Pdt. Weinata Sairin: Hidup itu Belajar, Belajar dan Belajar

0
601

“It is impossible to begin to learn that which one thinks one already knows”. (Epictetus)

 

Dari beberapa percakapan dan pengalaman empirik ada hal menarik yang layak dicatat sebagai bahan kajian dan pembelajaran. Walau hal ini sifatnya kasuistik namun ada baiknya dicermati untuk menghadang jangan sampai hal itu menjadi meluas. Sekarang ini ada kecenderungan seseorang yang punya ijazah S2 dan atau duduk di tampuk kepemimpinan sudah merasa “arrive”,  sudah merasa sempurna dan tidak punya minat lagi untuk belajar, tidak suka memerlukan lagi masukan orang lain. Dengan berdalih sekarang ini kondisi sudah jauh berbeda, bahkan menyatakan bahwa ini adalah *zaman Now* adakalanya juga para pemimpin yang sedang berada di tampuk kepemimpinan, memberlakukan policy dan ketentuan baru walaupun hal  itu tidak sejalan dengan visi organisasi.

 

Sikap sudah merasa sempurna, mengabaikan pendidikan atau kebiasaan para pemimpin baru, memberlakukan kebijakan dan peraturan baru, bisa kontra produktif bagi sebuah komunitas. Sikap merasa pandai, merasa sudah *arrive* adalah salah satu wujud sikap arogan yang acap ditunjukkan oleh sebagian orang tanpa ia sendiri sadar akan dampaknya dalam jangka panjang.

 

Kita semua tahu bahwa yang disebut pendidikan itu adalah sebuah proses yang terjadi sepanjang hayat, proses yang tidak pernah mengenal selesai Pendidikan bahkan dimulai sejak dini, sebelum segala sesuatu dimulai. Seorang Ibu yang berusia muda suatu saat mendekati Aristoteles dan menyampaikan pertanyaan : “Kapankah seharusnya aku mulai melatih anaklu?” Aristoteles bertanya : “Berapa usia anakmu sekarang?” “Ia berumur lima tahun” jawab sang Ibu. Lalu filsuf besar itu berteriak : “Cepat lekas pulang ! Kau sudah terlambat lima tahun”.

 

Bukan main kagetnya sang Ibu mendengar pandangan sang filsuf tentang pendidikan. Pendidikan adalah bagian integral dari kehidupan manusia; proses pendidikanlah yang memanusiakan manusia. Pendidikan tak boleh hanya dibayangkan dengan adanya gedung sekolah (dengan genteng pecah dan plafon yang bolong), adanya perangkat komputer (yang tak bisa dioperasikan karena daya listrik tak menunjang), adanya guru-guru ( yang tak mampu mengajar optimal); adanya KTSP,  K-13 atau kurikulum apapun. Pendidikan adalah semua bentuk edukasi yang bisa kita dapatkan dari beragam sumber yang mampu menambah pengetahuan dan wawasan kita dan yang berguna untuk mewujudkan hidup yang mandiri.

 

Suatu saat seseorang mengajak Abraham Lincoln dengan mengatakan : “Mengapa kau membaca begitu banyak? Pendidikan tidak memberikan pertolongan apapun dalam mendapatkan pekerjaan”. Lalu Lincoln merespons : “Aku tidak mendidik diriku untuk mendapatkan penghasilan. Aku sedang mencoba menemukan apa yang harus kulakukan sejak aku mendapatkannya”. Memang banyak orang memandang makna pendidikan dengan cara yang tidak tepat. Ada yang hanya terpukau pada pikiran bahwa pendidikan itu sekedar melengkapi orang agar ia bisa _bekerja_ . Pada hal makna pendidikan jauh melampaui pikiran seperti itu. Lincoln mengajak orang melihat makna dan output pendidikan dalam spektrum yang luas. Pendidikan itu juga di desain agar manusia mampu mewujudkan kediriannya dengan lebih baik dan bermakna.

 

Ada kisah singkat yang bernuansa alegoris diseputar durasi pendidikan. Seorang laki-laki membawa anak laki-lakinya kepada James A. Garfield pimpinan Hiram College; ia ingin agar anak laki-lakinya itu memperoleh kursus singkat dan bukan kursus reguler dengan durasi yang cukup lama. “Anak laki-laki ku tidak pernah bisa mengambil semua pendidikan itu. Ia ingin mendapatkannya dengan cara yang lebih cepat? Apakah bisa Anda mengaturnya?”. “Oh tentu saja bisa”Jawab Garfield. “Ia bisa mengambil kursus singkat. Semuanya tergantung padamu menjadikan dirinya seperti apa. Tatkala Tuhan ingin menciptakan pohon Ek, Ia butuh waktu seratus tahun. Tapi Ia hanya butuh dua bulan untuk menciptakan buah labu”.

 

Kisah alegoris itu (yang sayangnya menggunakan Tuhan sebagai contoh, dan itu tentu tidak tepat!) hanya ingin menjelaskan bahwa sebuah proses pendidikan di desain secara jelas, berapa lama dan apa outputnya.

 

Ungkapan Epictetus yang dikutip diawal bagian ini menyatakan dengan tegas bahwa tidak lah mungkin untuk memulai belajar jika seseorang berfikir bahwa ia sudah tahu semua. Kita harus merasa bahwa kita ini “bodoh” dan “tidak tahu apa-apa” di semua bidang sehingga hasrat kita untuk belajar, untuk mengetahui berbagai macam ilmu pengetahuan, untuk melakukan _inkuiri_ tetap berkobar-kobar. Jangan pernah merasa kita sudah tahu semua, jangan sekali-kali sok tahu, atau *sotoy* kata anak muda, jangan pernah menggurui kecuali di dalam kelas.

 

Sangat bijaksana jika kita menghentikan sikap arogan kita, menganggap kita paling tahu, paling suci, paling jujur, paling berkuasa dan berbagai *paling* lainnya. Wujudkan sikap rendah hati, humble, respek terhadap orang lain, menerima masukan orang lain, suka memaafkan, tidak pemarah dan pendendam. Kepandaian dan kekuasaan sebagai pemimpin akan berakhir pada saatnya maka sikap bijak, penuh hikmat harus terus diwujudkan.

 

Kita bersyukur menjadi seorang penganut agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam sebuah NKRI yang majemuk, yang _konon_ menjadi teladan bagi dunia global. Kita harus makin solid dan bersatu, mengembangkan semangat ukhuwah, tali silaturahim, saling mengasihi. Menghindarkan hujatan dan ujaran kebencian sebagai warga dari satu bangsa yang beradab. Jangan menghakimi orang lain, jangan menyalahkan para pendahulu kita, kita juga orang-orang yang tidak sempurna, kita mungkin pernah gagal test untuk studi strata dua hingga harus pindah ke lembaga pendidikan yang lain, kita juga mungkin pernah melakukan mis-manajemen dan sebagainya dan sebagainya.

Mari terus belajar kepada siapapun dan melalui media apapun tanpa jemu dan lelah; mari menjadi pemimpin yang *Amanah dan Melayani* selama hari masih siang. Akan datang malam ketika orang tidak bisa lagi bekerja.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here