Sambutlah Sang Raja Damai

0
920

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

**Zakharia 9:9-10

(9) Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda. (10) Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi.

**Lukas 2:14

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

 

Yesus disebut dalam beberapa gelar, misalnya sebagai Anak Allah, Anak Manusia, Mesias, Guru, Penyelamat dan lain-lain. Gelar-gelar itu menggambarkan peran Yesus di tengah masyarakat.

Dalam rangka mempersiapkan diri menyongsong Hari Natal kita akan merenungkan gelar Yesus sebagai Raja Damai. Dua istilah dari gelar ini (yaitu ‘Raja’ dan ‘Damai’) merupakan cerminan suasana yang mewarnai kelahiran Yesus. Sesudah Yesus dilahirkan orang-orang Majus melihat bintang-Nya di Timur, lalu mereka bergerak mencari “Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu”. Juga, setelah para malaikat Tuhan memberi kabar kesukaan itu kepada gembala-gembala di padang dekat Betelehem, mereka memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Kata ‘Raja’ dan ‘damai sejahtera’menjadi isyarat penting kedatangan Yesus.

Untuk membimbing kita memahami gelar “Yesus sebagai Raja Damai”, maka sebaiknya kita melihat Zakharia 9:9-10: “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda. Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi.”

Baca juga  YESUS TETAP SETIA 

Zakharia 9:9-10 ini memperlihatkan kepada kita bagaimana umat Tuhan pada waktu itu menantikan datangnya seorang raja damai. Raja itu akan mengadakan damai sejahtera di antara umat-Nya sendiri. Sesuai konteks permasalahan pada waktu itu, Sang Raja Damai akan mempersatukan Efraim (Israel Utara) dan Yerusalem (Israel Selatan) yang selama ini berperang satu sama lain. Warga dari kedua kerajaan itu akan diperdamaikan kembali. Damai dari antara dua kerajaan itu akan menjadi berita dan kesaksian bagi bangsa-bangsa lain.

Dalam zaman Perjanjian Baru, harapan itu teprenuhi dalam diri Yesus Kristus. Pertama-tama Yesus mengadakan pendamaian di antara murid-murid-Nya terlebih dahulu. Contoh kecil adalah bagaimana Matius dan Simon dipertemukan sebagai saudara. Kita tahu, Matius adalah seorang pemungut cukai yang bekerja bagi orang-orang Romawi yang pada waktu itu menjajah Israel. Sedangkan Simon adalah orang Zelot, yakni kelompok orang-orang Yahudi yang melawan penjajah. Jika mereka tidakmenjadi murid Yesus, pastilah mereka akan saling membenci dan menyerang jika bertemu. Yesus mendamaikan mereka.

Lebih luas dari itu, setiap orang yang mau mengikuti-Nya selalu diajarkan tentang damai. Gereja-gereja pun demikian, dipanggil untuk hidup dalam damai. Dengan demikian semua orang Kristen harus mengingat bahwa Tuhan yang disembah-Nya adalah Raja Damai, bukan raja kerusuhan atau konflik. Bukan pula raja yang suka membenci. Dalam ayat 9 dikatakan bahwa Raja Damai itu adil, lemah lembut, dan mengendarai seekor keledai beban yang muda. Artinya, raja yang datang itu rendah hati. Keledai beban muda menyimbolkan sifat Yesus yang penuh damai. Dia tidak datang dengan mengendarai kuda perang, atau apapun yang lain yang menggambarkan kekerasan.

Yesus adalah Raja Damai. Kita harus menyambut dan menyembah-Nya sungguh-sungguh sebagai Raja Damai. Tak ada alasan bagi kita untuk tidak hidup dalam damai, walaupun situasi hidup tidak pernah lepas dari ancaman dan penganiayaan. Dalam segala segi tampaknya kita memang ditekan, tapi, yakinlah damai dari Allah tidak akan pernah dikalahkan oleh kebencian. Untuk itu kita harus meniru Tuhan kita yang penuh dengan kerendahan hati. Melalui sifat ini kita akan meniti jalan kemenangan sebagaimana telah ditujukkan oleh Yesus sendiri dalam hidup-Nya.

Baca juga  YESUS TETAP SETIA 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here