Amarah yang Terkendali

0
413

Oleh: Pdt. Martunas P. Manullang

 

Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.

 

AMARAH YANG TERKENDALI. Inilah yang dapat kita lihat ditekankan pada nas renungan hari ini. Efesus 4:26-27: “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa:Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahnu dan janganlah beri kesempatan kepada iblis.”

 

Ayat ini berbicara tentang tingkah laku orang Kristen, setelah meninggalkan pola kehidupan yang lama. Pada ayat 17-29, digambarkan cara hidup kekafiran atau cara hidup lama, yang dimiliki oleh orang-orang di Efesus. Tetepi setelah mereka menjadi orang Kristen, melalui baptisan, maka kepada mereka ditawarkan untuk menerima pola hidup atau perilaku yang baru. Itu sebabnya, kita sering temukan ajakan itu ditulis dalam bentuk antara lain, sbb: a. “Tanggalkanlah tabiat yang lama, …… dan kenakanlah tabiat yang baru”. b. “tanggalkanlah ……, kenakanlah ……” c. “dulu kamu ……. , tetapi sekarang …………”. Ajakan ini adalah untuk menegaskan telah “adanya perubahan tingkah laku” dari “hidup lama” ke “hidup yang baru”. Hidup yang lama adalah kekafiran dan hidup yang baru adalah kekristenan.

 

Beberapa azas tingkah laku Kristen, yang diterapkan dalam kehidupan sosial (=hidup bersama orang lain) dipaparkan di sini. Ayat 26 berbicara tentang marah atau kemarahan. Sekalipun rasa marah itu tujuannya baik, (mis.: rasa marah karena ketidakadilan atau karena kejahatan) namun kemarahan ini pun harus dikendalikan. Jangan memberi peluang kepada Iblis, agar kita  “bersikeras dalam kemarahan” karena merasa wajar marah. Kemarahan itu harus dikekang, jangan bergeser kepada dendam pribadi  atau menjadi dendam pribadi. Atau juga janganlah amarah itu menjadi “ledakan isi hati secara emosional”. Amarah seperti ini tidak boleh dibiarkan mendidih, sehingga “secara perlahan berubah menjadi dendam kesumat.” Hal ini tidak boleh terjadi dalam kehidupan orang Kristen. Justru hal seperti ini yang harus disadari sesegera mungkin oleh orang yang marah, sekalipun marahnya itu adalah yang wajar dan sehat, karena ketidaksetujuannya terhadap kejahatan atau pun ketidakadilan yang terjadi di sekelilingnya. Mengapa? Karena Iblis itu pun akan terus bekerja, untuk membelokkan maksud baik kita, menjadi alatnya (alat Iblis) untuk menghancurkan persekutuan, hubungan dan kerjasama yang selama ini justru sudah baik antara kita (sebagai individu) dengan sesama (orang lain) dalam suatu persekutuan.

 

Intinya, karena Iblis selalu berusaha untuk untuk membelokkan dan mengubah hal yang baik menjadi jahat. Dengan kata lain, marilah selalu mengakhiri segala sesuatu (rasa tidak enak, dan sejenisnya), bila hari sudah malam. Jangan dibawa tidur (istirahat), apalagi “ikut menyeberang” ke hari esok, hari yang baru. Hiduplah untuk hari ini. Hidup harian. Sambutlah esok hari dengan harapan baru dan perilaku hidup yang baru. Marah atau kemarahan, bila dibiarkan “bermalam” akan merusak hidup bersama, hidup persekutuan. Marilah berdamai dengan siapa pun, agar hati menjadi tenang. Selanat beraktivitas di hari ini. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt Martunas P Manullang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here