Pdt. Weinata Sairin: Berjalan dalam Arahan Hikmat Tuhan

0
398

“A journey of a thousand miles begins with a single step” (Lao Tzu)

 

Banyak orang memberi narasi tentang hidup, kehidupan sebagai sesuatu yang dinamik, yang bergerak, yang tidak diam. Hidup adalah perjuangan, hidup adalah sebuah perjalanan, demikian pandangan orang-orang bijak. Hidup yang bergerak dan dinamik itu tidak ditujukan hanya untuk orang muda. Kebergerakan sebuah kehidupan itu tidak mengenal usia, tidak mau tahu apakah masih aktif mengemban jabatan atau sudah pensiun atau emeritus. Hidup dan kehidupan itu haruslah bergerak dan bergerak-gerak. Bukan hanya bergerak; bahkan orang model Cicero menegaskan “Vivere est cogitare”, hidup itu *berfikir*. Artinya kebergerakan dalam sebuah kehidupan itu bukan sekadar bergerak-gerak, tapi kebergerakan yang di back up oleh pemikiran. Sebab itu dalam hidup ini juga kita tak boleh ‘telmi”, telat mikir, apalagi dengan mengembangkan pemeo “pukul dulu urusan belakangan”, lakukan dulu baru belakangan disusun dasar pemikirannya. Dari orang-orang bijak kita diberikan pelajaran bahwa sebuah tindakan/program itu mesti ada dasar filosofisnya; merekrut orang harus disiapkan kriteria dan kualifikasinya; membuat undang-undang harus disiapkan lebih dulu naskah akademiknya. Itu makna dan implementasi ungkapan Cicero itu bahwa “hidup itu berfikir”. Semuanya harus dirancang, semuanya “by design” tidak  “ujug-ujug”.

 

Hidup yang dinamik dan bergerak adalah hidup yang menginvestasi kebajikan, yang menabur kebaikan, yang mengalirkan pikiran-pikiran kebijaksanaan. Dan bukan yang sebaliknya, ujaran kebencian, penodaan dan penghujatan agama, persekusi tokoh agama, pembunuhan karakter, korupsi, narkoba, intoleransi, demoralisasi, yang bisa berujung pada pidana dan atau penjara.

 

Dalam semangat persaudaraan dan penguatan tali silaturahim antar warga bangsa yang majemuk, saling memberi maaf adalah juga perbuatan yang terpuji. Pemberian maaf tidak serta merta menafikan proses hukum, kecuali jika memang pihak terkait secara eksplisit menyatakan hal itu. Kita sangat gembira membaca pernyataan Romo Karl Edmund Prier (80an) bahwa beliau telah memaafkan pelaku yang membacok Romo tatkala Romo sedang memimpin ibadah di Gereja St Lidwina Yogyakarta 11 Februari 2018 pkl 7.30 Wib. Peristiwa penganiayaan tokoh agama yang sedang  memimpin ibadah didalam rumah ibadah bukan saja merupakan penghinaan terhadap agama, tetapi juga adalah penghujatan terhadap Pancasila dan UUD NRI 1945. Ironisnya peristiwa penganiayaan itu terjadi ditengah rangkaian acara Musyawarah Besar Pemuka Agama Untuk Kerukunan Bangsa yang bertema “Rukun dan Bersatu Kita Maju” yang dilaksanakan di Hotel Sahid tanggal 8-10 Februari 2018.

Baca juga  FIRMAN YANG MENJADI MANUSIA

 

Hidup yang berfikir dan yang berjuang adalah hidup yang memberi ruang bagi pikiran-pikiran bijaksana. Wisdom, pikiran bijaksana kita timba dari ajaran agama, local wisdom, tradisi kultural dan pengalaman orang-orang terkenal di masa lalu.

 

Seorang bijaksana akan selalu memaafkan dan mengampuni orang yang sudah menganiaya dirinya tanpa sebab. Orang bijaksana juga cermat dalam menggunakan kata dan diksi dalam berinteraksi. Ia akan mengatakan “saya akan *membawa* koper saya” dan berkata “saya akan *mengajak* anak dan istri saya dalam acara itu. Ini sama sekali bukan hanya persoalan *semantik* tapi soal respek dan wisdom. Penggunaan kata dan diksi yang salah dan tidak pada tempatnya bisa mengganggu stabilitas nasional.

 

Kita bisa belajar sikap bijaksana dari Nabi Sulaiman atau Raja Salomo dan atau para Nabi yang ada dalam kitab suci, tetapi juga dari tokoh-tokoh masa lampau lewat testimoni mereka. Chesterfield memberi nasihat jitu agar orang menjadi bijaksana. Ia berkata : “Perempuan yang sangat jelek atau sangat cantik sebaiknya dipuji secukupnya agar mereka mengerti tentang kecantikan mereka”.

 

Lao Tzu menyatakan bahwa perjalanan seribu mil itu dimulai dengan satu langkah. Artinya jangan kita memikirkan begitu jauh dan panjang perjalanan itu, tetapi kita harus melangkah, kita harus bergerak. Tanpa melangkah dan bergerak maka kita tidak akan pernah *arrive* di ujung sana, di terminal penghabisan. Mari mulai melangkah dengan memohon power dan wisdom dari Tuhan.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin*.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here