Pdt. Weinata Sairin: Kesulitan Dikikis oleh Kesalehan

0
390

“Vicit iter durum pietas. Kesalehan telah mengalahkan jalan yang sulit”.

 

Dalam banyak pengalaman pribadi, keyakinan agama dan spiritualitas itu memiliki power yang amat kuat. Nilai agama yang sudah terinternalisasi dalam kedirian seseorang akan mampu mengalirkan gagasan, motivasi yang menguatkan seseorang tatkala ia tengah didera kesulitan dalam kehidupan. Kekuatan agama, keteguhan iman, kedalaman spiritualitas adalah ibarat benteng yang kuat dan kukuh yang mampu melindungi kita dari problema besar yang mengguncang kehidupan kita. Keberagamaan, erat kaitannya dengan sikap saleh yang dimiliki seseorang. Kata *saleh* dalam bahasa Indonesia berasal dari kata bahasa Arab “shalih” yang berarti “terhindar dari kerusakan atau keburukan”.

 

Dari kata itu kemudian muncul istilah “amal saleh” yang amat populer dalam vokabulari sahabat-sahabat Muslim yang maknanya “amal/perbuatan yang tidak merusak atau mengandung kerusakan”. Sedangkan “orang saleh” adalah orang yang terhindar dari kerusakan atau hal-hal buruk”.

 

Dalam berbagai literatur Islam dijelaskan bahwa amal saleh adalah sebuah perintah agama. Dalam Hadis Bukhari Muslim dinyatakan “Setiap kebaikan yang dilakukan manusia akan dilipatgandakan sepuluh hingga tujuhratus kali lipat”. Dengan demikian berbuat kebaikan, menjalankan amal saleh amat penting bagi manusia, khususnya umat Islam dengan mengacu kepada bunyi hadis tersebut diatas.

 

Sejatinya, menurut beberapa literatur yang disebut “orang saleh” adalah orang yang menyeimbangkan ibadah ritualnya dengan perilaku sosialnya. Tidak boleh ada dikotomi diantara kedua aspek itu; seorang yang rajin dan taat beribadah maka ia juga semestinya menampilkan perilaku yang baik terhadap sesamaya. Di zaman Orde Baru agaknya ada tokoh masyarakat yang melakukan kritik keras terhadap adanya semacam “kesenjangan” antara apa yang disebut saat itu “kesalehan spiritual” dengan “kesalehan sosial”. Orang rajin beribadah, menampilkan raut muka penuh kesalehan, sangat hafal ayat Kitab Suci, tetapi mereka membiarkan saja orang miskin yang tertatih-tatih menyusuri trotoir dibawah terik mentari mengharap kepingan uang yang dilemparkan dari mobil-mobil mewah yang hilir mudik di jalan-jalan kota.

Baca juga  Intip Pasar Indonesia, Protech Tawarkan Produk Ramah Difabel

 

Realitas yang terjadi amat mencolok di zaman Orde Baru sehingga menimbulkan diskusi hangat di ruang publik, agaknya juga tetap terjadi di zaman ini, minimal pada praktik keberagamaan yang dikotomis yang mengaliri roh banyak warga bangsa.

 

Sebenarnya per definisi orang saleh itu adalah orang yang taat dalam menjalankan ajaran agama, dalam konteks pemikiran Islam adalah orang yang mengembangkan relasi dengan Allah SWT ( *hablum minallah*) serentak dengan itu mengembangkan relasi dengan manusia ( *hablum minan nas*) bahkan relasi dengan alam. Dalam bahasa kristiani konsep kerangkapan relasional itu disebut oleh Yesus amat eksplisit dengan narasi “kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu; kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.

 

Dari perspektif Islam, Kristen dan Katolik, dan agaknya agama-agama yang lain kedua aspek vertikal dan horisontal itu terjadi serentak dan simultan, yang satu disempurnakan oleh yang lain. Dari kenyataan sehari-hari tidaklah mungkin seseorang hanya berhubungan dan atau mengasihi Allah saja tanpa mau berelasi dan mengasihi manusia. Demikian juga sebaliknya.

 

Kesalehan adalah sebuah sikap religius yang dimiliki seseorang yang tercermin dari ketaatannya kepada ajaran agama dan perilaku terpuji yang ditunjukkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kesalehan seseorang mestinya integral, yaitu kesalehan spiritual atau kesalehan ritual dan kesalehan sosial; tidak ada dikotomi pada kedua aspek itu.

 

Pepatah yang dikutip diawal bagian ini menyatakan bahwa “kesalehan mengalahkan jalan yang sulit”. Orang saleh, orang yang bersandar kepada Tuhan adalah orang yang kuat, tekun; tahan, sabar dalam mengatasi berbagai masalah yang hadir menghampiri kehidupan. Disitulah makna pepatah itu; sikap beragama yang kuat, yang yakin, yang ‘surrender to God” akan mampu mengalahkan kesulitan apapun. Mari menjadi orang saleh sejati agar mampu mengatasi kesulitan.

Baca juga  DUNIA TERANCAM RESESI

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here