Pdt. Weinata Sairin: “The hardest part of gaining any new idea is sweeping out the false idea occupying that niche”  (Robert Heinlein)

0
328

 

 

Salah satu kekuatan manusia yang merupakan identitasnya adalah ‘kemampuan berfikir’nya, kepiawaiannya dalam menciptakan gagasan, ide cerdas dan brilian yang kemudian ikut memajukan peradaban dunia. Pemikiran cerdas, dalil ilmiah yang teruji secara akademis, yang ada diberbagai bidang kehidupan telah mempermudah manusia sehingga sangat dibantu dalam mengarungi samudera kehidupan yang berat dan luas. Tak bisa kita bayangkan sebuah dunia tanpa telepon, listrik, radio, televisi, kendaraan bermotor, kapal laut, pesawat terbang, komputer, dan sebagainya, dan sebagainya. Manusia menjadi makin maju, hidup yang convenience dengan adanya penemuan baru dibidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Orang menyatakan sejak lebih kurang 20 tahun yang lalu bahwa dunia kita sudah mencapai tahap “come of age”. Segalanya sudah ada dan tersedia di dunia, manusia menikmatinya. Celakanya adalah munculnya pemikiran bahwa karena semua sudah ada di dunia, tidak diperlukan doa untuk minta ini itu.

 

Manusia yang maju adalah manusia yang bergerak, dinamik, mengalir dan berubah. Semuanya mengalir, kata Heraklitos. Manusia tidak boleh diam dan “stagnan”, walapun tidak gontai langkah itu, yang penting melangkah tidak diam dan berhenti.

 

Kekuatan berfikir manusia telah kita saksikan sejak awal. Dunia telah melahirkan sekian banyak filsuf, ahli ilmu pengetahuan, penyair, novelis, para ahli diberbagai bidang yang merumuskan ide, gagasan, dalil yang kemudian melahirkan beragam benda dan digunakan oleh umat manusia. Tidak begitu mudah menyusun gagasan, menyakinkan banyak orang tentang sebuah gagasan hingga pada akhirnya gagasan itu bisa digunakan untuk kemaslahatan umat.

 

Pemikiran seorang penyair misalnya melalui ungkapan, bahasa simbol, metafora, acap menghadirkan suasana yang khas, dan asosiatif yang jauh dari nuansa vulgar andai gagasan itu tidak dituangkan dalam bentuk puisi. Dalam puisi penyair muda Joko Pinurbo berjudul “Doa Mempelai” kita menikmati nuansa yang spesifik :

Baca juga  YESUS TETAP SETIA 

 

“Malam ini aku akan berangkat mengarungimu/

Perjalanan mungkin akan panjang berliku/

dan nasib baik tidak selalu menghampiriku/

tapi insya allah suatu saat bisa kutemukan/

sebuah kiblat di ufuk barat tubuhmu.”

 

Dalam bidang seni, termasuk seni sastra, aspek-aspek estetika mendapat tempat dan ruang yang sangat memadai. Aspek estetika memberikan sentuhan yang penting bagi kehidupan umat manusia. Dengan sentuhan itu hidup terasa lebih bergairah, tidak kering dan kaku.

 

Pemikiran-pemikiran dibidang keagamaan tentu saja amat banyak yang lahir dari tokoh-tokoh agama untuk memandu umat agar dapat mengimplementasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan konkret. Tentu saja pemikiran tersebut mesti dikaji dengan baik agar kontennya tetap mengacu kepada ajaran agama yang standar sehingga tidak menimbulkan persoalan dalam lingkup internal masing-masing agama.

 

Pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini mengingatkan kita bahwa hal tersulit dalam memunculkan gagasan baru adalah adanya ide lama yang sudah mengakar. Oleh karena itu sebuah gagasan baru harus memiliki dasar filosofi yang jelas dan argumentatif, visi dan misinya jelas, perlu di sosalisasikan dengan baik terlebih dahulu, gagasan itu memiliki makna bagi komunitas.

 

Mari merumuskan gagasan baru yang cerdas bernas bagi komunitas dan bagi penguatan NKRI.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here