Perceraian Bukan Rancangan Allah

0
727

Oleh: Hadi, S.Si. Teol

 

 

Markus 10: 1-12

 

 

Mulai pasal 10 ini perjalanan pelayanan Yesus ada di daerah Yudea. Daerah Yudea sangat berbeda dari Galilea. Di Galilea penduduknya jauh lebih sederhana tetapi dalam beberapa hal keras dalam menghadapi pemerintah Romawi. Penduduk Yudea lebih terpelajar dan dipengaruhi suasana agamawi yang ortodoks dari bait Allah di Yerusalem. Pertentangan Yesus dengan pemuka agama di situ lebih bernuansa teologis.

 

Isu pertama yang melibatkan Yesus dengan pemuka agama di Yudea adalah masalah perceraian. Dengan tujuan hendak menguji apakah Yesus sepandangan dengan Musa, orang Farisi menanyakan Yesus mengenai boleh tidaknya bercerai bukan sedang mencari kebenaran melainkan mencobai Yesus sehingga bisa mempersalahkan-Nya. Kalau jawaban Yesus menyimpang dari Taurat, entah lebih longgar atau lebih keras, maka ada bahan bagi orang Farisi untuk menuduh Yesus. Namun usaha tersebut menjadi sia-sia karena ternyata Yesus justru balik bertanya mengenai apa yang Musa perintahkan. Kemungkinan besar, Yesus sudah tahu maksud orang-orang Farisi yang ingin mengadunya dengan pandangan Musa. Tetapi, orang-orang Farisi itu tidak menjawab apa yang diperintahkan tetapi apa yang diperbolehkan Musa. Memang, menurut Ulangan 24: 1, Musa memperbolehkan perceraian dengan syarat ada surat perceraian. Yesus tidak menyangkal hal itu, tetapi ketentuan itu diberikan bukan berdasarkan perintah Allah, yang diberikan sejak awal penciptaan, tetapi untuk memuaskan kedegilan hati orang-orang zaman itu. Dengan kata lain, hal  tersebut langsung dipakai Yesus untuk menunjukkan ketegaran hati umat Tuhanlah yang membuat Musa mengizinkan perceraian (ayat 5).

 

Yesus menjelaskan dua hal penting tentang rancangan Allah menciptakan laki-laki dan perempuan (lihat Kejadian 1: 27 dan 2: 24).

Pertama, pernikahan merupakan rancangan Allah. Di dalamnya laki-laki dan perempuan hidup dalam suatu persekutuan yang tak terpisahkan, saling berbagi, saling mengisi, saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing, dan berlangsung seumur hidup.

Kedua, laki-laki harus meninggalkan ayah dan ibunya untuk menjadi “satu daging” dengan istrinya. Artinya, mereka berada dalam persekutuan hidup yang utuh dan permanen. Karena itu tidak mungkin dipisahkan, bahkan dengan alasan apa pun!

 

Perenungan kita bahwa pernikahan itu merupakan rancangan Allah untuk kita.

Karena itu peliharalah ikatan pernikahan yang kudus sebagai bentuk syukur kita kepada Allah dan menghargai apa yang telah Allah rancang dan taruh dalam hidup pernikahan kita.

Tuhan Yesus Kristus sebagai pusat keluarga kita yang senantiasa menolong dan menopang pernikahan kita dengan kasih-Nya serta dengan bersandar penuh pada anugerah dan kebenaran-Nya.

 

Salam dan doa,

Hadi (Pengerja di GKI Gading Serpong)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here