Amarah Musa

0
283

 

Bacaan: Bilangan 20:2-13

 

Bacaan setahun: Bilangan 23-25

 

Seorang ayah menasihati putranya yang akan menempati jabatan baru sebagai manajer perusahaan: “Kalau sesuatu membuatmu hendak marah, ingatlah bahwa jika kau terpancing, maka hal itu sama dengan kau sedang menyalakan sumbu api di dalam hatimu. Matikan segera atau ia akan membakar dirimu sendiri.”

 

Dijuluki sebagai seorang yang lembut hati dengan kemampuan memimpin suatu bangsa yang besar, salah satu hal yang menjadi kelemahan Musa sebagai pemimpin adalah ketidakmampuannya menguasai diri saat amarah menggoda. Berkali-kali amarahnya meledak kepada bangsa yang tegar tengkuk itu karena perbuatan mereka yang menyakiti hati Tuhan (ay. 11, Kel. 32:19).

 

Marah adalah sifat yang wajar dan manusiawi, namun menjadi tak wajar jika amarah tersebut menang dan mengambil alih diri kita. Alih-alih menyelesaikan masalah, amarah yang berlebihan akan membawa kepada muara masalah yang baru. Bagi Musa, ketidakmampuannya mengendalikan amarah membuatnya tak lagi dapat memasuki tanah perjanjian (ay. 12).

 

Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap saat kemarahan hendak menjalari hidup kita? Berserahlah kepada Tuhan, mohonlah agar Ia yang memegang kendali, menenteramkan hati kita yang panas oleh amarah untuk kembali disejukkan saat mengingat akan kelembutan kasih-Nya.

 

Setiap kali amarah menggoda di depan mata, kiranya kita tetap dimampukan untuk tetap mengarahkan hati kita kepada Tuhan, memohon pertolongan untuk mampu memadamkan nyala sumbunya agar tak membakar diri kita sendiri juga orang lain.

 

KEDEWASAAN IMAN AKAN MENJAUHKAN KITA DARI AMARAH YANG SIA-SIA.

Baca juga  Jangan Takut Dan Bimbang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here