Pdt. Weinata Sairin: Hidup Bersandar kepada Allah, Hidup Menolak Berhala

0
457

“Perak kepingan dibawa dari Tarsis dan emas dari Ufas; berhala itu buatan tukang dan buatan tangan pandai emas. Pakaiannya dari kain ungu tua dan kain ungu muda semuanya buatan orang-orang ahli. Tetapi Tuhan adalah Allah yang benar, Dialah Allah yang hidup dan Raja yang kekal. Bumi goncang karena murkaNya dan bangsa-bangsa tidak tahan akan geramnya” (Yeremia 10:9,10)

 

Kecenderungan manusia untuk lebih yakin dan percaya kepada sesuatu yang kasat mata, yang bisa dilihat, diraba, dipegang telah dimulai sejak ribuan tahun yang lalu. Manusia _tak sanggup_ memahami yang absurd, yang ‘platonis’, yang berada dalam dunia ide. Kasus pembuatan lembu emas (Kel. 32 : 1-35) yang dilakukan umat Israel bukan hanya disebabkan mereka kecewa, _bete_ dan _boring_ menunggu Musa yang tidak turun-turun dari gunung Sinai, tetapi karena mindset mereka dipenuhi _berhala_ dan bukan dikuasai oleh Allah, Kuasa Pembebas!

 

Bangsa-bangsa di zaman itu memang seluruhnya percaya kepada berhala-berhala, kecuali bangsa Israel yang percaya kepada Allah dan melalui Israel itulah bangsa-bangsa lain diperkenalkan tentang Allah sehingga semua bangsa pada akhirnya diharapkan akan percaya kepada Allah.

 

Sayangnya, bahkan tragisnya gaya hidup keberhalaan, mindset berhala dan sikap skeptis serta resistensi terhadap Allah terkadang muncul dalam kehidupan umat Israel sehingga mereka gagal untuk mengajak bangsa lain percaya kepada Allah.

 

Umat Israel terkadang hidup dengan ‘teologi ganda’; pada satu saat mereka percaya kepada Allah, pada saat yang lain, untuk kepentingan tertentu, mereka juga percaya kepada berhala. Sikap berteologi ganda, sikap plin-plan, sikap mendua seperti ini berulang-ulang terjadi dalam perjalanan sejarah kehidupan umat Israel.

 

Yeremia dipanggil Tuhan untuk menjalankan tugas kenabian dalam usia muda. Ia awalnya menolak panggilan itu karena merasa usianya muda, dan juga tidak pandai berbicara (Yer 1:6). Namun Tuhan meyakinkan Yeremia tentang penting dan strategisnya tugas yang ia lakukan bahkan Tuhan menjamah mulutnya dan menaruh perkataanNya di dalam mulutnya (Yer 1:9); sehingga Yeremia menerima tugas panggilan itu yang ia laksanakan dengan setia dan penuh tanggugjawab.

 

Tugas profetis seorang nabi dari zaman ke zaman tidak pernah berubah. Seorang nabi harus melakukan tindakan _penyadaran_ conscientization, yang kontinyu, terarah dan berencana. Dalam konteks Yeremia yang melayani di abad ke-8, ia harus menyadarkan tentang “tupoksi” umat Israel. Mereka adalah umat pilihan yang memiliki privilege, mereka dibebaskan dari perbudakan di Mesir, mereka dilindungi. Allah dengan tiang dan tiang api pada saat menempuh perjalanan panjang di padang gurun. Itu semua dilakukan Allah agar umat Israel kuat mantap dan memberlakukan Allah dengan konsisten; dengan cara itu mereka mengekspresikan kasih Allahdan bangsa-bangsa lain untuk juga datang dan percaya kepada Allah.

 

Yeremia dalam konteks penyadaran, juga melakukan kritik sosial tatkala ruang publik dicemari oleh tindakan kekerasan, diskriminatif, exploitation de l’homme par l’homme, dan berbagai bentuk tindakan lainnya yang mencerminkan terjadinya degradasi moral dan etik pada orang-orang tertentu atau pada masyarakat luas.

 

Penyadaran berarti juga membina dan mengarahkan umat agar iman mereka kuat, kukuh, taat kepada Allah. Pendekatan kepada umat yang “berteologi ganda” harus dilakukan dengan bijaksana sehingga mereka tidak merasa dihakimi.

 

Aspek keteladanan juga adalah hal penting bagi seorang nabi. Keteladanan akan meneguhkan ujaran-ujaran lisan yang pernah disampaikan kepada umat dan publik di masa lalu. Ujaran lisan berupa nasihat, wisdom, petunjuk dan pedoman dsb tidak punya makna jika dalam praktik sang Nabi tidak menjalankan apa yang ia sudah katakan.

 

Dalam Kitab Yeremia Pasal 10 ditampilkan secara eksplisit dan kontradiktif siapakah nabi dan berhala. Dalam Pasal 10 : 9, 10 dengan amat tegas dipersandingkan tentang nabi dan berhala sehingga umat Israel bisa menetapkan pilihan dengan tegas berikut konsekuensi logisnya.

 

Pemberitan Yeremia di abad ke- 8 SM tetap relevan bagi kita yang hidup.dizaman ini. Gereja dalam menjalankan fungsi profetisnya bisa menimba inspirasi dari Yeremia. Manusia modern juga hidup dalam penguasaan berhala-berhala baru, berhala modern. Berhala modern bukan lagi patung-patung seperti di zaman baheula. Berhala (modern) adalah segala sesuatu yang menguasai manusia dan menjauhkan manusia dari Allah. Itulah sebabnya berhala modern bisa jadi adalah Uang, gadget, hasrat korupsi dan benda-benda lain/sikap lain yang mengakibatkan adanya distorsi dalam relasi Allah dan manusia.

 

Hidup kita sebagai orang beriman mestinya hidup yang bersandar, berdasar dan mengandalkan Allah. Hidup yang dirasuki roh Allah, bukan roh yang lain. Di minggu-minggu menyongsong sengsara, kematian dan kebangkitan Kristus, mari kita *membersihkan* diri agar roh Kristus nyaman tinggal dalam diri kita.

 

Selamat Merayakan Hari Minggu. God bless.

 

*Weinata Sairin*

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here