Didikan dan Hajaran adalah Motivator untuk Hidup Lebih Baik            

0
1048

Oleh: P. Adriyanto

 

 

 

 

“Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”

*Ibrani 12: 5~6*

 

 

Selama hidup ini, Tuhan telah memakai 3 orang untuk menghajar dan mendidik saya, sehingga saya bisa menjadi manusia yang lebih baik.

 

# Orang pertama adalah orang Pakistan, guru bahasa Inggris saya di SMP Santo Yoseph.

Saya adalah murid terbodoh dalam bahasa Inggris. Setiap ulangan nilai saya cukup bergerak antara 3 – 5 saja dan dalam rapor selalu dapat nilai 4.

Pada suatu hari, dalam pelajaran bahasa Inggris, saya bergurau dan tertawa-tawa bersama teman sebangku saya. Konyolnya yang dipanggil ke depan kelas hanya saya. Pak guru Pakistan tersebut memaki saya habis-habisan, katanya, “Kamu sudah bodoh, macam-macam kelakuanmu ya!!

 

Sejak saat itu, setiap ada pelajaran bahasa Inggris, saya selalu dipanggil ke depan untuk menyelesaikan excersise. Kalau jawaban saya salah, saya dimarahi habis oleh pak guru tersebut. Karena setiap hari saya merasa di bully oleh guru sadis itu, maka saya sering bolos pada saat pelajarannya dengan bersembunyi di kantin penjaga sekolah sambil makan gorengan. Entah siapa yang melaporkan, saya dipanggil oleh Frater kepala sekolah dan diancam untuk dikeluarkan.

Waduh, tobat guru-guru lain nampak juga sinis kepada saya.

Akhirnya, saya bertekad untuk belajar bahasa Inggris mulai dari sore sampai malam. Tekad ini membawa hasil, saya tidak lagi dipanggil ke depan kelas, tapi bila ada murid lain yang salah. menjawab, saya selalu diminta  mengkoreksinya.

Alhasil mulai dari ujian akhir SMP sampai SMA, nilai bahasa Inggris saya 8 dan dalam transcript saya di Fakultas Ekonomi, nilai bahasa Inggris saya 10.

Saya sangat berterimakasih kepada pak guru tersebut, karena dalam karir saya, saya tidak pernah mengalami kesulitan berkomunikasi dengan para expatriate.

 

# Orang kedua adalah Dekan Fakultas Ekonomi, Universitas Brawijaya.

Sejak tingkat 1~4, saya jarang kuliah karena aktif dalam kegiatan berorganisasi di luar kampus. Walaupun ada peraturan tentang presensi/kehadiran dalam kuliah, saya bisa minta tolong  kepada teman saya yang menjadi ketua kelas untuk mengabsenkan saya.

Menginjak tingkat 5, ada Dekan baru yang katanya, orangnya galak dan sangat disiplin. Beliau melakukan berbagai perombakan kurikulum yang berorientasi pada manajemen Amerika, sistem semester dan juga penegakan kedisiplinan (mahasiswa yang terlambat dilarang masuk kelas, termasuk mahasiswa dilarang pakai sandal, minimal sepatu sandal) . Teman-teman saya mengatakan bahwa saya tidak bisa main-main lagi.

Saya mulai aktif kuliah terutama di mata kuliah yang beliau bina.

Wah pak Dekan ini, mengerikan sekali, dalam seminar Marketing, ada teman saya yang pendapatnya dinilai salah, langsung rokoknya dibanting ke lantai. Saya juga melihat ada dua orang dosen senior yang saling dorong meminta rekannya untuk masuk terlebih dahulu ke ruang dekan. Kejadian tersebut semakin meyakinkan saya bahwa saya tidak bisa main-main dengan pak Dekan ini.

Suatu hari saya dipanggil beliau, saya bertanya-tanya apa dosa saya. Ternyata beliau meminjami buku Marketing (hard cover, berwarna merah dan saya lupa judulnya). Beliau minta saya. mempelajari dua chapter dari buku tersebut. Saya mencoba menerjemahkannya dan awalnya untuk menerjemahkan satu alinea saja saya harus membuka kamus berpuluh-puluh kali. Inilah yang mendorong saya untuk mendalami kemampuan perbendahaan kata, sehingga pada akhirnya disamping jauh lebih cepat memahami buku-buku berbahasa Inggris, saya juga jarang membuka kamus. Pada saat beliau mengajar Financial Management, teman-teman juga was-was jangan sampai salah pemahaman. Kami membentuk study club yang awalnya hanya terdiri dari 5 orang, tapi lama kelamaan bertambah menjadi puluhan orang dimana saya ditunjuk sebagai mentor mereka.

Waduh, saya nggak tahu mimpi apa saya karena ketika saya mendaftar untuk penyiapan skripsi, dosen pembimbing saya  tak lain dan tak bukan adalah pak Dekan. Beberapa senior dan teman saya mengatakan selamat menjadi mahasiswa abadi, karena selama 4 tahun kan saya tidak aktif sebagai mahasiswa. Saya sampai berdoa minta ampun kepada Tuhan dan agar pak Dekan tidak mempersulit saya.

Puji Tuhan beliau ternyata seorang yang ramah dan punya jiwa mendidik, sehingga saya benar-benar merasa beliau memberi bimbingan yang sungguh-sungguh kepada saya.

Sekali lagi puji Tuhan, dalam ujian komprehensif untuk mempertahankan skripsi saya, saya dinyatakan lulus. Saya tidak tahu apa hasil penilaian terhadap saya, tapi saya adalah mahasiswa pertama selama bertahun-tahun yang berhasil lulus sekali ujian, padahal para senior saya ada yang sampai 7 kali lebih, belum juga lulus.

Beliau adalah juga atasan saya selama bertahun-tahun setelah saya lulus. Atas bimbingan beliau saya bisa meniti karir saya dengan sukses. Saya hanya bisa mengucap terimakasih kepada bapak. Robertus Suharno yang telah dipakai Tuhan untuk memberi makna hidup yang lebih baik bagi saya.

 

# Orang ketiga yang dipakai Tuhan adalah Sekretaris saya yang baru, Natalia Manurung.

Saya sudah sekitar 3-4 tahun tidak pernah beribadah di gereja dan tidak pernah berdoa.

Pada suatu hari Minggu, saya mengadakan rapat.

Di luar dugaan saya, Sekretaris saya berani mengingatkan saya dan mengatakan, “Pak, ini kan hari Minggu, kasihan banyak di antara para manajer, assisten manajer dan GM yang Kristen karena mereka tidak bisa ke gereja. Pada saat saya akan ke kamar kecil, dia mencegat saya dan mengajak saya untuk beribadah di gerejanya pada kebaktian ke tiga yang dimulai pada pk 13:00. Roh Kudus bekerja  dalam hati saya, dan memberi dorongan kuat agar saya memenuhi ajakan Sekretaris saya untuk beribadah. Pimpinan rapat saya serahkan kepada GM  dan saya ksmbali ke kantor setelah selesai bsribadah..

Keesokan harinya, sebelum mulai bekerja, menghadap lagi Sekretaris saya dengan membawa Alkitab dan mengajak saya berdoa. Sejak saat itu, Tuhan memulihkan iman saya di mana saya mulai rajin membaca Alkitab (yang seumur hudup belum pernah saya lakukan), saya mulai rajin beribadah dan berdoa.

 

Tuhan memakai berbagai cara untuk mendidik dan menghajar kita, sebagian dari kita dihajarnya melalui hukuman berupa penderitaan dan penyakit, dan sebagian dalam bentuk bencana dan kesusahan dan Tuhan juga bisa pakai orang lain untuk menyadarkan dan mendidik kita.

Kita harus berbahagia bila Allah peduli dan menghajar kita.

*”Sesungguhnya  berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan yang Mahakuasa.*

*Ayub 5:17*

 

Dengan didikan Tuhan, iman kita juga menjadi semakin dewasa.

*”Sebab barang siapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa. . . . “*

*Ibrani 5:13~14*

 

Tuhan adalah Bapa yang baik, sehingga Dia menghendaki kita hidup dalam kondisi yang lebih baik melalui didikan dan hajaran-hajaran-Nya.

Amin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here