Pdt. Weinata Sairin: “Merenda Akhir Hidup yang Pantas dan Elegan”

0
488

“Ille quidem dignum virtutibus suis vitae terminum. Dia mengakihiri hidupnya dengan kehidupan yang pantas”.

 

Hidup manusia adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Dialah Pemberi hidup bagi manusia, Dia juga yang berkuasa atas hidup manusia. Dia yang mengembuskan nafas kehidupan, Dia juga yang mengakhirinya. Alat medik yang canggih dan tenaga medik yang berkualifikasi tinggi adalah instrumen dan pribadi-pribadi yang dilibatkan Tuhan dalam menghidupkan manusia. Manusia mensyukuri anugerah Allah itu dalam berbagai wujud, doa, pujian, sikap dan perilaku yang dipenuhi nilai luhur dalam seluruh kehidupannya.

 

Hidup manusia selalu berada dalam tekanan, tension, dualisme. Konon ada kekuatan yang selalu bertarung dalam kedirian manusia, yaitu yang sering disebut “kuasa gelap” dan “kuasa terang”. Kuasa gelap dianggap merepresentasikan kuasa jahat yang menggoda manusia untuk melakukan berbagai kejahatan; dan kuasa terang adalah suara-suara yang mengajak manusia melakukan hal-hal positif. Pertarungan itu akan selalu terjadi dan kemampuan manusia dalam memenangkan pertarungan itu akan banyak tergantung dari kepribadian seseorang dan kualitas spiritual yang dimilikinya. Kepribadian yang kuat, dewasa dan mandiri akan membuat manusia lebih kuat dan siap dalam menghadapi tantangan diruang-ruang kehidupannya.

 

Dalam.pengalaman empirik kita bertemu dengan kenyataan bahwa ternyata ada orang yang labil, yang pada awalnya ia sangat baik namun.pada masa tuanya ia terlibat pada hal-hal yang dianggap negatif. Seseorang harus memiliki jiwa besar, sikap yang mau berkurban selain kepribadian yang tangguh.

 

Kebesaran jiwa perlu agar seseorang bisa “legowo” menghadapi berbagai dinamika dan perkembangan yang terjadi dalam hidupnya. Orang yang memiliki jiwa besar, lapang dada biasanya lebih akomodatf dalam kehidupannya.

 

Pada tahun 1925 George Bernard Shaw menerima hadiah Nobel. Ia menerima penghargaan itu tetapi tidak menikmati uang  yang diberikan sebagai hadiah kepadanya. Ia berharap uang itu dibagikan kepada seluruh penulis Swedia yang miskin.

 

Orang yang berjiwa bessr tidak egoistis, berkat dan rezeki yang ia terima dengan sukacita membagikannya lagi kepada orang lain yang memang membutuhkan dan perlu ditolong. Menginivestasi budi baik dan kebajikan adalah bagian dari karakter seorang yg berjiwa besar.

 

Descartes pernah ditanya mengapa ia tidak membalas orang-orang yang telah menyakiti hatinya. Sang Filsuf menjawab : “Ketika seseorang menyakitiku, aku naikkan semangatku ketempat yang lebih tinggi agar serangan yang menyakitkan semacam itu tidak bisa menyentuh!”. Ada banyak cara untuk menampilkan sebuah tindakan yang diwarnai kebesaran jiwa. Dan realitas itu amat berharga untuk melihat karakter seseorang.

 

Pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini mengingatkan bahwa kita harus mengakhiri kehidupan ini dengan _kehidupan yang pantas_! Keyword yang sangat penting disini adalah *kehidupan yang pantas*. Apa yang dimaksud kehidupan yang pantas, apa parameternya, standarnya, indikatornya. Agaknya tidak terlalu diperlukan Seminar, Talkshow, FGD, Panel Diskusi untuk menemukan makna aktual “kehidupan yang pantas”.

 

Sebagai umat beragama kita semua berjuang keras agar seluruh episode kehidupan kita diwarnai oleh kebaikan, kebajikan, amal saleh, cinta kasih, sayang menyayangi. Sebagai manusia fana yang lemah kita sadar ada babak-babak sejarah kehidupan kita yang hitam, yang dikuasai “ruh kegelapan”. Kita jatuh, kita bangkit lagi dan terus berjalan terhuyung-huyung; kita melakukan tobat _nasuha_, kita lakukan _metanoia_, berbalik arah, sebagai anak yang hilang kita datang kembali kepada Allah dengan tubuh dan kedirian yang baru!

 

Kita semua lakukan hal itu agar hidup kita berakhir dengan baik. Saudara-saudara kita yang Muslim tatkala ada sahabat yang meninggal salah satu doanya adalah “semoga husnul khotimah”, artinya, semoga ia meninggal disaat (dalam keadaan) yang terbaik. Dalam keadaan terbaik, artinya dalam iman yang teguh, dalam realitas hidup yang sesuai dengan perintah agama. Semua umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sudah pasti menginginkan setiap umatnya mengakhiri kehidupan dalam kondisi terbaik. Dalam kekristenan misalnya ada ayat Alkitab yang acap diperdengatkan pada saat ibadah pemakaman : “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman”. Ayat ini agaknya bisa dimaknai dari pespektif bahasa, memiliki nuansa yang hampir sama dengan ” husnul khatimah”.

 

Kita adalah manusia fana yang tengah menjalani sebuah perziarahan di tengah dunia yang gemuruh penuh gejolak. Tetap beriman teguh kepada Tuhan, melaksanakan perintahNya, taat kepada hukum. Kita harus mengakhiri kehidupan ini dengan pantas dan layak; seperti tausyiah Pak Kyai : dengan husnul khatimah.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin*.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here