Menjadi Domba yang Taat pada Gembala

0
1018

Oleh: Stefanus Widananta

 

Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri.

 

Yesaya 53;6

 

Alkitab menggambarkan kita seperti domba-domba dan domba membutuhkan gembala untuk mengarahkannya ke padang rumput yang hijau serta melindunginya.

 

Namum, pertanyaan hakiki yang seharusnya kita renungkan adalah, “Apakah kita benar-benar membutuhkan Tuhan, Sang Gembala Agung?”

 

Banyak manusia yang membutuhkan Tuhan, yang mau melayani kebutuhan serta kepentingannya.

 

Tuhan memang kita sembah dan kita agungkan, tetapi dengan maksud agar memenuhi segala kebutuhan kita, Tuhan seringkali kita jadikan sebagai “pelayan” dan “satpam”.

 

Bronislaw Malinowski, dalam bukunya magic, science and religion, mengatakan bahwa manusia baru membutuhkan Tuhan kalau sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, termasuk kalau science sudah tidak bisa diandalkan, manusia membutuhkan Tuhan yang “magic” kalau situasi tidak bisa dikendalikan lagi oleh science.

 

Tuhan dibutuhkan, tetapi Tuhan yang kita perlukan hanya pada waktu-waktu tertentu saja dan sudah pasti, Tuhan yang mau melayani kebutuhan manusia.

 

Alkitab menggambarkan bahwa Allah yang kita sembah bukanlah “allah magic”, tetapi Allah yang dikatakan Malinowski sebagai “religion”, Tuhan yang kita sembah karena semata-mata karena Dia Tuhan.

 

Apa pun yang dikehendaki-Nya, dilakukan-Nya, apapun yang diberikan-Nya kepada kita, kita harus menerimanya tanpa syarat, karena kita menyadari bahwa Dia adalah Tuhan, yang mengetahui masa depan kita dan Dia membuat segala sesuatunya indah pada waktunya.

 

Kita harus meneladani Maria yang mengatakan, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu”.

 

Tuhan Yesus memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here