Pdt. Weinata Sairin: Yang Muda yang Memakna

0
641

 

“Adeo in teneris consues cere multum est. Bila selagi masih muda membiasakan (dalam hal yang baik) hal itu akan bernilai tinggi”.

 

Kebiasaan, tradisi, sesuatu yang sudah biasa dilakukan oleh masing-masing orang tentu memiliki dampak positif baik bagi lingkungan internal, maupun bagi lingkungan eksternal, yaitu lingkungan yang lebih luas. Tentu saja hal itu terwujud jika kebiasaan yang dimaksud adalah kebiasaan yang baik, kebiasaan yang positif-konstruktif dan bukan kebiasaan yang negatif-destruktif. Tak bisa disangkal bahwa peranan orang tua amat besar dalam mendidik kita sejak kita kecil, yang memperkenalkan kita dengan perbuatan baik tidak saja melalui kata-kata/nasihat, tetapi juga disertai dengan contoh dan teladan yang sangat jelas. Sejatinya orang tua kita yang sejak awal dengan sabar dan tekun menerapkan proses _pembiasaan_ bagi kita. Proses itu yang biasa disebut *habituation* adalah proses pembntukan sikap dan perilaku yang relatif menetap dan bersifat otomatis melalui proses pembelajaran berulang-ulang. Proses ini dimulai dengan ‘peniruan’, pembiasaan dibawah bimbingan orang tua, guru sehingga peserta didik akan terbiasa. Jika sudah menjadi kebiasaan dan tertanam di dalam hati akan sulit diubah.

 

Hal paling menonjol dan signifikan dalam proses pembiasaan yang dilakukan ayah ibu pada masa-masa kecil adalah nilai _kejujuran_. Dalam banyak kesempatan orang tua kita selalu mengingatkan kita betapa pentingnya kejujuran itu, mulai dari hal yang kecil. Nilai kemanusiaan kita, kata ayah, akan menjadi rendah jika ternyata kita tidak jujur, kita berbohong. Orang tua tidak hanya mengajarkan tentang kejujuran, tetapi juga mencontohkannya kepada kita anaknya; bahkan sewaktu-waktu mengeceknya dan juga menguji tingkat kejujuran kita. Misalnya ayah bertanya: “apakah sudah berdoa sebelum tidur?” “Apakah sudah disampaikan titipan tadi kepada Pak Y?”. Orang tua bisa juga menguji kejujuran kita melalui hal-hal sederhana, misalnya “tadi ibu merebus telur 3 butir, ini tinggal 1 butir. Siapa yang sudah memakannya?”

 

Kejujuran adalah hal yang amat penting juga dalam konteks sesuatu yang dianggap ‘sakral’ dan ‘rohani’. Uskup Fulton Sheen tidak menggunakan catatan apapun tatkala ia sedang berkobtah. Mengapa hal itu dilakukannya? Ia berkisah pernah ada seorang perempuan Irlandia yang dengan jujur berkata kepadanya “bila tidak ingat tentang isi kotbah yang akan disampaikan itu bagaimana kami umat diminta untuk mengingatnya?” Sejak itu Sheen berusaha menghafal isi kotbahnya, apa pesan utamanya, sehingga matanya tidak lagi sibuk membaca teks kotbah, tetapi bisa menatap umat yang tengah mendengar kotbahnya itu! Memang membosankan dan sama sekali tidak membangun spirutualitas jika kotbah (di Gereja) tema dan aplikasinya out of date, cara pembawaannya monoton tanpa intonasi, pengkotbah hanya sibuk membaca teks dan tidak mengarahkan pandangan kepada umat. Kejujuran perempuan Irlandia terhadap Sheen bagus sekali agar para pengkotbah mendapat feedback. Pembiasaan kejujuran pada bidang apapun sangat penting apalagi dibidang keuangan, ketidakjujuran untuk uang seribu rupiah pada masa kecil bisa membuahkan tindakan korupsi satu triliun dimasa dewasa dan menjadi pejabat!

 

Pembiasaan hal-hal positif sejak masa kecil memang mesti dilakukan oleh banyak pihak dan dalam perencanaan dan kesadaran tinggi. Para orang tua, guru Play Group, guru PAUD, guru TK dan semua guru disemua jenjang pendidikan, aktivis organisasi kemasyarakatan, lembaga agama, tokoh agama, semua orang wajib memberi perhatian lebih bagi proses pembiasaan hal positif bagi anak-anak kita. Pembiasaan hal-hal penting antara lain kejujuran, sikap menghormati, menghargai perbedaan, saling tolong menolong, mesti terus diagendakan dalam kehidupan kita.

 

Agama-agama memberi imperatif yang cukup jelas bagaimana anak-anak dibiasakan dan dididik hal-hal yang baik sehingga ia memiliki akhlak mulia ditengah zaman yang penuh godaan dan tantangan. Tidak mudah melaksanakan program itu oleh karena realitas dunia dengan percepatan IT sekarang ini justru menawarkan hal paradox dengan apa yang diharapkan dari orangtua/dunia pendidikan.

 

Pepatah kuno “alah bisa karena biasa” (alah, bukan Allah) menurut literatur maknanya adalah “perbuatan buruk menjadi tidak terasa lagi keburukannya bila telah biasa dilakukan(misalnya : dusta, judi, bohong dsb). Perbuatan baik jika sudah biasa dilakukan maka hal itu tidak lagi terasa, tidak menjadi beban dan dianggap memang sudah seharusnya seperti itu.

 

Pepatah kita mengingatkan bahwa jika selagi muda dibiasakan hal yang baik, hal itu tinggi nilainya. Selagi muda, bahkan sejak kecil mari tanamkan kebiasaan kepada anak kita untuk berkata dan bertindak baik, artinya jujur, santun, elegan, penuh hormat dan respek kepada orang lain. Jika itu bisa terwujud konsisten dan sinambung maka kita akan berhadapan dengan sebuah dunia yang sama sekali lain.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here