Pdt. Weinata Sairin: Melintasi Jalan Kematian Menuju Jalan Kehidupan

0
807

“Calcanda semel via letti. Suatu saat jalan kematian harus dilewati”

 

Ada begitu banyak “jalan” yang kita temui dan atau kita hidupi ditengah kehidupan ini. Kita kenal ada jalan dalam arti “street” ada juga jalan dalam arti “way”. Seorang penulis terkenal bernama Idrus bahkan menulis buku kumpulan cerita pendek yang amat populer di zamannya “Datin Ave Marian ke Jalan lain ke Roma” yang diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka tahun 1953. Buku ini adalah sebuah antologi, kumpulan tulisan, isi setiap cerpen itu tidak berhubungan satu sama lain. Cerpen yang dimuat dalam buku ini adalah Ave Maria, Kejahatan Membalas Dendam, Kota Harmoni, Jawa Baru, Pasar Malam Zaman Jepang, Sanyo, Fujinkai, Oh oh oh, Heiho, Kisah Celana Pendek, Surabaya, Jalan Lain ke Roma.

 

Ke semua cerpen berangkat dari realitas kehidupan manusia di zaman itu, dan bagaimana seorang Idrus memberi tafsir dari perspektif dirinya sebagai novelis Padang yang meninggal dalam usis 57 tahun pada tanggal 18 Mei 1979.

 

Sebagai manusia yang hidup, bergerak dan dinamik, kita semua dalam posisi terus menapaki perjalanan. Kita bisa terhuyung-huyung, tertatih-tatih, terseok-seok dalam melangkah; yang penting kita tetap berjalan dan tidak berhenti.

 

Seorang penulis dalam puisi berjudul “Disebuah Perjalanan” mencoba mendeskripsikan suasana sebuah perjalanan, ada sikap skeptis disana, ada kekuatan baru, ada komitmen kuat untuk terus dan terus berjalan.

 

*”Disebuah Perjalanan”*

 

Kita masih juga berjalan/

menyusuri malam-malam temaram/

dan hari-hari pengap harap/

sementara kitapun makin mengerti/

depan kita membentang padang teramat tandus/

darinya memantul keakanan yang samar/

 

perjalanan ini memang panjang dan melelahkan/

Baca juga  PENANTIAN MEMBUAHKAN PENGHARAPAN

hingga terkadang kita kehilangan/

keyakinan dan harapan/

ketika kita dihadang/

badai pergumulan yang datang/

ketika nurani kita/

berdegup tanya :

akankah kita lanjutkan perjalanan/

atau berhenti saja disini/

menyerahkan diri pada ke putusasaan/

 

wahai,

Tuhan yang dulu berfirman di awal perjalanan/

adakah engkau hadir disini/

tatkala kami tertatih-tatih/

sepi dan letih?/

 

kita masih juga berjalan menyusuri malam-malam temaram/

dan hari-hari pengap harap/

sementara kitapun makin mengerti/

depan kita membentang padang teramat tandus darinya memantul keakanan yang samar

 

(maka adalah sebuah suara menggema :

berpaculah terus jangan bimbang/

berderaplah tegap jangan goyah/

sebab keberhentian adalah penghianatan/

atas pengutusan/

tengoklah, aku mendahuluimu didepan/

dan mengantarmu hingga akhir zaman)

 

Jakarta, Oktober 1970

 

Weinata Sairin

 

(Weinata Sairin, Disebuah Perjalanan-serangkai puisi, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2003).

 

Sebagai umat beragama dan berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kita tahu tentang “Jalan” yang kita tempuh, jalan yang diajarkan oleh agama-agama kepada umat manusia. Dalam bahasa ahli teologi kita semua umat manusia, siapapun kita *sedang berjalan dari kota dunia, civitas terrena, ke kota Allah, civitas Dei*.

 

Ditengah dan sambil melakukan perjalanan ziarah yang panjang itu kita terus menabur dan menebar kebajikan, menginvestasi kebaikan dan perbuatan baik bagi umat manusia dan bagi Tuhan.

 

Cukup menarik pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini, *suatu saat jalan kematian harus dilewati* . Ya jalan kematian terkadang terlihat jelas di depan, terkadang samar-samar hadir dalam imajinasi. Kita semua akan lewat bahkan *memasuki* jalan kematian itu. Kita harus siaga; kita harus bersiap diri. Buanglah dendam, dengki, kemarahan. Ukir karya terbaik menghiasi hari-hari kehidupan yang Allah sediakan.

Baca juga  Mari Bersaat Teduh Setiap Malam Bersama Revivo

 

Selamat Berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here