. 16).

Kemudian dari pada itu, Paulus memberi tahu mereka apa yang akan terjadi saat ia datang kepada mereka: Maka aku akan tahu, bukan tentang perkataan orang-orang yang sombong itu, tetapi tentang kekuatan mereka (ay. 19). Ia akan menguji orang-orang yang berlagak tahu di antara mereka. Ia ingin tahu siapa mereka, bukan dari kepandaian mereka berkata-kata atau berfilsafat, melainkan dari wewenang dan keberhasilan ajaran mereka, apakah mereka bisa meneguhkannya dengan mujizat-mujizat, dan apakah itu disertai dengan kuasa-kuasa dan keselamatan jiwa manusia. Sebab, tambahnya, Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa.

Pergaulan sesama

Bagaimana kita di kekinian? Sikap dan tindakan macam apa yang sepatutnya menjadi ciri orang-orang yang bersahabat, berkerabat, atau bersekutu sebagai sesama orang beriman? Tepatkah bila karena ingin menghindari pergesekan perasaan, lalu masing-masing mengelak untuk menegur atau menasihati jika seseorang kedapatan keliru?

 

Dalam pergaulan bahkan di antara para sahabat dekat kita jumpai sikap demikian. Kita sungkan menegur atau menasihati orang-orang yang dengannya kita bersahabat cukup dekat. Kita khawatir perasaan yang ditegur akan tersinggung atau persahabatan akan renggang. Benarkah demikian? Kita tahu bahwa itu tidak benar. Sebab seharusnya, semakin kita dekat dengan seseorang, semakin kita akrab, semakin kita terdorong memperhatikan dan memberikan yang terbaik bagi dia. Maka tidak sedia menegur bukan sikap yang tepat di antara orang yang berhubungan erat! Justru itu menunjukkan pertalian yang semu!

Menegur atau menasihati tidak hanya diperlukan sewaktu sahabat atau saudara seiman kita berbuat salah. Menegur atau menasihati harus ditempatkan sebagai bagian integral dari persekutuan yang saling membangun, agar karakter dan ajaran Kristus dipraktikkan. Memang orang yang “berhak” menegur atau menasihati, wajar harus orang yang lebih dewasa iman.

Dalam perikop ini, Paulus menegur dan menasihati jemaat hasil pelayanannya. Juga orang yang “berhak” menegur harus seperti Paulus yaitu yang menjalani imannya hingga menjadi teladan. Namun jangan berpikir bahwa kita harus sempurna dulu baru dapat memberi nasihat. Prinsip yang utama di sini adalah bahwa setiap orang Kristen harus berusaha mewujudkan karya anugerah Allah dalam hidupnya dengan menuruti teladan Krisus. Dengan kata lain, yang “berhak” menasihati dan yang dinasihati, tidak bicara tentang tingkatan rohani. Ini adalah prinsip persekutuan Kristen.

Sebagai sesama murid Kristus, sebagai orang yang sedang berproses untuk tumbuh dalam Tuhan, kita perlu saling menegur, menasihati, mendukung, mendoakan. Jika saling menasihati sirna dari kehidupan bersama kita, gereja atau persekutuan atau persahabatan kita sedang mengalami masalah!

NASIHAT ADALAH BUKTI KEPEDULIAN KITA TERHADAP SESAMA BERDASARKAN KASIH.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here