Pdt. Weinata Sairin: Mewujudnyatakan Hakikat Manusia Sebagai Makhluk Sosial

0
3331

“Where ignorance is our master, there is no possibility of real peace” (Dalai Lama)

 

Manusia acap dijuluki “makhluk sosial”, homo socius. Ia tidak didesain untuk hidup sendiri dan menyendiri. Bahwa kemudian dalam realitas empirik oleh berbagai faktor : teologis, sosiologis, pribadi, seseorang memutuskan untuk hidup sendiri, itu soal yang lain dan tetap mesti kita hormati. Sesudah Allah menciptakan Adam, manusia pertama, seorang laki-laki, maka dinyatakan bahwa tidak baik bahwa manusia itu sendiri saja. Maka Allah menjadikan seorang “penolong’  bernama Hawa, seorang perempuan; dan Hawa menjadi penolong yang sepadan, pendamping Adam dalam mengelola bumi ciptaan Allah.

 

Alkitab, kitab suci umat kristiani menjelaskan dengan spesifik bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Dalam literatur Islam disebutkan bahwa Siti Hawa (=Ibu Umat Manusia, *Ummul Basyar*) diciptakan dari diri Adam, walaupun sebagian ahli ada juga yang menyebutkan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Bagaimanapun baik Kristen maupun Islam menegaskan bahwa Hawa diciptakan dari diri yang satu yaitu Adam. Dwi tunggal dan dualitas ini menjadi amat penting dalam konteks percakapan tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam membangun kehidupan yang lebih bermakna di masa depan.

 

Manusia disebut “manusia” karena ia hidup dalam relasi dengan manusia lainnya. Jika manusia hidup sendiri ditengah hutan belantara, tidak dalam relasi dengan manusia lainnya, bisa terjadi ia tidak lagi disebut dan atau dimaknai sebagai manusia!

 

Aspek spesifik dari makhluk yang disebut manusia bukan saja ia dianugerahi akal budi, pikiran, kecerdasan, sense of history, sense of love, dan sebagainya dan sebagainya, tetapi yang amat jelas adalah bahwa manusia memiliki *peri kemanusiaan*, dan mempunyai “sentuhan kemanusiaan”. Itulah yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lainnya. Dalam berinteraksi dengan manusia lain dengan keragaman dan kebhinnekaan latar belakang, peran “sentuhan kemanusiaan” menjadi amat penting. Ketiadaan sentuhan kemanusiaan dalam proses-proses berinteraksi hanya mendegradasi manusia menjadi makhluk ‘robotic’.

 

Sentuhan kemanusiaan memberi roh kepada setiap manusia, sehingga hakikatnya sebagai manusia mewujud-nyata dan bisa disaksikan banyak orang. Sentuhan kemanusiaan bisa nemberi nafas dan energi bagi sebuah kekuasaan. Adalah Pangeran Wales yang sesudah Perang Dunia I mengunjungi sebuah rumah sakit yang khusus merawat veteran yang luka-lukanya tak ada harapan untuk bisa disembuhkan. Ia sempat berdialog dengan para pasien yang tubuhnya terluka. Ketika Pangeran ditunjukkan pintu keluar ia berkata “Aku tahu ada 36 pasien disini, tapi aku hanya melihat 29 orang”. Seorang perawat menyatakan bahwa ada pasien yang menderita luka yang sangat mengerikan untuk dilihat Pangeran. “Apakah ini untuk kepentinganku atau mereka sehingga aku tak boleh kesana melihatnya?” “Untukmu Tuan!” Oleh karena itu aku memaksamu untuk menunjukkannya kepadaku. Pangeran kemudian berhenti ditempat itu dan mengucapkan terimakasih untuk semua pengurbanan mereka.

 

Sekali lagi ia berpaling kearah penunjuk jalan dan bertanya. “Dimana pasien yang ke-7?” Perawat itu menjawab “Jangan memintaku untuk menunjukkan padamu Tuan.” Pangeran tetap memaksa untuk melihat ruangan yang ia inginkan. Ia kemudian diajak ke ruang yang gelap. Disana ia melihat seonggok sisa tubuh manusia yang “buta” , terpotong-potong dan “cacat” dan sangat mengerikan. Wajah Pangeran tiba-tiba berubah menjadi pucat pasi, bibirnya terkatup rapat, air matanya menetes membasahi pipinya. Ia membungkuk dan mencium pipi sang pahlawan yang terluka itu.

 

Dalam dunia yang berangkat garang, keras, sangar dengan banyak orang di era digital yang cenderung makin “robotic” maka sentuhan kemanusian, human touch, menjadi sesuatu yang amat bermakna. Pola-pola pendekatan yang dilakukan oleh petinggi negeri selama ini, yang sering non-protokoler, out of the box, agaknya telah berada pada posisi mengedepankan ‘sentuhan kemanusiaan’. Sentuhan kemanusiaan berada diatas segalanya, diatas kecanggihan IT, sebab pada titik interaksi kemanusiaan itu, pada posisi sentuhan kemanusiaan itu diwujudkan, disitulah “homo socius” mendapatkan maknanya yang hakiki.

 

Sentuhan kemanusiaan, berarti juga menyediakan diri untuk menyaksikan kondisi riil sang manusia, manusia ‘in his real world’ seperti yang diteladankan oleh Sang Pangeran dalam kisah diatas. Manusia sejati yang bergumul dengan derita mendera, manusia tanpa kosmetik, manusia tanpa “casting” adalah manusia sejati yang menghidupi sebuah dunia yang lain, yang tersisih dan termarginalisasi dari era digital.

 

Dalai Lama, benar tatkala ia mengingatkan bahwa jika sikap “ignoran” menjadi sesuatu yang kita kedepankan maka tidak mungkin ada perdamaian sejati. Manusia sebagai mahkluk sosial tidak boleh ignoran, tak peduli, tak mau tahu, tak mau ikutan. Manusia harus peduli, harus cari tahu; harus melakukan sesuatu agar dunia menjadi lebih ramah dan manusiawi.

 

Agama-agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa telah sangat jelas mengajarkan bahwa diantara sesama umat manusia kita harus saling mengasihi, peduli, saling tolong-menolong dan saling respek. Kita mengasihi sesama karena ia adalah “manusia” bukan karena ia sekampung, semarga, seiman, separtai, sekampus, sekantor, sesuku, dan sebagainya. Kita mengasihi tanpa syarat. Kita mengasihi karena kita diamanatkan oleh agama, harus mengasihi dan peduli. Mari kita mengasihi dan peduli kepada setiap orang, mulai dari lingkungan terdekat. Tak ada pilihan lain!

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin*.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here