Pdt. Weinata Sairin: ‘Dicari: Pemimpin yang Melayani”

0
294

 

“The first responsibility of a leader is to define reality. The last is to say thank you. In between the leader is a servant”. (Max Du Pree)

 

Banyak orang akan tampil menjadi pemimpin pada tahun ini, pada beberapa level yang berbeda : pada tingkat kabupaten, kota dan propinsi. Selanjutnya pada tahun 2019 kita sebagai bangsa akan memilih pemimpin pada level nasional, Presiden dan Wakil Presiden.

 

Komisi Pemilihan Umum dalam Peraturan KPU No 1 Tahun 2017 Tentang Tahapan, Program dan Jadwal Penyelenggaraan Pilkada tahun 2018 telah memberikan rincian cukup jelas tentang proses pelaksanaan Pilkada 2018. Dalam Peraturan itu telah dijadwalkan bahwa pelaksanaan Pemungutan Suara dilaksanakan tanggal 27 Juni 2018. Menurut data KPU dalam Pilkada serentak 2018 ada 171 wilayah yang ikut di dalamnya yaitu 17 provinsi, 39 kota dan 115 kabupaten. Memang ada ‘keramaian nasional’ pada event Pilkada serentak ini yang belum pernah terjadi sebelumnya. Keramaian nasional dalam event penting ini kita harapkan tidak berubah menjadi ‘kegaduhan atau kehebohan nasional’ apalagi ‘keributan nasional’ yang akan berdampak besar terhadap solidnya persatuan dan kesatuan bangsa.

 

Peran para tokoh masyarakat dan seluruh warga bangsa amat besar dalam seluruh kegiatan ini, utamanya para tokoh agama, pimpinan parpol, dan mereka *key persons* yang punya pengaruh kuat dalam kehidupan masyarakat majemuk Indonesia.

 

Tidak mudah untuk menjadi pemimpin (sejati) pada level apapun. Menjadi *pemimpin* lebih sulit dan crucial tantangannya dibanding menjadi *pemimpi*. Pemimpi nyaris tak punya sarat, yang penting ia bisa tidur tanpa minum obat anti depresan, baca novel atau lihat film tv, maka malamnya jika semua berjalan lancar ia punya banyak mimpi. Menjadi pemimpin? Wow sulitnya sudah dimulai sejak awal. Sebagai umat beragama, maka untuk menjadi pemimpin harus dimulai dengan _niat baik_, ya kata pak Kyai harus mulai dengan *nawaitu*. Kita harus mengecek diri sendiri : adakah jiwa kepemimpinan, adakah semangat melayani, adakah semangat berkurban bagi rakyat.

Baca juga  BERANI MENGAMBIL KEPUTUSAN 

 

Menjadi pemimpin dalam konteks Pilkada (serentak) ada standar baku yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. Dan itu semuanya cukup sulit persyaratannya mulai dari usia, pendidikan, komitmen terhadap Pancasila dan UUD NRI 1945, ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kemampuan jasmani dan rohani, tidak pernah dijatuhi hukuman pidana yang berkekuatan hukum tetap lima tahun hingga kewajiban melaporkan harta kekayaan. Kesemua persyaratan itu dibuat tentu saja berdasarkan pengalaman-pengalaman di masa lalu dan obsesi bagi hadirnya seorang pemimpin yang amanah, yang secara akademik, kejiwaan, moral dan etik benar-benar _mumpuni_.

 

Dalam dunia yang makin maju dan modern, dengan cyber crime, terorisme global, intoleransi, dan maraknya narkoba memang dibutuhkan figur pemimpin yang cerdas, berakhlak mulia, berpikir out of the box, visioner, kemampuan manajerial kuat, berhati melayani. Pemimpin yang biasa dan konvensional nyaris tak lagi mampu menjawab dinamika perubahan yang terjadi simultan di aras global yang dampaknya terasa diberbagai belahan dunia. Pemimpin yang rendah hati, melayani rakyat, teladan dalam moral dan etik amat dirindukan dalam sebuah dunia yang sudah tergerus nilai-nilai moral dan etiknya. Pemimpin yang secara moral dan etik yang seharusnya sudah mundur dari jabatannnya tetapi tetap bertahan sambil terseyum menunggu fatwa inkracht dari dunia peradilan. Ini realitas dunia kita tatkala nilai agama, moral dan etik terpenjara dalam dunia ide dan narasi tekstual.

 

Menarik jika kita simak ungkapan Du Pree tentang pemimpin yang dikutip di awal bagian ini. Pemimpin mesti mendefinisikan realitas konkret, memetakan permasalahan yang ada. Caranya ? Bertanya, _blusukan_ , meminta masukan expert, pertemuan tertutup empat mata. Masalah yang _genuine_ bisa diperoleh melalui aktivitas itu. Diakhir semuanya pemimpin mesti memberi respek, menghargai mereka yang sudah berjuang keras disemua level. “To say thank you” tidak sekadar ungkapan bibir dan penuh formalisme tetapi bisa lebih maju dari situ sesuai dengan kondisinya. Du Pree menyatakan bahwa diantara “mendefinisikan realitas dan mengucap terimakasih” maka hakikat seorang pemimpin adalah *Pelayan*.

Baca juga  MENJADI PEMBAWA KABAR DAMAI DAN SELAMAT

 

Mengaitkan pemimpin dengan pelayan adalah sesuatu yang cukup menarik. Biasanya dalam ‘memimpin’ pikiran-pikiran ‘berada dalam status yang lebih tinggi’ atau pikiran sebagai ‘bos’ selalu muncul. Pemimpin acap dibayangkan berada ‘diatas’; dari situ muncul kata-kata “turun dari jabatan”. Pemikiran “sekuler” seperti itu yaitu bahwa pemimpin berada diatas muncul juga dalam kepemimpinan di lembaga keagamaan, misalnya secara spesifik bisa disebut kepemimpinan dalam organisasi Gerejawi. Pada hal Yesus Kristus sendiri yang pada awalnya melaunching pemikiran bahwa memimpin itu “melayani”. Ia sendiri dengan tegas dan eksplisit menyatakan “Aku datang untuk *melayani* ”

 

Dalam sejarah Yesus, sebagaimana diimani umat kristiani, kata-kata Yesus “aku datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani” jauh dari sebuah permainan kata dan atau “membentuk pencitraan” tetapi secara konkret Ia artikulasikan makna kata _pelayanan_ itu dalam seluruh kedirian dan tindakanNya. Ia bercakap dengan perempuan berdosa, Ia makan bersama dengan karyawan bea cukai, ia menyembuhkan orang sakit, ia menghidupkan orang mati, Ia mengajar anak kecil, ia memberi makan ribuan orang, bahkan Ia rela menderita bahkan mati demi umat manusia. Itulah makna konkret dari pemimpin yang menjadi pelayan. Pelayan tidak berada “diatas” pelayan berada dibawah, pelayan mencuci kaki orang-orang yang ia layani, pelayan mendatangi orang lain sambil mengatakan “adakah yang bisa saya bantu”.

 

Pelayan itu energik dan dinamik. Ia tidak duduk dibelakang meja, ia mencari, ia berjalan sambil berfikir dan bertindak yang terbaik bagi rakyatnya. Robert K. Greenleaf (1904-1970) menulis buku “The Servant Leader” dengan gagasannya “servant leadership”. Sebagai seorang Vice President dari American Telephone and Telegraph Company ia perkenalkan gagasan itu dan berhasil baik. Ia katakan seorang pemimpin itu harus melayani; dengan cara itu ada pendekatan holistik terhadap pekerjaan, rasa kemasyarakatan dan kekuatan pembuat kekuasaan yang dibagi bersama. Konsep berfikir “servant leadership’ ini kemudian banyak dipraktikkan oleh para pemimpin diberbagai bidang antara lain Gandhi, Abraham Lincoln, Confucius, termasuk Du Pree.

Baca juga  KEMURAHAN HATI

 

Kita mendorong agar para pemimpin kita dalam bidang apapun dan pada level apapun mengembangkan kepemimpinan yang melayani, melayani umat, melayani masyarakat. Pemimpin model ini adalah pemimpin yang “mendatangi” clien dan bukan pemimpin yang duduk-duduk menunggu clien datang. Pemimpin jenis ini adalah pemimpin yang berjalan mencari, mengunjungi clien bukan yang menunggu laporan. Memang tidak mudah menjadi pemimpin; terlalu mahal harga yang harus dibayar untuk menjadi pemimpin.

 

Kita merindukan hadirnya pemimpin cerdas, beriman takwa dan melayani. Tak ada pilihan lain !

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here