Pdt. Weinata Sairin: Dengan Kekuatan dari Tuhan Melawan Hasrat Kebendaan

0
758

“Mihi res, non me rebus, sub jungere conor. Aku berusaha keras untuk mengendalikan materi dan bukan (sebaliknya) materi yang menguasai diriku”.

 

Dalam kehidupan sehari-hari acap kita mendengar ungkapan-ungkapan berikut dalam berbagai kesempatan. “Dia itu orang yang sangat materialistis, segala sesuatu diukur dengan uang atau benda!”.

“Nara sumber yang kita undang di FGD itu apakah menyiapkan materi?”

“Coba cek apakah semen putih dijual di toko material yang di sudut jalan itu ?”

Kata “materi” dengan segala turunannya memang cukup populer dalam kehidupan kita pada level apapun.

 

Menurut KBBI, materi adalah :

a. benda, bahan; segala sesuatu

yang tampak;

b. sesuatu yang menjadi bahan,

untuk diujikan, dipikirkan,

dibicarakan, dan sebagainya.

 

Materi itu adalah segala sesuatu yang menempati ruang. Banyak sekali materi yang ada disekitar kita : air, batu, tanah, pasir, kayu, besi, uang, aset, sepeda, mobil, becak, dan lain sebagainya.

 

Dalam konteks tertentu kata “materi” memang memiliki konotasi yang cenderung negatif. Seseorang yang dicap materialistis, sosok yang dijuluki manusia *matre* biasanya cukup mempersempit ruang gerak orang itu dalam berinteraksi dengan orang lain. Materi memang memiliki power yang amat kuat dalam kehidupan manusia. Hakikat manusia sebagai makhluk mulia ciptaan Allah, Tuhan Yang Maha Esa, bisa mengalami distorsi, bahkan “rusak berat” andai manusia tegiur dengan materi.

 

Istilah “materialisme” dikenal dalam filsafat. Materialisme adalah sebuah aliran dalam filsafat yang pandangannya bertitiktolak dari “benda” yaitu materi. Menurut aliran ini benda itu bersifat *primer* sedangkan ide itu *sekunder*. Argumennya sederhana : sebelum manusia yang memiliki ide itu ada di dunia, alam raya itu yang adalah *materi* sudah lebih dulu ada. Manusia juga tak bisa punya ide jika ia tak punya otak; otak itu adalah *benda* atau *materi*. Karl Marx juga berpandangan bahwa “bukan pikiran yang menentukan pergaulan, melainkan realitas pergaulan itu sendiri yang menentukan pikiran”. Artinya kata Marx pikiran seseorang itu ditentukan oleh masyarakat sekeliling.

 

Marx, Feuerbach adalah orang-orang yang berada dibalik pemikiran filsafat materialisme. Mereka berpandangan bahwa yang benar-benar ada itu adalah *materi*; semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah interaksi dengan materi. Roh, hantu, setan, malaikat dan sebagainya tidak mendapat ruang dalam materialisme.

 

Sebagai umat beragama kita tentu tidak dalam posisi yang menyetujui pandangan materialisme yang menafikan dimensi roh, ruh, ruach, spirit dalam kedirian manusia. Kitab Suci agama-agama, secara eksplisit menjelaskan bahwa manusia yang diciptakan (Ibr. *bara*) oleh Allah itu baru mengalami hidup tatkala Allah mengembuskan nafas kehidupan kedalam tubuh manusia. Manusia dengan demikian bukan hanya tubuh/benda/materi, tetapi juga roh/ruh/ruach. Pada saat kematian, tubuh manusia yang adalah benda/materi itu kembali menyatu dengan tanah, dan rohnya kembali ke Khalik Pencipta.

 

Dalam pengalaman empirik, ternyata roh manusia amat lemah sehingga ia lebih dikuasai oleh materi, benda, aspek kedagingan (Yun. *sarx*). Manusia tak berdaya. Itulah sebabnya ada OTT, Korupsi, Narkoba, Intoleransi, Etik moral, KDRT, kejahatan seksual, teror, pembunuhan, penghujatan agama, persekusi, dan sebagainya, dan sebagainya.

 

Menarik sekali pepatah yang dikutip di awal tulisan ini yang menyiratkan tekad untuk mengendalikan materi dan bukan sebaliknya. Teorinya manusia bisa mengendalikan materi, oleh karena manusia memiliki akal budi, dan pikiran yang bisa mengontrol dan mengatasi hasrat kebendaan itu. Dan ada sosok yang ternyata bisa melakukan hal itu, yang mampu mengendalikan dan menguasai materi. Dalam pelaksanaan Pilkada serentak yang pelaksanaannya bulan Juni 2018 kita ingin melihat bukti nyata bahwa kita semua warga bangsa yang beragama mampu mengatasi materi, mampu mengendalikan materi.

 

Mari kita internalisasi ajaran agama dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa sehingga kita makin mantap dalam menguasai materi, hasrat kebendaan kita.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin*.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here