Pdt. Weinata Sairin: “Orang Bijak: Orang yang Bersyukur”

0
1321

“He is a wise man who does not grieve for the things which he has not but rejoices for those which he has” (Epictetus)

 

Dalam dunia yang semakin gaduh dan tidak lagi nyaman, maka banyak orang yang merindukan kata-kata sejuk dan sikap yang lemah lembut hadir mewarnai kehidupan. Kondisi seperti itu akan sangat membantu terwujudnya iklim yang kondusif yang memungkinkan interaksi antar manusia bisa dikembangkan dengan lebih baik. Realitas dunia yang acap diramaikan oleh konflik bukan saja merindukan ungkapan bijaksana, diksi dan kosa kata yang penuh simpati dan empati, tetapi juga membutuhkan orang-orang bijaksana, memerlukan “the wise man”. Orang-orang bijaksana itu biasanya memiliki referensi tekstual yang amat luas dan komprehensif baik dari perspektif agama maupun lokal wisdom, tradisi budaya dan kekayaan kultural spritual lainnya.

 

Selalu saja muncul pertanyaan tentang siapa yang layak disebut “orang bijaksana”; apa ukurannya, apakah pada fisiknya atau pada pemikiran atau sikap yang merefleksikan tentang apa yang disebut bijaksana itu. Ada pepatah yang agak menyindir sosok orang bijak. “Barbae tenus sapientes”, tanda bijak hanya sampai adanya janggut! Pepatah ini ingin menegaskan bahwa kebijaksanaan itu tak boleh hanya nampak luar. Kebijaksanaan itu mesti terwujud tidak hanya pada yang fisik, tetapi pada sikap dan pemikiran.

 

Kebijaksanaan, “wisdom” sesungguhnya di anugerahkan Allah kepada manusia. Dalam Alkitab, kitab suci umat kristiani, diceritakan bahwa Salomo dalam doa permohonannya kepada Tuhan, ia memohon “wisdom” dari Allah; ia mohon dinugerahkan kemampuan untuk menimbang perkara. Salomo tidak meminta kekayaan atau jabatan, seperti yang biasa dimohon kepada Allah. Dan kemudian Allah mengabulkan permohonan Salomo; Salomo mempraktikkan wisdom anugerah Allah itu dalam tugas pelayanannya dengan efektif dan sukses.

 

Salomo memang piawai, ia tidak memohon sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal fisik material : harta kekayaan, jabatan dsb, tetapi memohon sesuatu yang lebih strategis, yang berada diatas hal-hal fisik material yaitu wisdom, dengan bahasa Salomo zaman itu “hati yang faham menimbang perkara”. Wisdom tidak “setara” dengan harta, jabatan, aset atau apapun. Wisdom adalah sikap yang *wise* yang mampu memberi terobosan ditengah kebuntuan yang acap melilit dan membelenggu kehidupan.

 

Wisdom tidak hanya dibutuhkan dalam sebuah diplomasi internasional untuk mengatasi konflik dan bahkan perang; wisdom dibutuhkan di parlemen, di kantor pemerintah dan swasta, di kantor RT RW, di kantor KPU, Bawaslu, di kantor lembaga keagamaan, di sekolah dan dirumah untuk mengatasi anak cucu zaman “Now” yang kecanduan gadget.

 

Seorang Harold Macmillan mempraktikkan wisdom yang cukup berhasil di zamannya. Pada saat Perang Dunia II Macmillan yang adalah Menteri Kependudukan Inggris sedang berada di Aljazair. Ada perselisihan antara perwira Inggris dan Amerika yang terjadi di ruang makan. Masalahnya sebenarnya sederhana. Orang-orang Amerika menginginkan minuman dihidangkan sebelum makan sedangkan orang Inggris menginginkan yang sebaliknya. Apa yang dilakukan Macmillan untuk mengatasi konflik itu? Lalu Macmillan beraksi. “Jika begitu sejak saat ini kita semua akan minum sebelum makan bagi orang Amerika; dan kita semua akan minum setelah makan bagi orang-orang Inggris!”. Maka perselisihan yang berkaitan dengan tata urutan makan-minum itu bisa selesai dengan baik.

 

Sebagai bangsa dan negara yang warganya beragama, kita memiliki begitu banyak wisdom. Wisdom itu mengacu kepada ajaran agama, tradisi kultural, dan local wisdom yang nemang sudah lama hidup dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Hanya saja wisdom itu belum optimal didayagunakan dalam kehidupan kita secara praktis. Sikap yang emosional dan sensitif yang acap mengendalikan pemikiran kita yang kemudian mewujud dalam sikap. Seringkali aspek-aspek itu lebih dipertajam lagi dengan unsur-unsur Sara, sehingga kesemuanya mendorong meledaknya konflik.

 

Apa yang diungkap Epictetus tentang orang bijaksana cukup menarik. Orang bijak dalam pikiran Epictetus adalah orang yang memberi ruang bagi pengembangan sikap ugahari, yang tidak “ngoyo” mengejar harta apalagi dengan cara menipu atau melawan hukum. Orang bijak bersyukur dengan apa yang sudah ia miliki, tidak complain atau meratap. Dalam dunia yang kita hidupi sekarang ini, sikap bijak, *wise* harus makin kita kedepankan. Sebuah dunia yang ramah, aman, sejuk, adil, damai, berkeadaban akan bisa mewujud di dunia nyata, andai ungkapan kata, sikap, pemikiran dan perbuatan kita dikuasai oleh wisdom.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here