Yesus Menyembuhkan Orang Pada Hari Sabat

0
1963

Oleh: Pdt. Andreas Loanka

 

BGA dari Markus 3:1-6

 

Yesus masuk ke rumah ibadat pada hari Sabat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya (Mrk. 3:1). Apakah peristiwa ini merupakan suatu kebetulan?  Tentu saja tidak! Di hadapan Tuhan tidak ada suatupun yang terjadi secara kebetulan. Ia mempunyai rencana yang indah bagi orang itu dan juga orang-orang lain yang ada di situ. Ia hendak melakukan suatu yang baik bagi orang itu dan orang-orang disekitarnya untuk kemuliaan Bapa di Surga.

 

Rupanya orang-orang Farisi, yang sebelumnya mengajukan protes kepada Tuhan Yesus berkenaan dengan murid-murid-Nya yang memetik gandum pada hari Sabat (Mrk. 2:24), juga mengikuti-Nya sampai ke rumah ibadat. Mereka mengikuti Yesus bukan untuk menjadi murid-Nya. Mereka memperhatikan-Nya bukan karena mereka mengasihi-Nya. Mereka mendengarkan-Nya bukan karena mereka mau mentaati-Nya. Mereka mau mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang mati sebelah tangan itu pada hari Sabat, dengan tujuan agar mereka dapat mempersalahkan Dia (Mrk. 3:2).

 

Ia memanggil orang yang mati sebelah tangan itu untuk datang kepada-Nya. Ia berkata, “Mari!” (Mrk. 3:3a). Ia tidak membiarkan orang itu terus-menerus terjerat dalam situasi dan kondisinya yang memprihatinkan.  Ia bertindak proaktif memanggil orang itu untuk datang kepada-Nya.  Tuhan Yesus memintanya untuk berdiri di tengah (Mrk. 3:3b).  Mengapa di tengah? Karena kepada dan melalui orang itu Ia hendak melakukan tiga hal, yaitu: 1. Untuk mentransformasi dirinya, baik jasmani maupun rohani; 2. Untuk mengajar orang banyak tentang makna hari Sabat; 3. Untuk menyakatan kepada semua orang siapa diri-Nya.

 

Kemudian Tuhan Yesus berkata kepada orang-orang Farisi, “Mana yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa atau membunuh orang?” (Mrk. 3:4a).  Orang-orang Farisi itu tentu tahu dengan pasti apa jawabannya, yaitu: “Berbuat baik. Menyelamatkan nyawa.”   Tetapi mereka itu diam saja (Mrk. 3:4b).  Mengapa? Karena kekerasan hati mereka!  Jawaban itu tidak sesuai dengan harapan dan tujuan mereka untuk mempersalahkan Dia.

Baca juga  BERIMAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH

 

Tuhan Yesus berdukacita karena kedegilan hati mereka (Mrk. 3:5a). Mereka mengeraskan hati sehingga tidak dapat menerima kebenaran dan tidak sensitif terhadap realita yang ada di depan mata.   Tuhan Yesus pun marah (Mrk. 3:5b). Mengapa Ia marah! Karena mereka diam; karena kedegilan yang telah menutup pintu hati mereka; dan karena ketidakpekaan mereka terhadap kebutuhan orang lain yang perlu pertolongan.   Apakah boleh marah?  Boleh marah untuk alasan benar dan pada waktu yang tepat.  Selain itu, penting juga diperhatikan bagaimana mengekspresikan kemarahan itu. Tuhan Yesus berdukacita dan marah dalam waktu yang bersamaan, tetapi hal itu diekspresikan-Nya dengan melakukan sesuatu yang baik.

 

Ia berkata kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: “Ulurkan tanganmu!” (Mrk. 3:5c).  Dan Ia mengulurkan tangannya, maka sembuhlah tangannya itu (Mrk. 3:5d).  Dengan menyembuhkan orang itu Ia menunjukkan kepada orang banyak bahwa Ia lebih mengasihi dan mempedulikan manusia lebih dari hari Sabat dan Dia adalah Tuhan atas hari Sabat (bd. Mrk. 2:27).

 

Tuhan Yesus menghendaki  adanya pembaruan dalam cara berpikir, hati dan perbuatan.  Jangan terlalu legalistik dan tidak  memiliki hati yang peka terhadap kebutuhan sesama.  Ingatlah inti dari perintah Tuhan: “Kasihilah Tuhan,  Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” dan “kasihilan sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mrk. 12:30,31).

 

Salam dan doa,

Pdt. Andreas Loanka

GKI Gading Serpong

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here