This Is My Story, This Is My Song

0
673

Oleh: Pdt. Stefanus Hadi Prayitno

 

 

Keluaran 16:10

 

Apakah yang terbayang di dalam pikiran kita ketika kita harus melewati sebuah padang gurun di mana kita tidak tahu berapa lama kita harus menjelajahinya sebelum kita sampai ke tempat yang kita tuju?

 

Terlebih lagi ketika imajinasi kita dipenuhi dengan janji tentang sebuah kota yang berlimpah susu dan madu.

 

Kekecewaan, rasa frustrasi, dan berbagai keluhan akan muncul karena padang gurun menjadi tempat tersulit untuk bertahan hidup. Demikianlah bangsa Israel melihat padang gurun menjadi Tanah Kusir, maka bersungutlah mereka dan berkata, “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN, ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.”

 

Secara logika kita dapat mengerti rasa frustrasi yang muncul di tengah bangsa Israel ketika diperhadapkan pada situasi padang gurun. Namun, jika kita melihat ke belakang tentang sejarah kehebatan Tuhan yang membawa mereka keluar dari negeri Mesir dan bagaimana mereka baru saja menyeberangi Laut Merah, maka sungut-sungut mereka menjadi hal yang paling bodoh yang mewakili kebebalan mereka di hadapan Tuhan, karena mereka tidak mampu menarik sebuah garis penghubung antara kehebatan kuasa Tuhan dan permasalahan di hadapan mereka.

 

Demikianlah situasi ini memberikan pembelajaran rohani tentang cara pandang kita ketika diperhadapkan pada situasi padang gurun kehidupan. Kita harus memiliki cara pandang yang melihat setiap pergumulan dan persoalan hidup sebagai sebuah fakta kehidupan, namun juga kebesaran dan kekuasaan Tuhan sebagai sebuah realitas kehidupan.

Baca juga  PENANTIAN MEMBUAHKAN PENGHARAPAN

 

Tuhan tidak akan pernah membiarkan padang gurun kehidupan kita menjadi Tanah Kusir. Realitas kebaikan, kasih, dan kesetiaanNya, serta pemeliharaanNya akan mengantar kita dengan tenteram melewati lembah kekelaman sampai akhirnya kita dapat bernyanyi, dan berkata, “This is my story, this is my song, praising my Savior all the day long.”

Lirik dari sebuah lagu yang diciptakan oleh Fanny Crosby yang mengalami kebutaan pada usia 6 minggu dan juga kehilangan putri satu-satunya. Fakta kehidupan yang memedihkan ini tidak membuatnya buta akan kebesaran, kasih, dan kesetiaan Tuhan, dan melalui gubahan lagu-lagunya ia dijuluki The Queen of Gospel Song Writers.

 

Dengan demikian, betapa buruknya situasi kehidupan yang ada tidak dapat mengalahkan sebuah realitas akan kehebatan kuasa Tuhan yang mampu mengubah setiap padang gurun kehidupan kita menjadi sebuah tempat yang dipenuhi dengan kemuliaan Tuhan, karena Ia tidak pernah kehabisan akal untuk mengubah ratapan kita menjadi sebuah nyanyian.

 

Marilah kita melatih diri sedemikian rupa sehingga kita dapat menjadi penggubah lagu yang menuliskan sejarah getirnya perjalanan kehidupan kita menjadi sebuah nyanyian yang memuliakan Tuhan.

 

DOA

Bapa, kekuatan yang Kau berikan kepadaku sanggup mengalahkan setiap masalah yang aku hadapi. Aku bersyukur kepadaMu dan akan semakin maju. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin

 

Semangat pagi…

Jesus Bless You

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here